Berduka karena Orangtua Meninggal, Kapan Jadi Tidak Sehat? Ini Kata Psikolog
Kapan duka perlu diwaspadai dan mulai membahayakan diri? Apalagi dukanya cukup mendalam karena kehilangan sosok terkasih, khususnya orangtua.
Psikolog Agata Paskarista, M.Psi., Psikolog., CPS mengatakan, duka adalah respons alami terhadap kehilangan. Meski begitu, ketika kesedihan terasa begitu mendalam dan tak kunjung mereda, kondisi itu bisa menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan bantuan profesional.
Apa itu berduka?
Duka mendalam yang tak tertangani bisa berkembang jadi depresi. Psikolog menjelaskan kapan perlu mencari bantuan profesional agar bisa pulih.
Menurut Agata, berduka adalah proses emosional yang sangat personal. Setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda untuk memproses kehilangan.
Tidak ada patokan waktu yang pasti kapan seseorang harus sembuh dari duka.
“Jika rasa dukanya begitu berat hingga mempengaruhi banyak aspek di kehidupan seperti tidur, konsentrasi, pekerjaan, dan makan maka rasanya perlu untuk menemui profesional,” ujar Agata saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (16/10/2025).
Ia menambahkan, dalam fase awal kehilangan, seseorang wajar merasa sedih, hampa, atau bahkan menolak kenyataan.
Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan tersebut seharusnya mulai berangsur reda dan berganti menjadi penerimaan.
Kapan berduka menjadi tidak sehat?
Duka mendalam yang tak tertangani bisa berkembang jadi depresi. Psikolog menjelaskan kapan perlu mencari bantuan profesional agar bisa pulih.
Agata mengingatkan agar seseorang waspada bila kesedihan yang dirasakan terasa begitu dalam dan menetap dalam waktu lama. Terlebih jika perasaan hampa, kehilangan arah, dan putus asa muncul hampir setiap hari.
“Waspadai ketika kesedihan terasa begitu dalam dan menetap, bahkan membuat kamu merasa hampa terus-menerus atau kehilangan arah dan makna dalam kehidupan,” katanya.
Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut dikenal dengan istilah prolonged grief disorder (PGD) atau duka berkepanjangan.
Kondisi ini bukan sekadar perasaan sedih biasa, tetapi sudah mulai mengganggu fungsi sehari-hari seseorang.
Tanda-tanda duka berkepanjangan
Bila tidak ditangani, bisa menjadi gejala depresi
Duka mendalam yang tak tertangani bisa berkembang jadi depresi. Psikolog menjelaskan kapan perlu mencari bantuan profesional agar bisa pulih.
Agata menyebut, prolonged grief disorder dapat terlihat dari berbagai tanda, baik secara emosional maupun fisik.
“Prolonged grief disorder (PGD) atau duka berkepanjangan biasanya dapat terlihat dari adanya gangguan tidur, turunnya motivasi yang sangat drastis,” jelasnya.
Selain itu, seseorang mungkin juga mengalami penurunan konsentrasi, hilangnya minat terhadap hal-hal yang dulu disukai, dan muncul perasaan bersalah berlebihan kepada orang yang telah meninggal.
Dalam beberapa kasus, lanjut Agata, duka yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menjadi gejala depresi atau kecemasan.
“Muncul gejala depresi, kecemasan, kondisi tersebut biasanya perlu terapi khusus dari profesional, yaitu psikolog maupun ke psikiater,” ujarnya.
Mengapa bantuan profesional diperlukan?
Duka mendalam yang tak tertangani bisa berkembang jadi depresi. Psikolog menjelaskan kapan perlu mencari bantuan profesional agar bisa pulih.
Agata menuturkan, mencari bantuan profesional bukan berarti seseorang lemah. Justru langkah tersebut menunjukkan keberanian dan kesadaran diri untuk pulih.
Terapi yang dilakukan oleh psikolog atau psikiater dapat membantu seseorang mengenali emosi, mengelola rasa kehilangan, dan membangun kembali keseimbangan hidup.
Dalam beberapa kasus, terapi juga membantu seseorang menemukan kembali makna hidup setelah kehilangan orang tercinta.
“Proses untuk bangkit dari duka memang tidak bisa dipaksakan, tetapi bisa diarahkan dengan perlahan,” tutur Agata.
Ia menambahkan, rasa rindu terhadap orang yang sudah meninggal akan selalu ada, tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perasaan itu dikelola.
Rindu seharusnya bisa hidup berdampingan dengan penerimaan, bukan menjadi luka yang terus terbuka.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.