Terlalu Sering Memakai “Topeng” Sosial Bikin Emosi Tertekan, Ini Kata Psikolog

wajah sosial, topeng dalam psikologi, Terlalu Sering Memakai “Topeng” Sosial Bikin Emosi Tertekan, Ini Kata Psikolog

Memakai topeng alias wajah sosial saat menghadapi orang lain adalah hal yang wajar. Sebab, topeng dapat membantu seseorang meregulasi emosi, sekaligus mencegah untuk bertindak terlalu reaktif terhadap suatu situasi.

Kendati demikian, bagaimana jika terlalu sering memakai topeng malah membuat seseorang jadi sering menekan emosi? Padahal, menekan emosi tidak baik untuk kesehatan mental seseorang.

“Sebenarnya, dalam batas tertentu, wajar memakai topeng untuk ‘membatasi’ kita, untuk kita merasa aman untuk bersosialisasi dan bertemu dengan orang-orang,” tutur psikolog Ina Luthfie, S.Psi., M.A saat ditemui oleh Kompas.com di Aula Majapahit, Museum Mandiri, Jakarta Barat pada Minggu (23/11/2025).

Apa itu "topeng" atau wajah sosial?

wajah sosial, topeng dalam psikologi, Terlalu Sering Memakai “Topeng” Sosial Bikin Emosi Tertekan, Ini Kata Psikolog

Psikolog Ina Luthfie, S.Psi., M.A, saat ditemui dalam perayaan ulang tahun anggota boyband BTS bernama Park Jimin bertajuk Face of the Night, di Aula Majapahit, Museum Mandiri, Jakarta Barat pada Minggu (23/11/2025).

Sebagai informasi, dalam dunia psikologi, topeng adalah persona atau wajah sosial yang ditampilkan oleh seseorang ketika mereka berhadapan dengan suatu lingkungan.

Setiap orang memiliki lebih dari satu topeng, tergantung berapa banyak lingkungan yang dihadapi sehari-hari.

Misalnya adalah topeng yang dipakai dalam lingkungan pekerjaan, serta saat sedang bersama teman dan keluarga.

Tentunya, seseorang tidak akan selalu menunjukkan humornya ketika sedang bekerja di kantor, dan tidak akan selalu serius seperti sedang bekerja saat bersama keluarga atau teman.

“Itu sisi alam bawah sadar kita untuk menciptakan topeng-topeng yang sejalan dengan apa yang ada di lingkungan sosial kita, supaya kita tidak memperlihatkan sisi buruk kita lah istilahnya. Kita kan selalu ingin dilihat baik, positif, jadi kita ngumpetin dengan cara bertopeng,” jelas Ina.

Apakah membuat kita jadi sering menekan emosi?

Ina kembali menegaskan bahwa menggunakan wajah sosial adalah hal yang wajar. Hal tersebut membantu mengerem tindakan seseorang, saat emosi negatif sedang bergejolak di dalam diri.

“Tapi, topeng bisa ‘menekan’ ketika kita terlalu banyak ‘menopengkan’ ekspektasi dari luar ke diri kita,” ucap dia.

Misalnya saja konten-konten di media sosial. Setiap pengguna menampilkan persona yang membuat mereka terlihat istimewa dan patut disegani, bahkan dianggap sebagai role model (panutan).

Banyak warganet yang menyukai persona orang-orang tersebut. Alhasil, muncul sebuah ekspektasi bahwa orang-orang harus memiliki persona seperti para influencer di media sosial.

“Nah, kita jadi bikin topeng seperti itu, mempunyai topeng yang sesuai dengan ekspektasi orang, padahal sebenarnya bukan menggambarkan diri kita sendiri. Akhirnya ya pasti kita capek, kayak misalnya burnout, overwhelmed (kewalahan secara mental),” kata Ina.

Ketika sudah mulai merasa kurang baik secara mental, ini adalah tanda bahwa kamu mulai terlalu sering menekan emosi dan menyembunyikan dirimu yang sebenarnya, lewat wajah sosial tersebut.

Apa yang bisa dilakukan?

wajah sosial, topeng dalam psikologi, Terlalu Sering Memakai “Topeng” Sosial Bikin Emosi Tertekan, Ini Kata Psikolog

Terlalu lama memakai "topeng" atau wajah sosial bisa membuat kita terlalu sering menekan emosi sampai melupakan diri yang sebenarnya.

Terlalu lama memakai topeng memang bisa membuat seseorang lupa dengan dirinya sendiri karena menekan ragam emosi yang dirasakan, guna membuat topeng tetap ”sempurna”.

“Kalau topeng-topeng itu akhirnya kita jadi lupa diri kita kayak gimana, dan jadi membuat kita tidak ‘terhubung’ dengan diri kita yang asli,” kata Ina.

Menurut dia, apa yang bisa dilakukan adalah harus meningkatkan kemampuan untuk mawas diri. Dengan demikian, kamu lebih mudah merasakan bahwa kamu sudah kewalahan sampai tidak merasa seperti diri sendiri.

Dari momen itulah, kamu bisa melakukan hal-hal yang dapat membantu "menghubungkan" kembali dirimu saat ini yang sedang memakai topeng, dengan dirimu sebenarnya.

“Misalnya, ini (topeng) kayaknya terlalu bukan kita nih, ya sudah kita ‘balikin’ ke diri kita sendiri dulu dengan cara apa pun, misalnya self-care, journaling, atau apa pun,” tutur Ina.

Setelah itu, kamu bisa kembali menggunakan wajah sosial tersebut, tetapi dengan lebih memahami batasan supaya tidak sampai melupakan diri yang sebenarnya.

“Kalau kita mencoba untuk ‘menopengkan’ ekspektasi orang ke kita, pasti kita akan kehilangan diri kita sendiri. Boleh pakai topeng, tapi jangan sampai kebablasan,” pungkas Ina.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang