Pahala Puasa Hilang Karena Ghibah? Buya Yahya Ingatkan Pentingnya Jaga Lisan
Pendakwah Buya Yahya mengingatkan ada hal-hal yang tampak sepele dan tidak membatalkan puasa secara hukum fikih, tetapi bisa menghapus pahala puasa. Hal ini sebagaimana esensi puasa yang tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga sejak waktu imsak hingga adzan maghrib berkumandang.
Buya Yahya mengingatkan bahwa pahala adalah sesuatu yang tersembunyi dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Karena itu, seseorang bisa saja merasa puasanya sah, padahal tanpa disadari pahala yang ia harapkan justru terkikis oleh perbuatan buruk.
Oleh sebab itu, ia meminta supaya umat Islam tidak hanya fokus pada puasa lahiriah, tetapi juga menjaga 'puasa batin' agar pahala Ramadhan tidak terhapus. Hal ini gun mengindari terhapusnya pahala karena perbuatan 'ringan' itu.
“Ada hal yang tidak membatalkan puasa. Akan tetapi menjadikan hilangnya pahala puasa. Sehingga seorang hamba yang berpuasa itu tidak mendapatkan (pahala) kecuali lapar dan dahaga,” ujar Buya Yahya dikutip dari kanal YouTube Al-Bahjah TV pada Kamis, 19 Februari 2026.
Ilustrasi bergosip/gibah.
Kata Buya Yahya, seseorang tetap sah puasanya jika tidak makan, minum, dan tidak berhubungan suami istri. Namun, jika setiap hari lisannya dipenuhi kata-kata kotor, ghibah, merendahkan, atau mencela orang lain, maka pahala puasanya bisa hilang tanpa disadari.
“Kadang ini tidak disadari, padahal itu menjadikan pahala itu hapus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, orang yang bekata kasar atau bergunjing tidak melanggar secara rukun puasa karena tidak melanggar rukun puasa, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya puasa batin, khususnya di bulan Ramadan.
“Rukun puasa sudah jelas itu puasa dzahir, tetapi ada puasa batin. Nabi menyebutkan tentang puasa batin maknanya menjaga sesuatu yang menjadikan hilangnya pahala-pahala (puasa),” jelasnya.
Buya Yahya menyinggung salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menyebut puasa sebagai benteng. Buya Yahya menekankan makna benteng tersebut bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga moral dan perilaku.
“Artinya hendaknya yang namanya puasa itu bisa menjadi benteng, bisa menjadi tameng agar kita tidak masuk dalam kesalahan, kemaksiatan, dosa dan neraka,” tuturnya.
Ia secara khusus menyoroti pentingnya menjaga lisan. Perkataan kotor, jorok, membangkitkan syahwat, hingga ucapan yang memicu pertikaian termasuk hal yang dapat menghapus pahala puasa.
“Kalau kita berpuasa ini hendaknya kita menghindari dari kalimat-kalimat yang kotor, jorok, membangkitkan syahwat, menjadikan sebab pertikaian,” kata Buya Yahya.
Buya Yahya juga menjelaskan istilah jahal, yakni melakukan sesuatu tanpa merenungkan dampaknya bahkan akibatnya bisa sangat berbahaya. Misalnya ucapan yang memicu permusuhan, adu domba, hingga meremehkan orang orang lain.
“Di dalam kita berpuasa ini hendaknya puasa kita itu menjadikan kita waspada di dalam menjaga lisan kita,” tegasnya.