Benarkah Anak CIBI Termasuk Berkebutuhan Khusus? Ini Kata Psikolog
Ada anggapan anak CIBI termasuk dalam spektrum autisme, alias anak berkebutuhan khusus. Benarkah demikian?
“Itu salah satu stigma yang cukup umum di masyarakat awam. Yang harus diluruskan adalah CIBI dan autisme itu dua hal yang berbeda,” jelas psikolog pendidikan yang berpraktik mandiri, Gretta Ludwina, M.Psi., saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (1/11/2025).
Sebagai informasi, anak CIBI adalah anak-anak yang terlahir dengan tingkat kecerdasan dan/atau bakat yang melebihi rata-rata yakni IQ minimal 130, yang masuk dalam kategori Cerdas Istimewa, Berbakat Istimewa (CIBI).
Ciri-ciri anak CIBI adalah memiliki kemampuan di atas rata-rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas yang diberikan, dan kreativitas yang tinggi.
Anak CIBI dan anak dalam spektrum autisme
Stigma yang beredar tidak sepenuhnya benar. Gretta menuturkan, anak CIBI memang bisa termasuk dalam spektrum autisme, tapi dua hal tersebut tidak saling berkaitan.
Anak punya kecerdasan dan/atau bakat yang istimewa bukan karena ia termasuk dalam spektrum autisme.
“Dan tidak semua anak dalam spektrum autisme itu punya kemampuan yang sangat tinggi, jadi tidak ada hubungannya,” terang dia.
Anak CIBI termasuk anak berkebutuhan khusus?
Salah satu stigma yang melekat pada anak CIBI adalah mereka termasuk dalam spektrum autisme. Simak penjelasan psikolog.
Anak CIBI termasuk anak berkebutuhan khusus, sama seperti anak-anak dalam spektrum autisme.
“Menurut Kementerian (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), mereka termasuk dalam anak berkebutuhan khusus karena memang memiliki kebutuhan khusus dalam pembelajarannya, yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya,” jelas Greta.
Ada beberapa metode pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan inklusif, yang mencakup murid-murid CIBI. Dahulu, ada program kelas akselerasi yang ditujukan untuk anak-anak CIBI.
Saat ini, lantaran kelas akselerasi sudah ditiadakan, para pengajar mengacu ada metode pembelajaran yang memiliki pengayaan, seperti pemberian materi ekstra pada anak-anak CIBI.
“Bisa juga dengan sistem pull out. Anak yang memang gifted dikumpulkan dalam satu kelompok atau kelas khusus, kemudian dikasih tambahan kegiatan, pelajaran di luar jam pelajaran normal, untuk memacu mereka,” kata Gretta.
Adapun kegiatan atau materi ekstra dapat membuat anak-anak CIBI tidak merasa bosan karena harus menyamakan kecepatan belajar anak-anak lainnya. Kemampuan mereka lebih tinggi sehingga perlu lebih banyak stimulasi.
“Harus lebih banyak distimulasi, lebih banyak dipancing, supaya mereka tetap engage (tertarik) di pelajarannya, dan fokusnya tetap terjaga,” tutur dia.
Sayangnya, ia menambahkan, saat ini metode pembelajaran di kebanyakan sekolah di Indonesia belum terlalu inklusif terhadap anak-anak CIBI.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.