Dugaan Bullying di Brebes Berujung Kematian Siswa, Sekolah Lakukan Mediasi, Keluarga Tolak Uang Damai

Brebes, Dugaan Bullying di Brebes Berujung Kematian Siswa, Sekolah Lakukan Mediasi, Keluarga Tolak Uang Damai, Mengeluh Sakit Usai Pulang Sekolah, Mengaku Dipukuli Teman Sekolah, Sekolah Lakukan Mediasi, Keluarga Tolak Uang Damai, Lapor ke Polisi, Kasus Belum Ada Perkembangan

 Pihak sekolah MTs di Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, memfasilitasi proses mediasi menyusul dugaan kasus bullying yang menimpa siswanya, Azka Rizki Fadholi, hingga berujung meninggal dunia.

Namun, upaya penyelesaian secara kekeluargaan tersebut ditolak keluarga korban setelah adanya tawaran uang damai dari keluarga terduga pelaku, karena keluarga memilih menempuh jalur hukum.

Ditemui pada Minggu (14/12/2025), Siti Royanah (42), warga Dukuh Kedawon, Desa Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menceritakan bahwa tiga bulan telah berlalu sejak kepergian Azka pada Selasa, 12 Agustus 2025.

Namun, luka dan pertanyaan atas kematian anaknya belum juga terjawab.

Menurut Siti, Azka dikenal sebagai anak penurut dan jarang mengeluh. Ia baru menyadari ada kejanggalan setelah Azka pulang sekolah pada Jumat, 8 Agustus 2025 dalam kondisi murung dan langsung masuk ke kamar.

“Biasanya ceria, tapi waktu itu pulang sekolah langsung masuk kamar,” kata Siti.

Mengeluh Sakit Usai Pulang Sekolah

Saat waktu Salat Jumat tiba, paman Azka datang mengajak berangkat bersama. Namun, Azka mengeluh tidak enak badan.

“Kepala saya sakit, Bu, enggak kuat buat bangun,” ujar Siti menirukan ucapan anaknya.

Keesokan harinya, Sabtu (9/8/2025), Azka tetap memaksakan diri berangkat ke sekolah. Siti mengaku curiga ketika melihat kaus kaki anaknya kotor, seperti bekas terperosok ke lumpur.

“Saya suruh ganti kaus kakinya yang kotor, tapi almarhum enggak mau,” ungkapnya.

Malam harinya, Azka mengeluhkan rasa sakit di sejumlah bagian tubuh.

“Almarhum mengaku sakit di bagian dada dan tangan. Saya suruh coba digerakkan tangannya, tapi enggak bisa. Akhirnya saya bawa ke tukang urut,” tutur Siti.

Sejak saat itu, kondisi Azka semakin memburuk. Ia lebih banyak mengurung diri di kamar dan kehilangan keceriaannya.

“Sejak Sabtu sampai Minggu hanya di kamar. Makan pun saya antar ke kamar,” kata Siti.

Mengaku Dipukuli Teman Sekolah

Pada Senin dini hari, 11 Agustus 2025, Azka keluar kamar dengan dipapah kakaknya untuk ke toilet. Siti yang saat itu sedang memasak mi instan di dapur melihat kondisi anaknya nyaris terjatuh.

“Saat sampai di samping saya hampir jatuh, kemudian saya rangkul dan antar ke toilet,” ujarnya.

Usai dari toilet, Azka duduk di ruang tamu. Siti yang diliputi kecemasan kembali menanyakan kondisi anaknya.

“Saya tanya sambil menangis, kamu kenapa.”

Saat itulah, Azka akhirnya mengaku menjadi korban kekerasan di sekolah.

“Almarhum bilang, ‘Saya mau ngomong, tapi ibu jangan marah. Saya dipukuli sama teman di sekolah. Saya diancam jangan ngomong sama siapa-siapa,’” kata Siti.

Tak lama kemudian, Azka mengalami kejang. Siti segera membawanya ke puskesmas. Namun, pihak puskesmas menolak menangani dan meminta agar korban langsung dibawa ke rumah sakit.

Azka kemudian dirawat di RS Harapan Sehat Jatibarang. Setelah menjalani perawatan selama satu hari, kondisinya semakin menurun.

“Trombositnya turun. Pada Selasa, 12 Agustus 2025 petang, korban dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit,” ujar Siti.

Sekolah Lakukan Mediasi, Keluarga Tolak Uang Damai

Siti menyebut, sebelum meninggal, Azka sempat menyebut empat nama teman sekolah yang diduga melakukan bullying terhadap dirinya di MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa, Kecamatan Larangan.

Beberapa hari setelah pemakaman, pihak keluarga terduga pelaku bersama pihak sekolah mendatangi rumah duka. Sekolah kemudian memfasilitasi proses mediasi antara kedua belah pihak.

Dalam pertemuan itu, keluarga terduga pelaku disebut menawarkan uang damai. Namun, tawaran tersebut ditolak tegas oleh keluarga korban.

“Sempat ada mediasi dengan pihak sekolah dan keluarga terduga pelaku. Awalnya ditawarkan Rp 5 juta, kemudian Rp 10 juta, tapi saya menolak. Saya ingin lanjut ke jalur hukum,” tegas Siti.

Lapor ke Polisi, Kasus Belum Ada Perkembangan

Siti akhirnya melaporkan kasus dugaan bullying yang berujung kematian siswa tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Brebes, didampingi kuasa hukumnya, Fery Junaidi, S.H.

Laporan resmi diterima oleh piket Reskrim Polres Brebes, Brigadir Polisi R Putri S., S.H., tertanggal 21 Agustus 2025.

Sebulan kemudian, Siti kembali dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan lanjutan pada 24 September 2025. Surat panggilan tersebut ditandatangani Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Resandro Handrianjati.

Namun hingga kini, Siti mengaku belum melihat perkembangan berarti dalam penanganan kasus tersebut.

“Saya sudah lapor ke kepolisian, sudah tiga bulan belum ada perkembangan. Saya ingin kasus saya diperlakukan sama seperti yang lain, jangan dibedakan dengan yang punya uang,” ujarnya.

Kuasa hukum korban, Fery Junaidi, mengatakan proses hukum masih berjalan di kepolisian.

“Untuk perkembangan kasusnya, dalam waktu dekat kami akan mendatangi Polres Brebes,” kata Fery.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Resandro Handrianjati belum memberikan tanggapan saat dihubungi melalui pesan WhatsApp hingga berita ini ditayangkan.

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Pilu Wanita Brebes Anaknya Meninggal Diduga Jadi Korban Bullying, Lapor Polisi Tak Ada Perkembangan

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang