Babak Baru Drama TikTok di AS, Trump dan Xi Jinping Sepakat soal Nasib TikTok
Drama soal kepemilikan dan pengendalian operasional TikTok di Amerika Serikat (AS) mencapai babak baru.
Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa Presiden China Xi Jinping telah setuju dengan kesepakatan terkait nasib TikTok di AS.
"Dia menyetujui kesepakatan TikTok," kata Trump di Oval Office, ruang kerja utama Trump di Gedung Putih, Jumat (19/9/2025), dilansir dari Reuters.
Dalam unggahan di akun Truth Social, Trump juga menyampaikan bahwa ia telah menghubungi Xi Jinping melalui sambungan telepon.
“Saya baru saja menyelesaikan panggilan telepon yang 'sangat produktif' dengan Presiden Xi dari China. Kami membuat kemajuan dalam banyak isu penting, termasuk ... persetujuan atas kesepakatan TikTok," kata Trump di akun Truth Social.
Trump belum merinci kesepakatan yang ia buat dengan Xi Jinping. Namun kabarnya, hal ini melibatkan penjualan atau pengalihan bisnis TikTok ke kelompok investor atau perusahaan asal AS, salah satunya Oracle.
Selain sepakat soal masa depan TikTok di AS, Trump juga menyebut dirinya akan bertemu dengan Xi Jinping di ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Korea Selatan pada 28-31 Oktober 2025 mendatang.
Di momen ini, pembicaraan soal kesepakatan TikTok dan hal-hal terkait lainnya mungkin akan lebih intens dan serius, dan mungkin akan mencapai babak akhir setelah drama panjang sejak 2020 lalu.
"Kami akan kembali berbicara melalui telepon di masa depan. Saya menghargai sekali persetujuan terkait TikTok di AS, dan kami berdua menantikan pertemuan kami di APEC," pungkas Trump.
Tangkapan layar unggahan Presiden AS Donald Trump di media sosial Truth Social, terkait kesepakatan baru dengan Presiden China Xi jinping soal nasib TikTok di AS.
Ini merupakan kali kedua Trump dan Xi melakukan pembicaraan pada 2025. Sebelumnya, pada Juni lalu, keduanya sempat melakukan pembicaraan, namun hanya membahas ekspor mineral tanah jarang dari China ke AS.
Respons ByteDance
Terkait kesepaktan baru yang dihasilkan lewat telepon ini, Juru Bicara ByteDance (induk TikTok) memberikan sebuah pernyataan berupa apresiasi terhadap kedua pemimpin negara ini di blog resmi mereka.
“Kami berterima kasih kepada Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump atas upaya mereka menjaga keberlangsungan TikTok di AS," tulis Juru Bicara ByteDance.
"Kami akan bekerja sama dan berkolaborasi sesuai hukum yang berlaku untuk memastikan TikTok tetap tersedia bagi pengguna di AS melalui entitas TikTok AS," tambah ByteDance.
Drama panjang TikTok di AS
Ilustrasi logo TikTok di konflik AS-China.
Drama soal nasib TikTok di AS ini sudah berlangsung sejak 2020 lalu, tepatnya ketika Trump pertama kali menggulirkan wacana pelarangan aplikasi tersebut dengan alasan keamanan data.
Saat itu, Trump menekan agar TikTok dijual ke perusahaan AS, dan sempat muncul nama Microsoft hingga Oracle sebagai calon pembeli.
Ketika pemerintahan berganti ke Joe Biden pada 2021–2023, isu mereda, meski tekanan dari Kongres tidak berhenti dan TikTok beberapa kali dipanggil ke sidang dengar pendapat di Capitol Hill.
Memasuki awal 2024, Kongres akhirnya meloloskan undang-undang yang mewajibkan ByteDance melepas kepemilikan TikTok di AS, dengan konsekuensi aplikasi akan diblokir bila aturan tak dipenuhi.
Pada Januari 2025, Mahkamah Agung AS menguatkan undang-undang tersebut dan TikTok sempat diblokir dan tak bisa dipakai pengguna AS selama beberapa hari sebelum larangan ditunda.
Setelah kembali menjabat sebagai presiden, Trump menunda larangan alias pemblokiran tersebut hingga empat kali sepanjang Januari–September 2025, sembari membuka jalur negosiasi dengan China.
Puncaknya, pada 19 September 2025 kemarin, Trump mengumumkan kesepakatan dengan Presiden Xi Jinping yang memungkinkan bisnis TikTok di AS dijual ke konsorsium investor Amerika, termasuk Oracle.
Sementara ByteDance akan tetap terlibat lewat lisensi algoritma supaya TikTok bisa berjalan seperti biasanya dan merekomendasikan video yang sesuai kepada pengguna.
Meski ada kesepakatan, nasib TikTok di AS belum jelas sepenuhnya. Sebab, kemungkinan masih akan ada beragam hal dan proses yang harus dilakukan AS dan TikTok.
Trump menetapkan tenggat baru (deadline) terkait larangan TikTok hingga Desember 2025.
Jika kesepakatan atau transaksi terkait TikTok gagal dirampungkan di bulan tersebut, TikTok kembali terancam diblokir di AS, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari BBC, Sabtu (20/9/2025).
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.