Kritik Keras untuk Kluivert dan Mimpi ke Piala Dunia 2026

TIMNAS Indonesia kalah 2-3 atas Arab Saudi. Mimpi untuk lolos ke Piala Dunia 2026 via round 4 semakin sulit.
Itu artinya Indonesia tinggal punya 90 menit melawan Irak. Kalah atau seri, maka Indonesia mesti bersiap mengucap selamat tinggal pada Piala Dunia 2026.
Indonesia memang tak pernah sedekat ini dari Piala Dunia. Praktis, mimpi berubah menjadi hasrat besar 270 juta rakyat. Wajar pula jika hasrat itu berubah menjadi kecewa. Ini setelah di laga pertama Indonesia takluk dari Arab Saudi.
Jika dibedah lebih jauh, ada beberapa faktor yang membuat suporter Merah Putih kecewa.
Pertama adalah kembali bongkar pasang taktik dan susunan pemain. Selama round tiga timnas punya pakem formasi tiga bek sejajar. Namun, di laga maha penting ini pakem diubah Patrick Kluivert.
Pola empat bek sejajar dipakai. Pakem yang hanya diuji dalam dua laga uji coba. Itu pun lawan tim semenjana macam Taiwan dan Lebanon.
Yang juga jadi poin kritis adalah pilihan pemain. Hanya Jay Idzes dan Dean James yang berada di posisi idealnya di lini pertahanan.
Sedangkan pilihan pada Yakob Sayuri di bek kanan jadi tanda tanya. Naluri bertahan Yakob jelas masih di bawah naluri menyerangnya.
Timnas Indonesia dalam perjuangan di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia saat menghadapi Arab Saudi, Kamis (9/10/2025) di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah. Timnas Indonesia kalah 2-3 dari Arab Saudi, tapi peluang lolos Piala Dunia 2026 tetap terbuka. Laga melawan Irak krusial bagi Garuda.
Dengan kenyataan Arab yang bakal main menekan, mengapa pula Kluivert tak memiliki bek kanan yang lebih seimbang dalam bertahan?Terlebih ada eksperimen memasang Kevin Diks di center bek. Mengapa Diks yang bukan di posisi asli hanya dilapisi Yakob yang kurang mumpuni dalam bertahan?
Pilihan di lini tengah pun jadi tanda tanya. Marc Klok yang sudah lebih dari dua tahun tak bermain di laga kompetitif internasional dipasang sejak menit pertama.
Di atas kertas, Indonesia memakai formasi 4-2-3-1 dalam menyerang dan transisi 4-5-1 dalam bertahan.
Namun, masalahnya justru pada transisi bertahan yang buruk. Beberapa kali pemain Garuda terlambat menutup ruang antarlini, terutama ruang antarlini tengah dan belakang. Ini diperparah kesalahan passing yang dilakukan pemain tengah timnas.
Error individu plus jarak antarlini yang renggang menjadi double kill. Terbukti dari tiga gol yang bersarang terjadi karena dua faktor ini.
Gol pertama bermula dari kesalahan Klok membuang bola. Ruang antarlini tengah dan belakang yang terbuka lebar kemudian dimanfaatkan pemain Arab Saudi via tembakan jarak jauh.
Gol kedua Saudi bermula dari kesalahan posisi Yakob Sayuri yang ditutupi dengan tarikan baju pada pemain depan Saudi.
Gol ketiga juga bermula dari kesalahan dalam menjaga ruang antarlini tengah dan belakang. Pelupessy yang melakukan pressing tinggi meninggalkan ruang terbuka. Ini dimanfaatkan lewat kombinasi umpan pendek Saudi yang diakhiri tembakan keras.
Posisi Yakob yang terlambat mengantisipasi bola rebound menjadi pelengkap derita timnas.
Sejatinya laga melawan Arab Saudi seperti de javu situasi lawan Jepang. PR dalam koordinasi lini tengah dan belakang nyatanya tak bisa diperbaiki Kluivert.
Masalah koordinasi sistem pertahanan yang terus berulang ini jadi pertanda kurang padunya pemain. Hal yang berbanding lurus dengan bongkar pasang lini pertahanan dengan komposisi dan pakem baru.
Pertanyaannya mengapa tak mempertahankan pemain yang sudah lebih lama bermain bersama, seperti Rizky Ridho atau Justin Hubner? Mengapa di tengah bukannya menempatkan Nathan atau Thom Haye bersama Joey Pelupessy?
Bukankah komposisi ini sudah lebih lama bermain, sehingga lebih memungkinkan koordinasi yang lebih baik?
Bukankah dalam sistem pertahanan sejajar yang terpenting adalah kekompakan dan saling mengisi dalam menutup ruang? Bagaimana mau kompak jika susunan pemain terus diubah, terlebih di laga maha penting?
Deretan pertanyaan inilah catatan kritis bagi Kluivert dan jajaran pelatih. Satu hal yang patut dipertanyakan pula adalah man management Kluivert sebagai pelatih.
Kluivert tampak tak memberi karakter disiplin kuat pada tim. Sehingga timnas tampak tak punya identitas. Tak ada percikan api di tim ini!
Apapun itu masih ada 90 menit kedua lawan Irak. Mengeluh apalagi mencerca tak ada gunanya. Saatnya memberi cambukan pada pelatih maupun skuat Garuda.
Tak ada waktu untuk basa-basi. Saatnya mati-matian di laga kedua. It is not over until it's over!
Namun, hasil akhir adalah satu hal. Hal yang tak kalah penting adalah bagaimana kita berjuang keras mencapai hasil akhir itu. Jangan sampai lawan justru menang karena kesalahan kita sendiri.
Sebaliknya jika pemain dan pelatih menunjukkan usaha yang habis-habisan lawan Irak, maka masyarakat akan bertepuk tangan apapun hasilnya.
Sebagai pendukung setia Garuda kita pun patut mawas diri. Bermimpi tinggi ke Piala Dunia itu jangan sampai merusak pula logika kita.
Kita harus pula sadar negara ini bukanlah raksasa Asia, melainkan peringkat 119 FIFA. Apapun hasilnya kelak kita patut berbangga dan menegakkan kepala. Karena jikapun kita gagal, maka kita gagal ke Piala Dunia bukan gagal di Piala AFF!
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.