Isu Perang Bikin Cemas? Ini Cara Menjaga Kesehatan Mental Menurut Psikolog

Maraknya isu perang dunia dan konflik global belakangan ini membuat sebagian orang merasa cemas, khawatir, bahkan sulit tidur.
Informasi yang terus mengalir melalui media sosial dan grup percakapan kerap memperparah rasa takut, apalagi jika sumbernya tidak jelas.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan pentingnya menyaring informasi agar masyarakat tidak terjebak dalam overthinking yang dapat berdampak pada kesehatan mental.
“Carilah sumber yang tepat dan benar untuk pemberitaan mengenai perang atau serangan. Jangan diambil dari semua media sosial yang mungkin sudah ditambah-tambahi informasi sehingga membuat kita makin bingung,” ujarnya dikutip dari ANTARA, Rabu (4/3/2026).
Mengapa Isu Perang Mudah Memicu Overthinking?
Menurut psikolog yang akrab disapa Prof Romi itu, overthinking bisa muncul karena berbagai faktor. Kondisi tertekan, stres, hingga situasi sosial ekonomi yang tidak stabil dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap kecemasan.
Selain itu, karakter perfeksionis dan kurang percaya diri juga bisa memperparah keadaan.
Ketika seseorang memiliki banyak rencana hidup, munculnya ancaman atau ketidakpastian seperti isu perang, dapat memicu kekhawatiran berlebihan akan kegagalan.
“Ketika rencana kemungkinan gagal karena situasi tertentu, orang bisa menjadi was-was. Informasi yang sifatnya ‘sampah’ justru akan memperparah situasi dan kesehatan mental,” jelasnya.
Tanda-Tanda Kecemasan yang Perlu Diwaspadai
Kecemasan akibat paparan isu global tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga fisik. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Sulit fokus
- Mudah merasa takut
- Terus-menerus membayangkan skenario terburuk
- Jantung berdebar
- Menghindari aktivitas rutin atau enggan keluar rumah
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kualitas hidup bisa terganggu.

Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Isu Perang
Prof Romi menyarankan beberapa langkah sederhana namun penting untuk menjaga kesehatan mental:
1. Batasi Konsumsi Informasi
Pastikan hanya mengakses berita dari sumber resmi dan kredibel. Hindari membaca informasi berulang-ulang yang belum tentu kebenarannya.
2. Kembali ke Realita
Sadari bahwa tidak semua informasi di media sosial relevan dengan kondisi pribadi. Fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali diri.
3. Perkuat Dukungan Sosial
Peran keluarga dan orang terdekat sangat penting. Dukungan emosional dapat membantu seseorang kembali berpikir lebih rasional dan tidak tenggelam dalam pikiran negatif.
“Orang-orang di sekelilingnya harus memberikan dukungan agar ia kembali pada realita dan tidak terlalu berpikir negatif,” katanya.
4. Kenali Kemampuan Diri dan Pendekatan Spiritual
Belajar memahami batas kemampuan diri membantu mengurangi rasa takut yang tidak realistis.
Selain itu, pendekatan spiritual sesuai keyakinan masing-masing juga dapat menjadi sumber ketenangan.
“Kita harus belajar melihat kemampuan diri kita. Membaca situasi itu perlu, tapi yang paling penting percaya kepada Tuhan dengan cara ibadah masing-masing,” tuturnya.
Di tengah derasnya arus informasi global, menjaga kesehatan mental menjadi tanggung jawab bersama.
Bijak memilah informasi, memperkuat dukungan sosial, serta menjaga keseimbangan emosi dapat membantu kita tetap tenang menghadapi situasi yang belum tentu terjadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang