Tayangan Xpose Trans7 Diduga Lecehkan Pesantren, Apa Itu 'Ngalap Berkah Kiai' yang Sering Dilakukan Santri?

Ilustrasi santri
Ilustrasi santri

 Tayangan program "Xpose Uncensored" di stasiun televisi Trans7 baru-baru ini memantik kontroversi besar dan menuai kecaman keras dari berbagai pihak, khususnya komunitas pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU). Program tersebut dinilai telah melecehkan martabat pesantren dan para tokoh yang dimuliakan oleh kalangan nahdliyin.

Konten yang menjadi pokok permasalahan adalah sebuah cuplikan video yang menampilkan aktivitas para santri dan jemaah yang berupaya menyalami seorang kiai, termasuk momen ketika kiai tersebut turun dari mobil. Narasi yang menyertai video tersebut disinyalir mengandung unsur merendahkan. Narator menyebutkan bahwa para santri rela sampai "ngesot" demi bersalaman dan memberikan amplop kepada kiai. 

Lebih lanjut, narator melontarkan pernyataan bahwa kiai yang dianggap sudah memiliki harta berlebih seharusnya justru memberikan amplop kepada santri, bukan sebaliknya.

Reaksi atas tayangan yang dianggap provokatif dan tidak proporsional ini menyebar cepat di media sosial, memicu gelombang protes dan bahkan seruan boikot terhadap Trans7. 

Memahami 'Ngalap Berkah' atau Tabarruk dalam Tradisi Pesantren

Isu ini juga menyeruak kembali diskusi mengenai praktik keagamaan yang sudah mengakar kuat di kalangan santri, yaitu tabarruk atau yang lebih dikenal di pesantren sebagai ngalap berkah (meraih keberkahan) dari kiai. Praktik ini sering disalahpahami oleh pihak luar, sehingga menimbulkan narasi yang keliru seperti yang disajikan dalam tayangan kontroversial tersebut.

Menurut Prof. Shobah Ali Al-Bayati, seorang cendekiawan Muslim Irak, dalam bukunya ”At-Tabarruk” (diterjemahkan sebagai ”Tabarruk Ceraplah Berkah dari Nabi dan Orang Saleh”), tabarruk merupakan upaya meraih kebaikan, berkah, dan kebahagiaan dengan menjadikan sesuatu yang diistimewakan oleh Allah sebagai media. 

Hal yang diistimewakan ini diyakini telah dialiri keberkahan ilahi. Prof. Shobah mendefinisikan berkah secara ilmiah sebagai "energi positif" yang amat kuat, terpancar ketika seseorang berinteraksi dengan media tersebut, tentunya dengan izin Allah SWT.

Melansir laman NU Online, praktik ini bukanlah bid’ah atau hal baru yang dilarang, melainkan memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an sendiri banyak mengisahkan tentang berkah, seperti dalam firman-Nya, "Rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlulbait!" (QS Huud 11: 73) dan "Dan ini (Al-Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi" (Al-An’am 6: 92).

Sejarah juga mencatat bahwa tabarruk telah dilakukan sejak zaman para Nabi dan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Salah satu kisah yang masyhur adalah ketika Nabi Yusuf AS menitipkan gamisnya agar diusapkan ke wajah ayahnya, Nabi Ya’kub AS, yang telah kehilangan penglihatan karena kesedihan mendalam. 

Atas izin Allah, gamis itu berhasil menyembuhkan penglihatan Nabi Ya’kub AS. Kisah ini menunjukkan bahwa benda yang bersentuhan dengan orang saleh dapat menjadi medium keberkahan.

Dalam konteks pesantren, kiai sebagai pewaris para Nabi (warasatul anbiya) diyakini sebagai pribadi yang saleh dan dekat dengan Allah, sehingga berinteraksi dengan mereka, seperti bersalaman (mencium tangan) atau memohon doa, dianggap sebagai jalan untuk mendapatkan keberkahan. 

Tindakan tersebut merupakan bentuk penghormatan, ketaatan, dan pengharapan tulus, bukan sekadar urusan materi apalagi eksploitasi. Adanya pemberian amplop (sodaqoh) dari santri atau jemaah juga lebih dimaknai sebagai tradisi penghormatan, sedekah, dan wujud mahabbah (kecintaan) kepada guru dan ulama.

Praktik ngalap berkah ini sejajar dengan penghormatan umat Islam di seluruh dunia terhadap syiar-syiar di Tanah Haram, seperti Hajar Aswad, Ka’bah, atau makam para ulama dan orang saleh. Aktivitas seperti menziarahi, berdoa, mempelajari, bersilaturahmi, memohon doa, hingga menghormati sosok kiai, semuanya tergolong dalam ranah tabarruk yang dilakukan dengan tulus, tanpa jatuh pada pengkultusan yang berlebihan.