Kasus Bullying Mahasiswa Unud, Mungkinkah Orang Belajar Berempati di Usia Dewasa?

Beberapa mahasiswa Universitas Udayana, Bali, menjadi sorotan karena bersikap nirempati terhadap kasus kematian sesama mahasiswa berinisial TAS (22).
TAS tewas usai terjatuh dari lantai empat salah satu gedung kampus. Banyak warganet menyayangkan lelucon dan cemooh yang diucapkan oleh para mahasiswa tersebut.
Menilik usia mereka yang sudah tidak lagi anak-anak, mungkinkah orang belajar berempati di usia dewasa?
“Sebenarnya bisa saja, tapi mungkin enggak akan sebagus ketika empati sudah terbentuk sejak awal,” kata psikolog Clement Eko Prasetio, M.Psi. yang berpraktik di Indopsycare, saat dihubungi pada Senin (20/10/2025).
Belajar berempati saat sudah dewasa
Bisa dilakukan, tapi tidak begitu mudah
Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi. Dengan kata lain, otak mampu mengubah, mengatur ulang, atau mengembangkan jaringan saraf.
Neuroplastisitas memungkinkan sel saraf untuk berubah atau menyesuaikan diri. Ketika seseorang membuat pilihan atau melakukan tindakan tertentu, otak akan membuat jalur-jalur baru.
Bisa dikatakan bahwa bagaimana seseorang bersikap adalah kebiasaan yang terbentuk berdasarkan pilihan yang mereka buat setiap hari.
“Otak kita bisa terus berubah sepanjang kita hidup, tapi kecepatan berubahnya berbeda. Ketika masih remaja atau dewasa awal, perubahannya lebih cepat. Kalau ada sesuatu yang baru, akan lebih cepat masuk ke dalam otak,” terang Clement.
Namun, seiring bertambahnya usia, akan semakin sulit bagi seseorang untuk mempelajari hal baru karena otak sudah tidak “seelastis” itu.
Inilah mengapa belajar untuk berempati terhadap orang lain atau suatu situasi ketika kita sudah dewasa memang bisa dilakukan, tetapi tidak semudah ketika kita masih berusia muda.
Apa yang bisa dilakukan?
Melatih perspective-taking lewat buku fiksi
Perspective-taking adalah tindakan mengamati suatu situasi, atau memahami sebuah konsep, dari sudut pandang orang lain. Tindakan inilah yang membantu seseorang membangun empati.
Menurut Clement, orang yang sudah dewasa bisa belajar untuk lebih berempati dengan melatih perspective-taking.
“Bisa dengan bertanya ke orang, apa sih rasanya (tentang sesuatu), atau membaca buku fiksi. Misalnya novel sastra atau fantasi,” ujar dia.
Melalui buku fiksi, orang-orang bisa mempelajari emosi, perspektif, apa yang membentuk perspektif para tokoh, dan perilaku para tokoh utama yang bisa memengaruhi tokoh sampingan dalam buku tersebut.
“Pertanyaan-pertanyaan kayak begitu bisa melatih perspective-taking, makanya aku suka saranin untuk baca buku fiksi karena banyak muatan emosi,” tutur Clement.
Buku non-fiksi juga bisa membantu
Di sisi lain, buku non-fiksi pun sebenarnya bisa membantu dalam melatih perspective-taking terhadap hal-hal tertentu.
Untuk melatih empati terhadap orang-orang berkebutuhan khusus, misalnya, kamu bisa membaca buku-buku yang membahas hal tersebut.
“Misalnya baca buku tentang ADHD, kita jadi tahu orang ADHD seperti apa, kehidupannya, dan susahnya jadi orang ADHD,” kata Clement.
Belajar mendengarkan
Kemudian adalah belajar untuk aktif mendengarkan agar bisa lebih memahami perspektif orang lain, sekaligus memperluas perspektif kita terhadap suatu situasi atau orang lain.
Melakukan aktivitas sosial
Melakukan aktivitas sosial secara tulus juga bisa membantu orang dewasa untuk lebih berempati terhadap sesama.
Misalnya adalah mengikuti komunitas yang suka mengajar anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi, agar kebutuhan pendidikan mereka terpenuhi.
“Kenapa komunitas sosial? Harapannya adalah kita bisa bertemu dengan orang-orang yang benar-benar berbeda latar belakangnya. Kalau latar belakangnya persis dengan kita, ya kurang terlatih empatinya,” ucap Clement.
Welas asih
Selanjutnya adalah menerapkan banyak welas asih (compassion) agar lebih peka terhadap diri sendiri.
“Kita berbelas kasih ke diri sendiri, menghayati diri sendiri, bisa menerima emosi kita. Harapannya, kita bisa menerima emosi orang lain,” kata Clement.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.