Mengapa Momen Kumpul Lebaran Bikin Lelah Mental?
Hari Raya Idul Fitri identik dengan momen berkumpul bersama keluarga besar, merayakan hari kemenangan, dan mempererat tali silaturahmi.
Namun, menjelang perayaan, tidak sedikit individu yang justru merasa tertekan, kelelahan, bahkan perlahan kehilangan semangat.
Psikolog klinis Wenny Aidina mengatakan, salah satu hal yang membuat momen kumpul keluarga saat Lebaran menjadi "beban" adalah saat harus menghadapi basa-basi atau komentar negatif orang lain.
"Nyatanya, kita sering kesal karena banyak orang yang terkadang basa-basinya itu basi banget. Sebenarnya mereka pengin memulai percakapan, tapi enggak tahu mulai dari mana," lanjut Wenny dalam webinar KALM Counseling bertajuk "Nelen Sabar Sampe Kenyang: Tips Biar Nggak Meledak Pas Lebaran", Sabtu (14/3/2026).
Menurut dia, kondisi ini merupakan fenomena yang sangat wajar terjadi karena basa-basi tersebut kerap berujung pada tekanan ekspektasi dan situasi yang kurang menyenangkan.
Tuntutan peran yang terjadi bersamaan
Ilustrasi lebaran ramah lingkungan. Berikut 30 ucapan selamat Idul Fitri Islami yang singkat, penuh doa, dan cocok dibagikan kepada keluarga, sahabat, maupun rekan kerja.
Beban berat yang dirasakan menjelang hari raya umumnya bersumber dari menumpuknya berbagai jenis persiapan dalam satu waktu.
Wenny memaparkan, setidaknya ada empat jenis persiapan krusial yang harus dilakukan secara serentak, yakni persiapan finansial, fisik, sosial, dan emosional.
Persiapan finansial tentu mencakup alokasi dana untuk Tunjangan Hari Raya (THR), biaya mudik, hingga aneka kebutuhan belanja. Sementara itu, persiapan fisik sangat dibutuhkan untuk menempuh perjalanan mudik yang melelahkan.
Persiapan sosial juga menyita fokus karena berkaitan erat dengan kesiapan energi menghadapi padatnya jadwal silaturahmi.
Dari kesemuanya, persiapan emosional untuk mengelola diri kerap menjadi tantangan terberat. Penumpukan keempat elemen ini menguras energi secara drastis dalam tenggat waktu yang sangat sempit.
"Itu semua terjadi dalam satu waktu ketika Lebaran. Dan kadang-kadang membuat kita menjadi kelelahan karena tuntutan peran yang datang bersamaan. Jadi, kita mengalami bukan lagi peran ganda, sudah triple, sudah empat. Dan itu membuat kita overload dalam waktu yang cenderung terbatas," ungkap Wenny.
"Orang jadi akan merasa lebih cepat lelahnya karena dalam wakatu terbatas harus mempersiapkan segala hal," sambung dia.
Terjebak dalam perasaan campur aduk
Tuntutan peran yang berlapis ini membuat seseorang dituntut menjadi sosok yang serba bisa. Ada keharusan mutlak untuk tampil sebagai anak yang selalu berbakti, saudara yang penuh perhatian, sekaligus tuan rumah yang sangat ramah.
Di saat bersamaan, individu juga dipaksa untuk terus tersenyum dan meredam emosi ketika diberondong rentetan pertanyaan yang cenderung mengusik ranah privasi.
Hal tersebut menyebabkan seseorang mengalami beban sosial, membuat energi terkuras. Kondisi yang serba membatasi ini memicu kelelahan mental luar biasa, sehingga membuat seseorang ingin kabur dari situasi tersebut. Padahal, kerinduan mendalam terhadap suasana rumah sebenarnya sangat besar.
Wenny mengatakan, fenomena kejiwaan inilah yang disebut sebagai ambivalent emotion, yaitu munculnya dua emosi bertolak belakang secara instan.
"Di satu sisi, kenapa kita memilih pulang, karena kita pengin merasakan kehadiran orang-orang terdekat. Ada rasa bahagia, ada rasa excited, tapi di satu sisi, kita juga mengalami kelelahan, kita mengalami stres," jelas dia.
Wenny menambahkan, perbenturan emosional antara keinginan kuat untuk merayakan sukacita bersama, beradu dengan rasa lelah menghadapi basa-basi yang menyudutkan.
Akibatnya, perasaan menjadi sangat tidak nyaman dan serba salah. Dua emosi yang saling tarik-menarik dan terjadi secara simultan inilah yang pada akhirnya membebani pikiran, serta menguras habis ketahanan mental seseorang.
"Ada emosi kesal, murka, sedih, jengkel, tertekan. Beragam sekali emosi yang bisa kita rasakan ketika Lebaran. Tapi, enggak ada emomsi yang salah. Emosinya valid dan boleh dirasakan," pungkas Wenny.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang