Apakah Pelaku Gaslighting Sadar dengan Perilakunya? Ini Kata Psikolog
Gaslighting termasuk bentuk kekerasan emosional yang membuat korban meragukan kewarasan dan ingatannya sendiri, tapi apakah pelaku gaslighting atau gaslighter sadar dengan perilakunya?
Psikolog trauma dan profesor psikologi di Yorkville University, Amelia Kelley, Ph.D. mengatakan, jawabannya tidak selalu sederhana.
Menurutnya, ada pelaku gaslighting yang melakukannya dengan sadar dan berniat merusak, tapi ada juga yang melakukannya tanpa sepenuhnya menyadarinya.
“Tidak semua pelaku gaslighting sadar atau berniat jahat, ada pula yang melakukannya secara bawah sadar karena dorongan trauma atau ketakutan,” jelas Kelley, dikutip dari Psychology Today, Kamis (25/9/2025).
Gaslighting yang dilakukan secara sadar
Apakah pelaku gaslighting atau gaslighter sadar dengan perilakunya? Psikolog menyebut kesadaran mereka berbeda-beda. Simak selengkapnya.
Bentuk gaslighting yang paling berbahaya biasanya dilakukan dengan sadar dan penuh perhitungan.
Pelaku sengaja menggunakan manipulasi, kebohongan, dan isolasi demi menguasai dan mengendalikan orang lain.
Menurut Kelley, gaslighting semacam ini berakar pada niat jahat dan kebutuhan pelaku untuk mendapatkan kendali penuh.
“Maksud untuk menyakiti serta mempertahankan kekuasaan adalah atribut utama dalam gaslighting yang bersifat jahat,” ujarnya.
Inilah yang digambarkan dalam drama Inggris tahun 1938 berjudul Gas Light, yang mana seorang suami secara perlahan memanipulasi istrinya hingga meragukan kewarasan sendiri. Dari film tersebutlah istilah gaslighting mulai populer dan terus dikenal hingga saat ini.
Gaslighting di bawah sadar
Apakah pelaku gaslighting atau gaslighter sadar dengan perilakunya? Psikolog menyebut kesadaran mereka berbeda-beda. Simak selengkapnya.
Tidak semua pelaku gaslighting memiliki niat jahat. Ada pula yang melakukannya tanpa sadar, sebagai mekanisme pertahanan diri saat merasa terancam. Kelley menyebut bentuk ini sebagai subconscious gaslighting.
“Dalam gaslighting bawah sadar, seseorang sering kali tidak menyadari perilakunya. Manipulasi muncul karena adanya trauma masa lalu atau kebutuhan untuk melindungi diri dari rasa sakit dan penolakan,” kata Kelley.
Misalnya, seseorang yang sulit menerima kesalahan mungkin akan menolak bukti yang ada dan justru membuat orang lain meragukan ingatannya.
Bentuk ini dikenal sebagai self-protective gaslighting dan biasanya disertai rasa bersalah setelahnya.
Pola kontrol yang muncul dalam gaslighting
Apakah pelaku gaslighting atau gaslighter sadar dengan perilakunya? Psikolog menyebut kesadaran mereka berbeda-beda. Simak selengkapnya.
Selain karena trauma, gaslighting bawah sadar juga bisa muncul dari kebutuhan untuk mempertahankan kendali.
Misalnya, ketika seseorang sedang menghadapi stres berat, seperti merawat anggota keluarga yang sakit.
“Dalam kondisi penuh tekanan, pelaku bisa merasa kehilangan kendali. Dorongan untuk kembali menguasai situasi dapat memunculkan perilaku gaslighting, misalnya dengan menahan informasi atau berpura-pura tidak mampu melakukan sesuatu,” tutur Kelley.
Apakah pelaku gaslighting bisa berubah?
Meski dampaknya sama-sama merusak, gaslighting bawah sadar memiliki peluang untuk berubah jika ada kesadaran dan usaha.
Menurut Kelley, perbedaannya dengan gaslighting jahat adalah adanya niat baik di balik hubungan yang ingin dipertahankan.
“Dengan dukungan, kesadaran diri, serta terapi, pelaku gaslighting bawah sadar bisa belajar untuk mengubah pola perilaku mereka,” jelas Kelley.
Ia menekankan, kunci perubahan adalah mau mengakui kesalahan, menunjukkan penyesalan, dan membangun komunikasi sehat.
Pentingnya menetapkan batasan
Apa pun bentuk gaslighting-nya, korban tetap perlu melindungi diri. Kelley mengimbau untuk menjaga batasan dengan baik, sebab ini jadi langkah penting agar tidak terus terjebak dalam manipulasi.
“Tidak ada yang pantas menjadi target gaslighting. Menetapkan batasan, mengungkapkan perilaku yang tidak bisa ditoleransi, hingga memutus hubungan jika perlu, adalah hak setiap orang,” tegasnya.
Ia juga menyarankan korban untuk mencatat pengalaman, berdiskusi dengan orang terpercaya, atau berkonsultasi dengan terapis agar tidak terus terjebak dalam lingkaran manipulasi.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.