Gedung Putih Sewot Trump Tak Dapat Nobel Perdamaian
Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menuduh Komite Nobel Norwegia mengutamakan "politik daripada perdamaian,", setelah panel tersebut tidak memilih Presiden Donald Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian 2025.
"Dia memiliki jiwa kemanusiaan, dan tidak akan pernah ada orang seperti dia yang dapat memindahkan gunung dengan kekuatan tekadnya," tulis Cheung dalam sebuah pernyataan di platform sosial X, merujuk pada Trump, dilansir The Hill, Jumat, 10 Oktober 2025.
"Komite Nobel membuktikan bahwa mereka mengutamakan politik daripada perdamaian," tambahnya.
Trump dan beberapa sekutunya telah berkampanye selama berminggu-minggu agar presiden memenangkan penghargaan bergengsi tersebut, dengan mengutip upayanya dalam menyelesaikan setidaknya tujuh konflik sejak kembali ke Gedung Putih pada bulan Januari.
Embed Twitter
Dia juga menerima dukungan dari beberapa negara lain termasuk Israel, Kamboja, dan Pakistan. Bahkan, Pemimpin Rusia dan Ukraina yang tengah berseteru juga turut memberikan dukungannya kepada Trump memenangkan Nobel tersebut, atas usahanya mendamaikan kedua negara.
Anggota DPR Anna Paulina Luna (R-Fla.) secara resmi menominasikan Presiden Trump pada hari Kamis,untuk hadiah tersebut atas upayanya untuk menengahi kesepakatan damai antara Israel dan Hamas.
Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana 20 poin bulan lalu untuk mengakhiri perang dua tahun di Gaza. Kedua belah pihak mengisyaratkan dukungan untuk tahap awal kesepakatan.
Komite Nobel telah mengumumkan bahwa Maria Corina Machado dari Venezuela adalah penerima penghargaan tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, komite tersebut menyatakan bahwa ia "bekerja tanpa lelah dalam mempromosikan hak-hak demokrasi bagi rakyat Venezuela dan atas perjuangannya untuk mencapai transisi yang adil dan damai dari kediktatoran menuju demokrasi."
Meskipun tidak terpilih, Cheung mengatakan Trump akan "terus membuat kesepakatan damai, mengakhiri perang, dan menyelamatkan nyawa."
Trump pada hari Kamis, mengabaikan pertanyaan tentang peluangnya untuk menerima penghargaan tersebut, meskipun ia mengatakan pada akhir bulan lalu bahwa akan menjadi "penghinaan" jika ia tidak menang.
"Mereka harus melakukan apa yang mereka lakukan," katanya tentang komite. "Apa pun yang mereka lakukan tidak masalah. Saya tahu ini, saya tidak melakukannya untuk itu (nobel Perdamaian). Saya melakukannya karena saya telah menyelamatkan banyak nyawa."
Ketua Komite Nobel Perdamaian, Jorgen Watne Frydnes menegaskan bahwa mereka mendasarkan keputusan penerima hadiah nobel "pada karya dan tekad Alfred Nobel".
"Kami menerima ribuan surat setiap tahun dari orang-orang yang ingin menyampaikan apa yang bagi mereka dapat membawa perdamaian. Komite ini duduk di ruangan yang penuh dengan potret semua pemenang, dan ruangan itu dipenuhi dengan keberanian dan integritas," katanya.
"Jadi, kami mendasarkan keputusan kami hanya pada karya dan tekad Alfred Nobel" sambungnya
Diketahui, peraih Nobel Perdamaian adalah individu yang sesuai dengan deskripsi yang tercantum dalam wasiat Alfred Nobel tahun 1895.
Dalam wasiat Nobel dikatakan bahwa penghargaan tersebut seharusnya diberikan kepada orang "yang telah melakukan yang terbaik atau paling banyak untuk memajukan persahabatan antarbangsa, penghapusan atau pengurangan tentara tetap, dan pembentukan serta promosi kongres perdamaian".
Untuk Nobel Perdamaian dipilih oleh sebuah komite beranggotakan lima orang yang akan dipilih oleh Storting Norwegia (parlemen Norwegia) sejak tahun 1897. Penghargaan tersebut diberikan kepada orang yang paling berjasa, terlepas dari apakah mereka orang Skandinavia atau bukan, sebagaimana wasiat Nobel.
Adapun Anggota Komite Nobel tahun 2025 adalah Jorgen Watne Frydnes (ketua komite) dan Asle Toje, Anne Enger, Kristin Clemet, dan Gry Larsen (anggota komite).