ChatGPT Makin Mirip Manusia, Tapi Apakah Aman untuk Kesehatan Mental? Ini Kata Psikolog
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin pesat, dan ChatGPT menjadi salah satu contoh paling nyata. Baru-baru ini, CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa timnya akan meninjau ulang pendekatan mereka terhadap isu kesehatan mental dan memberikan lebih banyak fitur yang “memperlakukan pengguna dewasa seperti orang dewasa”. Termasuk di antaranya akses terhadap konten erotis.
Pernyataan ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya di platform X (sebelumnya Twitter). Altman kemudian mengklarifikasi bahwa OpenAI tetap akan berhati-hati terhadap kesehatan mental pengguna, tetapi ingin memberikan lebih banyak kendali kepada pengguna.
Dalam unggahan lanjutannya, Altman mengatakan, “Kami bukanlah polisi moral dunia. Sama seperti masyarakat memiliki batasan seperti film dengan rating R, kami ingin melakukan pendekatan serupa,” seperti dikutip dari Tom’s Guide pada Senin, 2 Oktober 2025.
Namun, langkah OpenAI ini menimbulkan pertanyaan besar, sejauh mana AI seperti ChatGPT bisa dipercaya dalam mendampingi pengguna, terutama mereka yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental?
AI dan Tantangan Kesehatan Mental
Menurut Dr. Patapia Tzotzoli, seorang psikolog klinis dan pendiri My Triage Network, potensi AI seperti ChatGPT memang besar. Namun, tanggung jawab penggunaan teknologi ini juga harus seimbang, khususnya dalam konteks kesehatan mental.
“ChatGPT tidak bisa secara aman mengelola atau menilai risiko. Gaya komunikasinya yang cenderung menyetujui bisa secara tidak sengaja memperkuat keyakinan atau asumsi yang keliru, apalagi jika pengguna terlalu percaya pada empatinya,” jelas Tzotzoli.
ChatGPT dikenal sebagai teman virtual yang cepat, privat, selalu tersedia, serta memberikan respons yang tenang dan tidak menghakimi. Kombinasi ini memang bisa membuat pengguna merasa nyaman. Tapi, di sinilah letak permasalahannya, kenyamanan tersebut bisa menipu.
“Kemanusiaan” ChatGPT: Solusi atau Ancaman?
Ketika ChatGPT dirancang untuk menjadi lebih manusiawi, menggunakan bahasa yang ramah, emoji, atau bahkan bertindak seperti teman, maka garis antara simulasi dan pemahaman emosional yang nyata bisa menjadi kabur.
“ChatGPT tidak memiliki kemampuan untuk merasakan emosi, menangkap nuansa, atau menilai risiko secara akurat,” tambah Tzotzoli.
Masalah utamanya adalah bagaimana model AI ini belajar: melalui data, umpan balik manusia, dan algoritma yang mengutamakan respons yang "dihargai" ketimbang kebenaran atau kebermanfaatan jangka panjang. Ini artinya, AI mungkin akan memberikan jawaban yang menyenangkan pengguna saat itu, tetapi bukan jawaban yang terbaik untuk pertumbuhan emosional mereka.
Personalization yang Berisiko
Dalam pengumuman terbaru, Sam Altman menyebutkan bahwa ChatGPT akan bisa memberikan pengalaman yang lebih personal. Namun, bagaimana menentukan batasannya? Siapa yang dianggap rentan dan siapa yang boleh mendapat fitur “dewasa” ini?
Dr. Tzotzoli mengingatkan, “Kemampuan untuk mengatur seberapa ‘manusiawi’ AI bisa terasa seperti personalisasi. Tapi kebebasan ini juga bisa disalahgunakan, untuk dikendalikan, dimonetisasi, atau dibentuk sesuai kepentingan tertentu.”
AI Bukan Pengganti Psikolog
Walaupun ChatGPT dan AI serupa dapat menjadi pendamping dalam kondisi tertentu. seperti saat seseorang merasa kesepian atau butuh dukungan emosional ringan, tetap saja, AI tidak bisa menggantikan peran tenaga profesional.
“Tantangannya bukan pada teknologi, tapi pada etikanya, bagaimana kita bisa menggunakan AI secara etis, transparan, dan aman dalam percakapan tentang kesehatan mental,” tegas Tzotzoli.
Perusahaan AI lain seperti Anthropic (pembuat Claude) dan xAI (pembuat Grok) juga menghadapi dilema yang sama. Seberapa jauh AI diizinkan untuk menunjukkan ‘emosi’? Dan seberapa dalam AI boleh terlibat dalam isu kesehatan mental pengguna?