Top 6+ Kebiasaan Sehari-hari yang Bikin Stres dan Lelah Mental
Terkadang kebiasaan sehari-hari justru diam-diam menguras energi mental dan emosional seseorang, meskipun kebiasaan tersebut terlihat sepele.
Memahami dan mengenali kebiasaan ini bisa jadi langkah pertama untuk menciptakan keseimbangan dan menjaga kesehatan mental.
Berikut beberapakebiasaan yang menguras energi dan memicu stres, dilansir dari Real Simple, Rabu (17/9/2025).
Kebiasaan sehari-hari yang menguras energi dan memicu stres
1. Multitasking yang berlebihan
Tanpa disadari, kebiasaan kecil seperti multitasking dan membiarkan lingkungan berantakan bisa membuat stres. Simak penjelasan psikolog.
Beralih dari satu tugas ke tugas lain secara terus-menerus membutuhkan otak untuk menyesuaikan fokus, yang mana memakan energi ekstra.
Dr. Sanam Hafeez, psikolog klinis di New York, menjelaskan, multitasking berlebih bisa membuat kamu semakin stres.
“Alih-alih menghemat waktu, multitasking sering menimbulkan kesalahan dan frustasi. Ini meningkatkan stres dan menurunkan kemampuan konsentrasi,” ujar Hafeez.
Mengutamakan satu tugas sekaligus dan menyisipkan waktu istirahat secara teratur membantu otak bekerja lebih efisien dan mengurangi beban mental.
2. Menunda pekerjaan
Tanpa disadari, kebiasaan kecil seperti multitasking dan membiarkan lingkungan berantakan bisa membuat stres. Simak penjelasan psikolog.
Menunda pekerjaan dapat membuat pikiran terus mengingatkan tentang tugas yang belum selesai, memicu stres dan kecemasan.
“Semakin lama menunda, tugas terasa semakin besar dan tekanan mental meningkat,” kata Hafeez.
Solusinya, pecah tugas menjadi bagian lebih kecil dan tetapkan waktu khusus untuk menyelesaikannya. Fokuslah untuk memulai, bukan menyelesaikannya sempurna.
3. Selalu ingin menyenangkan orang lain (people pleasing)
Tanpa disadari, kebiasaan kecil seperti multitasking dan membiarkan lingkungan berantakan bisa membuat stres. Simak penjelasan psikolog.
Kebiasaan menomorsatukan orang lain di atas diri sendiri dapat melemahkan energi mental.
Hafeez menegaskan, perilaku people pleasing membuat rasa percaya dirimu menurun dan terus menomor-sekiankan kebutuhan diri sendiri.
“People pleasing bisa menurunkan rasa percaya diri karena nilai diri bergantung pada pandangan orang lain. Rasa kecewa atau marah pun bisa muncul meski tidak diungkapkan,” tutur dia.
Mulailah menetapkan batasan kecil dan perhatikan motivasi diri dalam membantu orang lain.
4. Lingkungan yang berantakan
Tanpa disadari, kebiasaan kecil seperti multitasking dan membiarkan lingkungan berantakan bisa membuat stres. Simak penjelasan psikolog.
Visual clutter atau kekacauan di sekitar bisa menambah beban pikiran. Psikolog klinis, Dr. Madison White mengatakan, kebiasaan ini meningkatkan kecemasan dan bisa membuat kamu menarik diri dari lingkungan.
“Clutter memicu kecemasan, yang kemudian menimbulkan rasa menghindar dan rasa malu. Siklus ini terus berulang,” tutur White.
Cara mengatasinya adalah dengan memulai decluttering selama 30 menit dan mengaitkannya dengan reward, misalnya menikmati minuman favorit atau menonton acara setelah selesai.
5. Terjebak dalam pikiran berulang
Tanpa disadari, kebiasaan kecil seperti multitasking dan membiarkan lingkungan berantakan bisa membuat stres. Simak penjelasan psikolog.
Berulang kali memikirkan ketakutan atau kekhawatiran membuat pikiran terjebak dalam lingkaran cemas.
“Ruminasi tidak membantu, justru menambah kecemasan. Penting untuk menyadari tanda-tandanya, misalnya memutar ulang pikiran yang sama terus-menerus,” terang White.
Strategi yang bisa dilakukan termasuk labeling pikiran atau menyuarakan pikiran tersebut untuk menciptakan jarak dan mengurangi dampak negatifnya.
6. Terlalu banyak mengambil keputusan sepele
Tanpa disadari, kebiasaan kecil seperti multitasking dan membiarkan lingkungan berantakan bisa membuat stres. Simak penjelasan psikolog.
Setiap hari kita dihadapkan pada banyak pilihan, dari pakaian hingga menu makan.
“Terlalu banyak keputusan trivial bisa menguras energi mental, memicu kebingungan, dan perfeksionisme,” tutur White.
Solusi sederhana termasuk mendelegasikan tugas atau menetapkan batas waktu untuk setiap keputusan sehingga tekanan mental berkurang.
Mengubah kebiasaan secara bertahap
White menyarankan agar setiap orang melacak kebiasaan sehari-hari selama seminggu dan mencatat efeknya terhadap energi mental.
Dengan mengenali pola kebiasaan yang menguras energi, seseorang dapat mencoba untuk tidak melakukan kebiasaan tersebut selama dua minggu.
“Dalam dua minggu, biasanya perubahan positif sudah terasa, dan hal ini memotivasi untuk mempertahankan perubahan tersebut,” tuturnya.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.