Ini Kata Psikolog Soal Pengakuan Aurelie Moeremans Terkait Child Grooming
Pengakuan Aurelie Moeremans tentang pengalaman child grooming yang ia tuangkan dalam buku memoar Broken Strings terus menuai perhatian publik. Tak hanya dari masyarakat dan figur publik, kisah tersebut juga mendapat sorotan dari kalangan profesional, salah satunya psikolog Joice Manurung yang mencoba membaca kondisi psikologis Aurelie dari sudut pandang keilmuan.
Dalam sebuah acara televisi yang dipandu Irfan Hakim, Joice Manurung mengulas bagaimana pengalaman masa lalu yang berat dapat membentuk ketahanan emosional seseorang. Ia menilai, keberanian Aurelie untuk berbicara terbuka menunjukkan adanya daya tahan psikologis yang tidak semua orang miliki. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
Aurelie Moeremans
“Satu sisi yang saya lihat dari Aurelie, beliau punya daya tahan emosi yang relatif kuat ya. Jadi barangkali bentukan pengalaman hidupnya tuh cukup bergejolak cukup tangguh sehingga dia terbiasa dengan tekanan, terbiasa dengan situasi yang membuat dia tidak merasa nyaman, kemungkinan seperti itu,” jelas Joice Manurung yang dikutip dari tayangan YouTube pada Senin, 19 Januari 2026.
Selain itu, Joice juga menilai bahwa pembawaan Aurelie yang tenang saat menceritakan pengalamannya sebagai mekanisme pertahanan diri yang sering kali dilakukan korban untuk bisa bertahan.
“Namun, sisi lain saya pikir ini upaya dia juga untuk menenangkan dirinya. Jadi banyak orang memilih cara merasionalisasi dan menunjukkan sesuatu yang sifatnya tuh ah gapapa kok saya bisa lalui kok. Satu sisi itu baik karena itu membantu dia bisa melewati, dia menyelesaikan strenya tekanannya. Namun, satu sisi itu kan menimbun sebenarnya,” jelasnya lagi.
Lebih jauh, Joice menjelaskan bahwa dalam banyak kasus child grooming, relasi yang terjadi bukanlah cinta dalam makna sehat, melainkan bentuk ketergantungan emosional. Ketergantungan ini sering muncul ketika kebutuhan afeksi anak tidak terpenuhi secara optimal dari lingkungan terdekat.
“Sebenarnya ini bukan bentuk cinta dalam arti yang sebenarnya ya, tapi bentuk ketergantungan emosi. Jadi kalo biasanya child grooming itu dialami oleh anak-anak yang secara afeksinya memang kurang perhatian atau bentuk attachment atau kedekatan emosional dengan figur terdekat ayah ibu saudaramisalnya itu kurang,” tuturnya.
Menurutnya, pelaku child grooming biasanya sangat peka membaca celah emosional tersebut, lalu masuk mengambil peran yang membuat korban merasa aman dan diperhatikan.
“Sehingga ketika ada sosok lain yang tau ini kelemahannya, masuk ambil celah dia ambil peran yang mirip seperti itu dan memenuhi kebutuhan itu anak ini jadi merasa eh ada yang memenuhi kebutuhan aku, ada yang nyayangin aku, ngelindungin aku, seakan-akan itu perasaan tanda kutip cinta padahal ketergantungan emosi,” tuturnya lagi.
Joice juga menyoroti alasan mengapa korban sering kali tetap bertahan meski mengalami perlakuan menyakitkan. Ia menilai kepatuhan korban muncul dari rasa takut kehilangan figur yang dianggap sebagai pelindung.
“Tapi, kalaupun tanda kutip dia disiksa, itu sebenernya bentuk dia untuk patuh. Jadi kalau dia melawan si pelindung ini menurut dia akan menjauhkan diri dari dia. Dia kehilangan,” terang Joice.
Rasa takut ditinggalkan inilah yang akhirnya membuat korban memilih untuk menerima perlakuan yang tidak semestinya.
“Nah daripada ditinggalkan diabaikan, dia memilih untuk patuh. Patuh ini lah yang kita anggap sebagai tindakan untuk mau disakiti . mau menerima tindakan tidak sewajarnya dan lain sebagainya,” tandasnya.