Anak di Bawah 8 Tahun Perlu Bergerak 3 Jam Sehari, Ini Kata Psikolog

Montessori, Anak di Bawah 8 Tahun Perlu Bergerak 3 Jam Sehari, Ini Kata Psikolog, Anak usia di bawah 8 tahun perlu banyak bergerak, Memasuki usia remaja, anak mulai membutuhkan teman sebaya, Waktu bermain tetap perlu dibatasi, Orangtua perlu hadir sebagai pendamping

Bermain bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang anak.

anak, bermain merupakan bagian penting dari proses belajar dan tumbuh kembang yang membantu mengasah kemampuan fisik, kognitif, sosial, dan emosional.

Psikolog klinis dan keluarga lulusan Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada, Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa aktivitas bermain anak sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan usianya.

Menurut Pritta, konsep tersebut sejalan dengan pendekatan yang dikembangkan oleh dokter dan pendidik Italia, Maria Montessori, yang menekankan pentingnya permainan yang mendukung perkembangan anak secara optimal.

"Sehari anak-anak harus paling enggak 180 menit bergerak. Bagus lagi kalau bergerak dalam artian olahraga," ujar Pritta dikutip dari ANTARA, Sabtu (6/6/2026).

Anak usia di bawah 8 tahun perlu banyak bergerak

Pritta menjelaskan, pada masa kanak-kanak hingga usia delapan tahun, kebutuhan utama anak adalah bergerak dan mengeksplorasi lingkungan sekitar melalui aktivitas fisik.

Karena itu, anak dianjurkan melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh, seperti berlari, melompat, bermain di luar ruangan, bersepeda, hingga berbagai jenis olahraga yang sesuai dengan usianya.

Menurut pendekatan Montessori, permainan yang melibatkan penggunaan tangan juga memiliki manfaat besar bagi perkembangan anak.

"Dokter Maria Montessori bilang, sesuatu yang anak mainkan dengan tangan itu yang akan masuk dalam memori dan kognitifnya," kata Pritta.

Aktivitas seperti menyusun balok, menggambar, meronce, membuat kerajinan tangan, atau permainan konstruktif lainnya dapat membantu anak melatih koordinasi motorik sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir.

Memasuki usia remaja, anak mulai membutuhkan teman sebaya

Kebutuhan bermain anak akan berubah seiring bertambahnya usia.

Pritta menjelaskan bahwa pada rentang usia 9 hingga 15 tahun, anak mulai membutuhkan interaksi yang lebih intens dengan teman sebaya sebagai bagian dari perkembangan sosial mereka.

Pada fase ini, aktivitas kelompok menjadi penting karena membantu anak belajar bekerja sama, berkomunikasi, berbagi peran, dan memahami sudut pandang orang lain.

Contohnya adalah bermain olahraga bersama, memasak bersama teman, membuat proyek kreatif, atau berbagai kegiatan kolaboratif lainnya.

Meski demikian, penggunaan teknologi digital tetap diperbolehkan selama mendapat pendampingan dari orang dewasa.

"Pasti kita ingin generasi Alfa melek digital, jadi boleh, tapi dengan panduan," ujar Pritta.

Waktu bermain tetap perlu dibatasi

Walaupun bermain penting bagi perkembangan anak, Pritta mengingatkan bahwa aktivitas tersebut tetap memerlukan batasan yang jelas.

Menurut dia, orangtua perlu membantu anak memahami pengelolaan waktu agar aktivitas bermain tidak mengganggu rutinitas penting lainnya, seperti belajar, makan, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Ia mencontohkan bahwa anak sebaiknya tidak dibiasakan melakukan aktivitas lain, seperti makan, sambil bermain gim.

Dengan adanya aturan yang konsisten, anak dapat belajar disiplin sekaligus memahami pentingnya menyeimbangkan berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Orangtua perlu hadir sebagai pendamping

Lebih lanjut, Pritta menekankan bahwa peran orangtua bukan hanya mengawasi, melainkan mendampingi anak saat bermain.

Pendampingan yang tepat dapat membantu anak mengeksplorasi rasa ingin tahu, mencoba hal-hal baru, dan belajar menyelesaikan masalah secara mandiri.

Menurut dia, anak sering kali hanya membutuhkan dukungan seperlunya agar mampu mengembangkan potensinya sendiri.

"Terkadang, anak hanya butuh semacam scaffolding atau dukungan yang tepat agar rasa ingin tahu mereka tetap menyala," kata Pritta.

Dengan hadir sebagai mitra eksplorasi, orangtua tidak hanya membantu proses belajar anak, tetapi juga memperkuat hubungan emosional dengan mereka.

"Saat orangtua hadir mendampingi anak bermain tanpa menghakimi, kita sebenarnya sedang menanamkan modal paling berharga bagi mereka, yaitu kepercayaan diri bahwa mereka mampu belajar, mampu mencoba, dan mampu menjadi hebat dengan caranya," kata Pritta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang