Trump Ngamuk ke Netanyahu Usai Israel Bunuh Komandan Hamas saat Gencatan Senjata
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam keras Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas pembunuhan seorang komandan militer Hamas terkemuka pada akhir pekan lalu.
Menurut Gedung Putih, tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Presiden Trump, demikian menurut dua pejabat AS kepada Axios.
Komandan hamas yang tewas adalah Raad Saad, bersama tiga orang lainnya pada Sabtu pekan lalu, setelah mobil yang mereka tumpangi menjadi sasaran serangan di dekat Alun-alun al-Nabulsi, Gaza City bagian barat, menurut laporan media Israel.
Saad diketahui merupakan anggota senior Brigade al-Qassam, sayap bersenjata Hamas. Reuters melaporkan, ia disebut sebagai tokoh nomor dua setelah kepala militer Hamas saat ini, Izz al-Din al-Haddad.
VIVA Militer: Pasukan Hamas Palestina
Pesan Gedung Putih kepada Israel ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara pemerintahan Trump dan pemerintahan Netanyahu seputar fase selanjutnya dari perjanjian untuk mengakhiri perang di Gaza dan mengenai kebijakan regional Israel yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, dan penasihat sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, telah sangat frustrasi dengan Netanyahu, menurut kedua pejabat AS tersebut.
Netanyahu diperkirakan akan bertemu Trump di Mar-a-Lago pada 29 Desember.
Trump mengatakan pada hari Senin bahwa AS "sedang menyelidiki" apakah Israel melanggar gencatan senjata Gaza, tetapi pada saat yang sama menekankan bahwa hubungannya dengan Netanyahu baik.
Para pejabat AS mengatakan pemerintah Israel tidak memberi tahu atau berkonsultasi dengan AS sebelum serangan tersebut.
"Jika Anda ingin merusak reputasi Anda dan menunjukkan bahwa Anda tidak mematuhi perjanjian, silakan saja, tetapi kami tidak akan membiarkan Anda merusak reputasi Presiden Trump setelah ia menengahi kesepakatan di Gaza," kata seorang pejabat senior AS mengutip pesan keras Gedung Putih kepada Netanyahu
Seorang pejabat Israel mengkonfirmasi bahwa Gedung Putih tidak senang tetapi mengklaim pesannya lebih ringan — bahwa "negara-negara Arab tertentu" menganggapnya sebagai pelanggaran gencatan senjata. Menurut para pejabat AS, Gedung Putih dengan tegas menyatakan bahwa Israel telah melanggar gencatan senjata.
Sementara itu, pemerintah Israel mengatakan kepada pemerintahan Trump bahwa Hamas-lah yang melanggar perjanjian dengan menyerang tentara dan melanjutkan penyelundupan senjata, menurut pejabat Israel tersebut.
"Pembunuhan Raed Saad, seorang teroris kelas kakap yang bekerja siang dan malam untuk melanggar perjanjian dan memperbarui pertempuran, dilakukan sebagai tanggapan atas pelanggaran ini dan dimaksudkan untuk memastikan kelanjutan gencatan senjata," kata pejabat Israel tersebut.
Gencatan senjata di Gaza yang ditandatangani pada 10 Oktober dengan jaminan Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat dinilai rapuh. Pihak Gaza menuding Israel telah berulang kali melanggarnya.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut sedikitnya 350 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan, dengan total 738 dugaan pelanggaran.
Israel juga dilaporkan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan dan pasokan medis ke Gaza serta mencegah pembukaan kembali penyeberangan Rafah ke Mesir.
Pemerintahan Trump selama ini cenderung tidak banyak berkomentar secara terbuka mengenai dugaan pelanggaran tersebut. Namun, pembunuhan Raad Saad dinilai berpotensi mempersulit upaya Washington untuk mempertahankan dan memperluas gencatan senjata.
Saat ditanya mengenai hubungannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump membantah adanya ketegangan.
"Israel dan saya telah bergaul dengan sangat baik. Hubungan saya dengan Bibi Netanyahu jelas sangat baik," ujar Trump di Gedung Putih.