Mengapa Game Online Bisa Membuat Anak Melakukan Kekerasan? Ini Kata Psikolog
Game online, terutama yang mengandung kekerasan, bisa berdampak negatif terhadap perilaku penggunanya.
Beberapa kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak terjadi akibat pengaruh dari game online.
Seperti kasus seorang anak yang membunuh ibunya menggunakan pisau di Medan Sumatera Utara, atau bocah yang nekat membakar belasan rumah warga di Sukabumi, Jawa Barat.
Aksi ini diduga dipicu oleh pengaruh game online yang mengandung senjata tajam dan adegan kekerasan, yang kemudian ditiru oleh anak tersebut.
Lantas, mengapa game online bisa menyebabkan perilaku kekerasan?
Pada dasarnya, peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi bukan semata-mata hanya terjadi karena game online, tetapi juga kombinasi faktor kerentanan lainnya.
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri menjelaskan ada dua mekanisme yang membuat game online bisa memengaruhi perilaku pemainnya.
Pertama, mekanisme hormonal menyebabkan seseorang yang bermain game online mengalami ledakan dopamin, sehingga membuatnya ketagihan.
Kemudian berikutnya ada mekanisme neurologis yang berkaitan dengan mekanisme kerja otak pemain.
“Ada mekanisme yang kedua, kalau saya tidak salah namanya mekanisme neurologis atau fisiologis, tentang mekanisme kerja otak,” kata Reza kepada Kompas.com, Selasa (30/12/2025)
Menurut Reza, salah satu dampak negatif game online bagi anak adalah penggunaan kata-kata ekstrem seperti, tembak aja tuh, habisi, bunuh, tusuk, dan seterusnya.
“Anak-anak yang main game kekerasan juga punya suasana batin yang sama. Gampang banget mengeluarkan kosakata yang sebetulnya kita merasa ngilu dengarnya,” ujarnya.
Dia menjelaskan, ketika seseorang merasa ngilu mendengar kata-kata ekstrem, tandanya dua titik otak terpantik sekaligus.
“Satu, titik otak berpikir, kognisi, dan titik otak merasa emosi, normalnya begitu,” jelas Reza.
“Tapi anak-anak kita yang sudah mencandu game ini yang teraktivasi hanya satu titik, otak berpikir saja. (Sedangkan) otak merasa-nya sudah mati,” sambung dia.
Sehingga, jelas Reza, kata bunuh, tembak, habisi, bom aja menjadi enteng karena tidak membuat memantik titik emosi di otak.
Pengaruh game online dapat mengondisikan otak anak-anak untuk pada akhirnya bekerja layaknya otak psikopat.
“Itu kombinasi dari teraktivasi secara hormonal, dopaminnya jadi tumpah ruah, dan pada saat yang sama otak yang mengurusi emosi, empati, dan seterusnya hilang redup aja gitu,” pungkas Reza.
Sejalan dengan itu, Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan bahwa game online (terutama yang mengandung kekerasan) memiliki pengaruh terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan anak.
“Ya, namun tidak secara otomatis atau linier,” kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Selasa (30/12/2025).
“Penelitian psikologi menunjukkan bahwa paparan konten kekerasan yang intens dapat memengaruhi kognisi dan emosi, tetapi efeknya berbeda-beda pada setiap anak,” sambungnya.
Lebih lanjut, Danti menjelaskan, Game (dalam kasus yang terjadi di Medan) berperan sebagai pemicu (trigger) dan penyedia model perilaku.
“Namun ada faktor kerentanan lain (seperti kematangan emosi, adiksi, dan kemungkinan masalah kesehatan mental yang tidak terdeteksi) yang membuat tragedi ini terjadi,” ujar Danti.
Danti menyebut, paparan kekerasan berulang dalam game (seperti menggunakan pisau) dapat membuat anak merasa bahwa kekerasan adalah hal yang biasa, wajar, atau bahkan solusi yang efektif.
Kondisi tersebut membuat rasa empati terhadap rasa sakit orang lain bisa terkikis secara perlahan.
Adegan kekerasan dalam game "menyiapkan" otak untuk merespons situasi stres dengan cara yang agresif.
Ketika anak merasa terancam atau marah (misalnya saat game-nya dihapus), memori atau skema perilaku kekerasan dari game tersebut lebih mudah muncul di kepalanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang