Banjir di Kudus dan Pati: Dua Korban Jiwa, Mengungsi ke Gereja, dan Status Tanggap Darurat

Banjir, Kudus, Pati, Banjir di Kudus dan Pati: Dua Korban Jiwa, Mengungsi ke Gereja, dan Status Tanggap Darurat

Banjir besar melanda kawasan Kudus dan Pati, Jawa Tengah, semenjak Jumat (9/1/2026).

Banjir besar di Kudus bahkan sudah menelan dua korban jiwa.

Polisi mengimbau warga Kabupaten Kudus untuk tidak beraktivitas di sungai saat musim hujan seperti sekarang ini, mengingat sudah ada dua korban meninggal karena hanyut di sungai.

"Kami mengimbau agar tidak melakukan aktivitas di sungai, seperti main atau mandi, karena debit air sungai sewaktu-waktu bisa bertambah, mengingat sudah memasuki musim hujan," kata Kapolsek Bae Kepolisian Resor (Polres) Kudus Iptu Madiyono di Kudus, Senin, dilansir dari Antara.

Menurut Madiyono, korban bernama Angga Winata (27) hanyut ketika mandi bersama saudaranya pada Minggu (11/1/2026) pukul 15.00 WIB.

"Saudaranya dan temannya sudah naik, tetapi korban kembali ke sungai dan tiba-tiba air sungai meluap sehingga korban terseret arus," ujarnya.

Korban baru ditemukan pada pukul 20.00 WIB di aliran Sungai Pedawang.

Kemudian korban hanyut selanjutnya adalah Ismi Najiba Ulya (5) asal Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, yang ditemukan pada Senin (12/1/2026) pukul 10.00 WIB, pada jarak sekitar 700 meter ke arah selatan dari lokasi kejadian awal.

Adapun kronologis kejadian, berawal ketika korban bersama dua saudaranya bermain sepeda di genangan anak Sungai Perak pada Minggu pukul 17.00 WIB. Saat kejadian, korban membonceng kakaknya bernama Afifah.

Karena licin, korban bersama kakaknya terjatuh ke sungai dan terbawa arus hingga 100 meter.

Kedua kakak korban bisa diselamatkan oleh warga yang sedang berada tidak jauh dari lokasi kejadian, sedangkan korban baru ditemukan Senin di Sungai Perak di Desa Karangbener, Kecamatan Bae.

Macet sepanjang 4 km

Akibat banjir yang melanda Kudus dan Pati, arus lalu lintas di jalur Pantura Kudus-Pati sempat mengalami kemacetan parah sepanjang lebih dari 4 kilometer pada Senin (12/1/2026).

Kemacetan ini dipicu oleh banjir yang merendam ruas jalan nasional tersebut, tepatnya di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Dilansir dari , Senin, banjir akibat luapan Sungai Dawe setinggi kurang lebih 50 sentimeter mengakibatkan mobilitas kendaraan tersendat.

Banyak kendaraan roda dua dilaporkan mogok setelah nekat menerjang genangan, sementara kendaraan besar seperti bus dan truk terpaksa melaju sangat lambat.

Banyak pengendara yang mengeluhkan kemacetan panjang tersebut, terutama para sopir logistik.

Muhdor, salah seorang sopir truk yang melaju dari arah Pati, mengaku terjebak di tengah kemacetan selama berjam-jam.

"Saya dari pangkalan truk (Klaling Kudus) tadi sejak subuh. Macet parah," ujar Muhdor.

Banjir di wilayah Ngembalrejo sebenarnya sempat surut pada hari sebelumnya. Namun, tingginya intensitas hujan di wilayah hulu menyebabkan debit air Sungai Dawe kembali meningkat hingga melimpas ke badan jalan dan permukiman warga.

Tetapkan status tanggap darurat

Cuaca ekstrem yang melanda Kudus membuat pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat bencana mulai 12–19 Januari 2026.

Keputusan ini diambil setelah wilayah tersebut mengalami banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang yang menimbulkan korban jiwa.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan, langkah tanggap darurat ini bertujuan untuk mempercepat upaya penanganan serta pengamanan warga terdampak.

Dilansir dari , status ini resmi tertuang dalam SK Bupati Kudus Nomor 300.2.1/16/2026 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Angin Kencang, Banjir, dan Longsor Tahun 2026.

Melalui penetapan ini, seluruh perangkat daerah, TNI, Polri, relawan, hingga unsur masyarakat diminta bersinergi dalam penanganan bencana.

Pemerintah daerah memiliki keleluasaan untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya, termasuk percepatan penyediaan sarana dan prasarana serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak.

SK ini juga memungkinkan pemerintah desa mengalokasikan anggaran darurat mendesak sesuai kebutuhan melalui musyawarah desa.

Pemkab Kudus sendiri telah menyiapkan alokasi dana tidak terduga sebesar Rp 7,66 miliar pada 2026 yang dapat digunakan untuk penanganan berbagai bencana alam di wilayah tersebut.

Dana ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, mulai dari evakuasi, bantuan logistik, hingga perbaikan sarana yang terdampak bencana.

Pemerintah daerah terus memantau kondisi cuaca sekaligus mengimbau masyarakat untuk tetap siaga.

Mengungsi ke masjid dan gereja

Akibat banjir, sekitar 250 warga dari dua rukun warga (RW) di Kelurahan Kalidoro, Kecamatan/Kabupaten Pati, terpaksa mengungsi ke Masjid Jami’ Rohmanti An-Nur, Kalidoro.

Warga yang mengungsi mayoritas merupakan kelompok rentan, antara lain warga lanjut usia (lansia).

Sekretaris Kelurahan Kalidoro, Agung Gumelar menjelaskan, evakuasi warga telah dilakukan sejak banjir pertama terjadi pada Jumat (9/1/2026) malam.

“Sejak Jumat malam, kami sudah mulai mengevakuasi warga. Sekitar pukul 22.00 kami mengevakuasi dua orang lansia langsung dari rumahnya. Saat itu air sudah setinggi perut orang dewasa,” jelas Agung, Senin (12/1/2026).

Agung memaparkan, genangan banjir membuat saluran drainase dan jalan sulit dibedakan. Kondisi ini membahayakan warga.

“Kami tidak tahu mana drainase, mana jalan. Saya sendiri sempat tercebur ke selokan karena tidak kelihatan,” ucap Agung.

Dia menuturkan, hingga kini debit air masih terus meningkat sehingga warga masih bertahan di pengungsian.

"Ada obat-obatan, air minum, beras, dan susu. BPBD juga sudah mengirimkan bantuan logistik, antara lain mi instan dan air mineral,” papar dia.

Namun demikian, Agung menilai, warga masih membutuhkan bantuan, terutama makanan siap santap.  

“Yang sangat kami butuhkan saat ini adalah nasi bungkus. Karena ketinggian banjir bertambah, warga tidak bisa memasak. Kompor mereka terendam. Idealnya nasi bungkus tiga kali sehari untuk sekitar 200 sampai 250 orang,” ucap dia.

Sementara itu, korban banjir di Desa Semampir, Kecamatan/Kabupaten Pati mengungsi ke Gereja Bethel Indonesia (GBI) Duta Kristus Pati yang berlokasi di desa setempat.

Sedikitnya, 50 rumah di lingkungan gereja yang berlokasi di RT 03 RW 1, Desa Semampir, kebanjiran dengan ketinggian air yang bervariasi. 

Pengurus gereja, Edi Suyitno mengatakan, GBI Pati kini juga difungsikan sebagai posko pengungsian bagi warga sekitar yang terdampak banjir.

Sejak Minggu malam, beberapa warga mulai mengungsi dan menitipkan barang-barang mereka, seperti pakaian, di area gereja yang bangunannya lebih tinggi.

“Peninggian bangunan yang dilakukan beberapa tahun silam memang ditujukan agar gereja bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama saat terjadi bencana seperti sekarang ini,” kata Edi.

Menurut Edi, banjir kali pertama kali datang pada Jumat malam pukul 21.30. Banjir sempat surut, namun disusul gelombang kedua pada Minggu (11/1/2026) sore.

Hingga Senin, air setinggi 40-50 cm masih menggenang di halaman gereja serta area permukiman di sekitarnya.

Meskipun merendam jalan dan halaman, banjir hanya sampai ke teras, tidak sampai masuk ke dalam ruang utama gereja.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang