Overthinking Sebelum Tidur, Mengapa Otak Lebih Berisik di Malam Hari? Ini Kata Psikolog

overthinking, psikologi, Overthinking Sebelum Tidur, Mengapa Otak Lebih Berisik di Malam Hari? Ini Kata Psikolog, 1. Hilangnya stimulasi eksternal, 2. Penurunan pertahanan kognitif, 3. Ritme sirkadian dan suasana hati, The Zeigarnik Effect, Ruminasi vs refleksi, Metacognition (berpikir tentang pikiran)

Malam hari adalah waktunya mengistirahatkan tubuh, baik fisik maupun psikis.

Namun sayang, saat kepala menyentuh bantal, bukan kantuk yang datang melainkan ingatan masa lalu yang terputar kembali dengan jelas.

Seperti misalnya, ingatan tentang kesalahan terbesar di tahun 2025, mimpi-mimpi yang harus kandas di depan mata, atau kegagalan-kegagalan yang membuat malu.

Banyak orang menjadi overthinking justru di malam hari. Mengapa bisa begitu?

Penyebab overthinking di malam hari

Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal mengungkap ada alasan sains dan psikologis mengapa malam hari menjadi "panggung utama" bagi pikiran yang berisik.

"Secara psikologis, ada transisi drastis yang terjadi saat kita berbaring di tempat tidur," ujar Danti kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).

Transisi yang memicu overthinking tersebut adalah:

1. Hilangnya stimulasi eksternal

Di siang hari, otak kita sibuk memproses jutaan informasi (pekerjaan, HP, interaksi sosial). Saat malam, suara bising itu hilang.

"Dalam keheningan, otak yang terbiasa "bekerja" tidak punya objek untuk diproses, sehingga ia mulai menggali ke dalam (introspeksi) secara berlebihan," papar Danti.

2. Penurunan pertahanan kognitif

Saat lelah, energi untuk melakukan self-regulation (mengatur emosi) menurun.

"Kita menjadi lebih rentan terhadap distorsi kognitif. Pikiran yang biasanya bisa kita abaikan di jam 2 siang, mendadak terasa sangat nyata dan mengancam di jam 2 pagi," jelas Danti.

3. Ritme sirkadian dan suasana hati

Penelitian menunjukkan bahwa emosi negatif cenderung meningkat di titik terendah ritme sirkadian kita, yaitu di tengah malam hingga dini hari.

Ini adalah sisa mekanisme evolusi di mana kewaspadaan meningkat saat gelap untuk perlindungan diri.

Apa yang terjadi pada otak di malam hari?

Danti menjelaskan beberapa konsep psikologi yang menjelaskan mengapa pikiran kita "berputar di tempat" saat malam hari.

The Zeigarnik Effect

Otak manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mengingat tugas yang belum selesai atau masalah yang belum terpecahkan daripada yang sudah selesai.

Dan malam hari adalah waktu di mana daftar "utang" mental ini muncul ke permukaan, menuntut penyelesaian yang sebenarnya tidak bisa dilakukan saat itu juga.

Ruminasi vs refleksi

Banyak orang mengira mereka sedang melakukan refleksi diri, padahal yang terjadi adalah ruminasi.

Refleksi sendiri berorientasi pada solusi, seperti apa yang bisa saya pelajari, dan lain-lain.

Sedangkan ruminasi adalah berorientasi pada masalah dan berulang, seperti "Kenapa saya bodoh sekali?"

"Ruminasi seperti menginjak gas di mobil yang sedang dalam posisi netral. Mesin meraung, tapi kamu tidak bergerak ke mana-mana," sambung Danti.

Metacognition (berpikir tentang pikiran)

Orang dengan gangguan overthinking sering kali memiliki positive beliefs about worry

"Dalam psikologi, khususnya dalam Teori Metakognitif yang dikembangkan oleh Adrian Wells, positive beliefs about worry (keyakinan positif tentang kekhawatiran) adalah "bahan bakar" utama yang membuat seseorang terus-menerus terjebak dalam siklus overthinking," jelas Danti.

Keyakinan positif ini membuat individu merasa takut untuk berhenti khawatir. Saat seorang terapis atau teman menyarankan untuk "rileks," sistem metakognitif mereka akan menolak karena menganggap rileks itu berbahaya atau tidak bertanggung jawab.

Akibatnya, terjadi dinamika yang disebut Type 2 Worry (Meta-Worry), yaitu:

  • Fase 1: Muncul pikiran negatif (khawatir tentang uang/pekerjaan)
  • Fase 2: Keyakinan positif memvalidasi pikiran tersebut (Ayo pikirkan terus, biar aman!)
  • Fase 3: Karena tidak berhenti-berhenti, muncul kekhawatiran baru, "Kenapa saya tidak bisa berhenti berpikir? Saya bisa gila kalau begini terus."

Inilah titik di mana overthinking berubah menjadi gangguan kecemasan yang melumpuhkan, karena individu khawatir tentang fakta bahwa mereka sedang khawatir.

"Individu tidak sekadar khawatir; secara tidak sadar, mereka percaya bahwa mengkhawatirkan sesuatu adalah strategi yang berguna, perlu, dan bahkan menyelamatkan," ujar Danti.

Mereka secara tidak sadar percaya bahwa dengan memikirkan hal buruk secara terus-menerus, mereka sedang "bersiap-siap" atau "mencegah" hal itu terjadi.

Dan ini, adalah ilusi kontrol.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang