Bank Besar AS Kompak Serok Bitcoin saat Investor Ritel Panik
Bank-bank besar Amerika Serikat (AS) terpantau memborong Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir. Aksi korporasi ini berbalik dengan perilaku investor ritel yang cenderung menjual aset emas digital akibat kepanikan di tengah tingginya volatilitas pasar kripto.
Pendiri Binance, Changpeng Zhao, menyoroti tren ini melalui unggahan di platform X. Menurutnya, momen ini dimanfaatkan oleh bank-bank besar AS akan meningkatkan eksposur terhadap Bitcoin saat investor ritel menjual asetnya.
“Ketika Anda panik menjual, bank-bank AS justru sibuk menambah kepemilikan Bitcoin,” tulis Zhao dikutip dari TipRanks pada Senin, 19 Januari 2026.
Bitcoin.
Dalam laporan kuartalan terbarunya, Wells Fargo mengungkapkan kepemilikan exchange-traded fund (ETF) Bitcoin senilai US$383 juta. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Eksposur tersebut diperoleh melalui iShares Bitcoin Trust milik BlackRock, yang memungkinkan bank mendapat paparan harga Bitcoin tanpa harus menyimpan aset kripto secara langsung.
Langkah agresif bank besar ini terjadi saat harga Bitcoin terkoreksi tajam. Aset emas digital mencapao titik tertinggi di atas level US$126.000 pada bulan Oktober 2025 lalu sempat merosot ke kisaran US$90.000.
Tekanan ini jelas memukul investor ritel. Crypto Fear and Greed Index anjlok ke level 10 pada November 2025 yang menandakan kondisi extreme fear di pasar.
Investor Institusi Ambil Peluang
Berbeda dengan investor ritel, pelaku pasar dari kalangan institusi justru memanfaatkan koreksi sebagai momentum akumulasi. Perusahaan milik Michale Saylor, Strategy, tercatat membeli 1.229 keping Bitcoin senilai US$108,8 juta dengan rata-rata harga pembelian berada di kisaran US$88.568 per pada akhir Desember 2025.
Tidak hanya dari kalangan korporasi, investor institusional lain juga ikut menambah eksposur. Harvard University dilaporkan meningkatkan kepemilikan Bitcoin sepanjang penurunan pasar musim panas lalu, dengan total nilai investasi mencapai sekitar US$443 juta.
Perbedaan pendekatan ini berakar pada horizon investasi. Institusi besar cenderung berpikir jangka panjang dan menghindari leverage berlebihan.
Sebaliknya, investor ritel mengandalkan dana pinjaman. Alhasil saat pasar bergejolak pada akhir November 2025, sekitar 396.000 akun ritel terlikuidasi dengan total kerugian mendekati US$2 miliar.
Permintaan ETF Bitcoin Tetap Solid
Meski pasar sempat diliputi ketakutan, permintaan institusional terhadap ETF Bitcoin tetap kuat. Sepanjang Desember 2025, ETF Bitcoin memang mencatat arus keluar sekitar US$1 miliar sementara ETF Bitcoin spot milik BlackRock membukukan arus masuk bersih lebih dari US$25 miliar secara tahunan,
Ke depan, analis memperkirakan tren ini berlanjut. Aset ETF Bitcoin global diproyeksikan mencapai US$180 miliar hingga US$220 miliar pada 2026.
Proyeki ini seiring meluasnya akses melalui lembaga keuangan besar seperti Bank of America (BoA) dan Vanguard. Kedua institusi ini diperkiakan sebagai investor institusional yang tetap aktif memborong Bitcoin bahkan di tengah tekanan harga.