Sering Baca Berita Negatif Bikin Cemas dan Lelah Mental, Ini Kata Psikolog
— Tahukah kamu, terlalu sering menerima berita negatif bisa berdampak buruk pada mental.
Setiap detik, layar ponsel menampilkan kabar baru, dari politik, ekonomi, hingga tragedi di berbagai belahan dunia. Semua terasa dekat, seolah menuntut perhatian tanpa henti.
Namun, di balik kemudahan akses informasi itu, banyak orang justru merasa kelelahan secara mental.
Dampak sering konsumsi berita negatif
Paparan berita negatif yang berlebihan bisa membuat seseorang kewalahan secara mental dan emosional. Psikolog sarankan batasi asupan informasi harian.
Psikolog Klinis, Praktisi dan Edukator isu kesehatan mental Dra. Tika Bisono, MPsiT., Psikolog mengatakan, paparan berita yang berlebihan dapat menimbulkan beban emosional yang berat jika tidak disikapi dengan bijak.
menerus terpapar berita dapat memicu rasa kewalahan, menguras emosi, membuat kita cemas, tak berdaya, bersalah, bahkan takut,” ujar Tika dalam Webinar Fenomena Kesepian Pada Perantau: Bagaimana Mengatasinya, Sabtu (4/10/2025).
Menurutnya, saat ini terlalu banyak isu global yang berseliweran di media. Mulai dari konflik antar-negara, perubahan ekonomi, hingga gejolak politik yang tak kunjung reda.
Semua itu, lanjutnya, bisa menimbulkan rasa tidak tenang bagi siapa pun yang terus mengikuti perkembangannya.
“Kondisi dunia saat ini bisa membuat diri kita merasa kewalahan. Misalnya masalah seperti konflik global, ketidakstabilan ekonomi, dan kerusuhan politik. Berita buruk terasa muncul di mana-mana,” katanya.
Perasaan ini muncul karena manusia secara alami memiliki empati terhadap penderitaan orang lain.
Namun, ketika berita negatif terus mengalir tanpa jeda, otak bisa mengalami kelelahan emosional.
Akses tanpa batas bikin sulit berhenti
Mengetahui info terkini penting, tapi tak semuanya perlu diserap
Paparan berita negatif yang berlebihan bisa membuat seseorang kewalahan secara mental dan emosional. Psikolog sarankan batasi asupan informasi harian.
Pada era digital, informasi tidak lagi datang hanya dari televisi dan koran. Setiap orang saat ini memiliki gadget (gawai) untuk mengakses informasi terkini.
Tika menyebut, kemudahan akses inilah yang membuat batas antara waktu beristirahat dan waktu mengonsumsi informasi semakin kabur.
“Ditambah lagi, berkat ponsel pintar dan media sosial, kita kini memiliki akses berita terbaru selama 24 jam penuh,” ujarnya.
Ia menilai, mengetahui apa yang terjadi di dunia memang penting, tapi tidak semua hal perlu diserap sekaligus.
“Mengetahui apa yang terjadi di dunia memang hal baik. Namun, akses tanpa batas terhadap berita membuat kita sulit mengontrol seberapa banyak informasi yang kita konsumsi,” jelas Tika.
Situasi ini dikenal dengan istilah information overload yaitu kondisi ketika otak menerima terlalu banyak informasi hingga kesulitan memilah mana yang relevan dan penting.
Kewalahan akibat informasi terlalu banyak
Efeknya bisa mudah gelisah, sulit fokus, dan susah tidur
Paparan berita negatif yang berlebihan bisa membuat seseorang kewalahan secara mental dan emosional. Psikolog sarankan batasi asupan informasi harian.
Tika menjelaskan, merasa kewalahan akibat arus informasi bukanlah hal sepele, tapi bisa berdampak serius pada mental.
“Merasa kewalahan oleh peristiwa terkini, besar maupun kecil, dapat berdampak buruk pada kesehatan mental kita,” ujarnya.
Gejalanya bisa beragam, mulai dari sulit tidur, mudah gelisah, kehilangan fokus, hingga munculnya rasa takut berlebihan terhadap masa depan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menurunkan semangat dan motivasi seseorang untuk menjalani aktivitas harian.
Bagaimana cara mengendalikan paparan informasi?
Sebagai langkah pencegahan, Tika menyarankan agar seseorang mulai lebih bijak dalam mengelola asupan informasi.
Ia menekankan pentingnya self-awareness atau kesadaran diri untuk menentukan batas.
“Kamu bisa lewati berita-berita yang sekiranya bisa menambahkan rasa kewalahan maka perlu pengendalian diri dan membatasi konten tersebut,” saran Tika.
Selain itu, Tika juga menganjurkan praktik digital detox secara berkala, misalnya dengan menonaktifkan notifikasi berita atau membatasi waktu di media sosial.
Kamu juga mengganti waktu membaca berita dengan kegiatan yang menenangkan seperti olahraga, mendengarkan musik, atau sekadar berjalan kaki di luar rumah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.