Banjir Jakarta Telan Dua Korban Jiwa, Pemprov DKI Dikritik Lamban Tangani Bencana Berulang

Jakarta, Banjir Jakarta Telan Dua Korban Jiwa, Pemprov DKI Dikritik Lamban Tangani Bencana Berulang

Banjir Jakarta di awal 2016 ini cukup parah, merendam banyak permukiman dan ruas jalan, juga menelan dua korban jiwa.

Dua korban jiwa dalam banjir Jakarta ini adalah seorang remaja, RP (18), yang terseret arus di Cakung.

Korban kedua adalah seorang pengemudi, Rohim (51), yang meninggal di dalam mobil saat terjebak banjir di Latumeten. 

Parahnya banjir dan jatuhnya dua korban jiwa, membuat banyak pihak mengkritik mengkritik kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dinilai lamban dan minim mitigasi dalam menghadapi bencana berulang di ibu kota.

Kronologi meninggalnya RP dan Rohim

Pada Minggu (18/1/2026), RP ditemukan meninggal dunia setelah diduga terseret arus banjir di sisi kolong Jembatan Kirana Tol JORR, Kelurahan Cakung Barat, Jakarta Timur.

“Korban inisial RP (18) beralamat RT 09/08 Kelurahan Cakung. Ditemukan 18 Januari 2026 sore di Kali Cilincing, Jakarta Utara oleh petugas gabungan,” ujar Kapolsek Cakung, Kompol Widodo Saputro.

Widodo menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, korban sempat terlihat di pinggir kali yang sedang banjir sebelum akhirnya hilang.

“Saat banjir menggenangi lokasi sisi kolong jembatan tol Kirana Rorotan, korban terlihat oleh saksi, korban terjatuh dan tenggelam,” ujarnya.

Sedangkan diberitakan KompasTV, Rohim yang tengah mengemudikan mobil di Jalan Latumeten pada Kamis (22/1/2026) ditemukan meninggal dunia di dalam kendaraannya di tengah kemacetan akibat banjir.

Rohim yang mengemudikan Sigra berwarna silver yang terjebak kemacetan di Jalan Latumeten, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, ditemukan oleh petugas dalam kondisi tidak bernyawa.

Rohim diketahui merupakan warga Penjaringan, Jakarta Utara, dan diduga mengalami serangan jantung saat berkendara.

Awalnya, polisi lalu lintas dari Polsek Grogol Petamburan mengira mobil tersebut mengalami mati mesin di jalan yang tergenang banjir.

“Saya buka, ternyata sudah meninggal di dalam kendaraan,” ujar Kanit Lantas Grogol Petamburan, AKP Arif Rahman Hakim.

Untuk kepentingan otopsi, jenazah korban dievakuasi ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta.

Kritik dari pengamat dan anggota dewan

Pengamat transportasi sekaligus Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, menyoroti banjir yang berulang di kawasan Jalan DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur.

“Daerah Jalan DI Panjaitan ini sudah menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Dalam musim hujan kali ini saja sudah terjadi tiga kali banjir yang mengganggu arus lalu lintas dan menyebabkan kemacetan,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).

Menurutnya, genangan air tidak hanya melumpuhkan kendaraan pribadi, tetapi juga transportasi umum.

“Situasi ini sangat merugikan masyarakat. Bukan hanya kendaraan pribadi, transportasi umum pun tidak bisa beroperasi karena tingginya genangan air,” katanya.

Ia menilai Pemprov DKI lamban dan minim sistem peringatan dini. Padahal, BMKG sudah jauh hari memberikan informasi terkini soal prediksi cuaca ekstrem.

"Seharusnya Pemprov DKI bisa menyesuaikan pelayanan dan melakukan mitigasi lebih awal,” tegasnya.

Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PSI, Kevin Wu, juga menyoroti korban jiwa akibat banjir yang terjadi di ibu kota.

“Terjadinya kematian terkait dengan banjir ini tidak boleh dibiarkan terus berlanjut. Pemprov DKI harus bisa melindungi nyawa penduduknya. Semoga ini jadi insiden terakhir, tidak boleh terulang ke depannya,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).

Kevin juga mengkritik pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang sebelumnya mengklaim banjir di Jakarta bisa surut dalam waktu 1,5 jam.

 “Pemprov DKI tidak perlu terlalu bangga dengan kemampuan menyurutkan air kalau ternyata masih ada korban yang berjatuhan. Yang lebih penting adalah keselamatan nyawa orang,” tegasnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang