Bagaimana Agar Anak Tidak Terlalu Berkiblat pada Idolanya? Ini Kata Psikolog

Bagaimana Agar Anak Tidak Terlalu Berkiblat pada Idolanya? Ini Kata Psikolog, Anak Sedang Mencari Identitas Diri, Orangtua Tidak Perlu Langsung Melarang, Bangun Rasa Percaya Diri Anak, Ajarkan Anak Berpikir Kritis

Mengidolakan penyanyi, gamers, aktor, atau figur publik tertentu merupakan hal yang wajar dalam proses tumbuh kembang anak.

Melalui sosok yang dikagumi, anak dapat menemukan inspirasi, motivasi, bahkan gambaran tentang sosok yang ingin mereka teladani.

Namun, tak sedikit orangtua khawatir ketika anak mulai terlalu terobsesi pada idolanya, mulai dari meniru gaya berpakaian, membeli semua produk yang digunakan sang idola, hingga menjadikan pendapat idolanya sebagai acuan utama.

Kondisi ini sering dikaitkan dengan fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal atau tidak menjadi bagian dari kelompok tertentu.

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan bahwa kecenderungan tersebut perlu dipahami dalam konteks perkembangan anak, terutama saat mereka sedang membangun identitas diri dan mencari penerimaan dari lingkungan sosialnya.

Anak Sedang Mencari Identitas Diri

Menurut Vera, anak usia sekolah sedang berada dalam fase membangun identitas diri dan mencari penerimaan dari lingkungan sosialnya.

"Pada usia ini, anak sedang membangun identitas diri dan mencari penerimaan dari lingkungan sosial atau pergaulannya," ujar Vera kepada Kompas.com.

Karena itu, anak cenderung mencari figur yang mereka kagumi dan anggap menarik untuk dijadikan panutan.

Kehadiran media sosial juga membuat anak semakin mudah terpapar pada kehidupan para idola yang mereka ikuti.

"Pada usia ini (sekolah dasar), kemampuan berpikir kritis mereka juga belum sepenuhnya matang sehingga informasi yang sering muncul di media sosial atau dibicarakan teman-temannya cenderung dianggap menarik dan penting. Ketika suatu produk menjadi viral, anak dapat melihatnya sebagai simbol untuk menjadi bagian dari kelompok atau agar tidak dianggap berbeda dari teman-temannya," ungkapnya.

Bagaimana Agar Anak Tidak Terlalu Berkiblat pada Idolanya? Ini Kata Psikolog, Anak Sedang Mencari Identitas Diri, Orangtua Tidak Perlu Langsung Melarang, Bangun Rasa Percaya Diri Anak, Ajarkan Anak Berpikir Kritis

Mengikuti tren viral sering membuat anak SD mengalami FOMO. Psikolog menjelaskan penyebabnya serta cara orangtua menyikapinya.

Orangtua Tidak Perlu Langsung Melarang

Ketika anak sangat mengidolakan seseorang, orangtua tidak perlu langsung melarang atau meremehkan ketertarikan tersebut.

Sebaliknya, orangtua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai alasan mereka mengagumi sosok tersebut.

Dari sana, orangtua bisa membantu anak melihat bahwa yang patut diteladani bukan hanya penampilan atau popularitasnya, tetapi juga nilai-nilai positif seperti kerja keras, disiplin, dan kreativitas.

Bangun Rasa Percaya Diri Anak

Vera menekankan pentingnya membantu anak membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada tren, barang, atau pengakuan dari luar.

Orangtua dapat lebih sering memberikan apresiasi terhadap usaha, kemampuan, sikap baik, dan pencapaian anak dalam kehidupan sehari-hari.

"Orangtua perlu membantu anak mengembangkan rasa percaya diri yang tidak bergantung pada barang yang dimiliki. Fokuskan apresiasi pada usaha, kemampuan, sikap baik, dan pencapaian anak, bukan pada penampilan atau kepemilikan benda tertentu," ujar Vera.

Dengan begitu, anak belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh seberapa mirip dirinya dengan sang idola atau seberapa banyak barang yang berkaitan dengan figur tersebut yang dimilikinya.

Ajarkan Anak Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis juga perlu dilatih sejak dini. Orangtua dapat mengajak anak berdiskusi tentang apa yang mereka lihat di media sosial dan membantu mereka memahami bahwa tidak semua hal yang dilakukan idola harus ditiru.

Pendekatan ini membantu anak belajar mengambil inspirasi dari sosok yang dikagumi tanpa kehilangan jati diri.

Orangtua Perlu Menjadi Teladan

Selain memberikan arahan, orangtua juga perlu menunjukkan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap bijak dalam menyikapi tren, figur publik, maupun media sosial akan menjadi pelajaran penting bagi anak.

Sebab, anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orangtua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan amati setiap hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang