Kisah Sopir Bus dan Guru Honorer, dari Numpang ke Tenang berkat Rumah Subsidi

Kini setiap pagi, sopir bus antarkota Eko Widodo (45) bisa menikmati udara dari teras rumahnya sendiri, sesuatu yang dulu bahkan tak berani ia bayangkan.
Rumah itu sederhana saja, bercat putih, dengan kusen jendela dan pintu bernuansa coklat kayu. Di dinding sebelah kiri, keramik bermotif batu alam memberi aksen sederhana pada fasad rumah.
"Dulu saya pikir mengurus kredit rumah itu sulit, tak segampang kredit motor. Apalagi untuk ekonomi terbatas seperti saya ini," ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (31/1/2026).
Namun ternyata, anggapan Eko salah.
Sekarang, ia tak lagi menumpang. Di rumah sederhana yang berdiri atas namanya sendiri, ia bisa menarik napas lebih panjang.
Pagi hari pun terasa berbeda. Sambil menyeruput kopi, ia dapat melihat ketiga anaknya bersiap ke sekolah dengan tawa yang lebih lepas.
Kisah Eko memperjuangkan rumah subsidi
Selepas menikah hingga memiliki tiga orang anak, Eko tinggal di rumah ibu mertuanya di daerah Karanggede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Anak pertamanya kini duduk di bangku SMA, kedua di SMP, dan ketiga kelas 6 SD.
Menurut Eko, awalnya dia menjadi sopir truk ekspedisi. Baru lima tahun yang lalu, dia resmi bekerja di Rosalia Indah, dan setiap hari pulang pergi Solo-Jakarta mengantarkan penumpang.
"Meski pekerjaan sudah tetap, saya tetap tak punya keberanian kredit rumah, karena takut dengan syarat yang susah dan cicilan yang tinggi," paparnya.
Hingga pada suatu hari, informasi mengenai rumah subsidi mampir ke telinga anak dan istrinya.
"Mereka tiap hari muter-muter cari lokasi mana yang cocok. Akhirnya pilihan jatuh di Griya Madina di Klego, di Jalan Raya Karanggede Gemolong ini," paparnya.
Menurut Eko, proses pengajuan hingga akad kredit ternyata tak sesulit yang ia bayangkan.
Ia melakukan pengajuan kredit ke PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk di bulan Ramadhan, yaitu sekitar awal Maret 2025.
Selepas Lebaran, Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3) dari BTN pun keluar.
"Eh, ternyata SP3 langsung keluar sehabis Idul Fitri, sehingga pemborong perumahan saya waktu itu langsung bergegas membangun rumah subsidi saya, sekitar kurang lebih sebulanan," papar Eko.
Diketahui, Eko membeli rumah subsidi seharga Rp 160 juta waktu itu, dengan cicilan sekitar Rp 1.349.000 selama 15 tahun.
"Prosesnya gampang. Tak ada setahun selepas pengajuan, saya sudah memiliki rumah. Anak-anak terlihat lebih bahagia, lebih tenang dalam belajar dan bermain," paparnya penuh haru.
Memangkas jarak lewat rumah subsidi
Wahyu Edy Sazali, guru SD Negeri 1 Borobudur, Magelang nekat membeli rumah subsidi saat statusnya masih honorer.
Perjuangan memiliki rumah subsidi yang akhirnya bisa mengubah hidup, juga dirasakan oleh Wahyu Edy Sazali (42), seorang guru di wilayah Borobudur, Magelang, Jawa Tengah."Pada 2013 saya ditempatkan di Borobudur, dan saya terpaksa numpang tinggal di rumah nenek di Malangan, Ngargogondo," ujar pria asal Wonosobo itu saat ditemui Kompas.com usai jam sekolah, Selasa (27/1/2026).
Mengajar di SD Negeri Ringinputih 2, setiap harinya Wahyu harus menempuh perjalanan sejauh 9 kilometer sekali jalan. Jadi kalau dihitung pulang pergi, dalam sehari ia harus menempuh jarak sekitar 18 kilometer.
Hal ini tentu saja melelahkan, membuat Wahyu terpaksa mandi dan beristirahat di sekolah, jika di sore hari ia harus mengampu les atau kegiatan ekstrakurikuler siswa.
Hingga akhirnya pada 2021, saat dunia dilanda pandemi Covid-19, Wahyu yang saat itu masih berstatus sebagai guru honorer, nekat mengajukan kredit rumah subsidi.
Pengajuan hingga akad kredit melalui Kredit Pemilikan Rumah BTN (KPR BTN) juga dijalaninya dengan cukup mudah. Dan di akhir 2021, ia sudah bisa memiliki sepetak rumah yang jaraknya jauh lebih dekat ke sekolah.
"Jarak dari Perumahan Karangjati, Wringinputih ke SD Negeri 1 Borobudur ini cukup dekat, sekitar 3 kilometeran saja," ujarnya.
Wahyu mengaku, rumah subsidi bisa memangkas capek dan lelahnya dengan cukup efisien.
Meski, dengan penghasilan terbatasnya sebagai guru honorer, ia harus membayar cicilan selama kurang lebih 10 tahun.
"Alhamdulillah, baru-baru ini saya sudah diangkat sebagai PPPK. Dan berkat punya rumah sendiri, saya bisa mengembangkan bisnis sampingan saya breeding kucing ras," paparnya penuh senyum.
Konsumen ekonomi lemah
PT Kemas Anugerah Madina adalah developer yang membangun perumahan subsidi di Klego, Boyolali dan di Wringinputih, Borobudur.
Kemas Distya, direktur utama mengungkap, sudah 2 tahun ini menjajakan rumah subsidi di Perumahan Griya Madina, Boyolali.
"Sudah terjual 9 unit dari 25 unit yang ada. Semuanya bertipe rumah subsidi, dengan harga jual mengikuti aturan pemerintah, yaitu maksimal Rp 166 juta," paparnya kepada Kompas.com (25/1/2026) via sambungan telepon.
Selama ini perusahaannya selalu bekerja sama dengan BTN. Sehingga saat ada calon konsumen datang, ia langsung mengarahkan ke marketing BTN.
"Saya biasanya bertugas melakukan seleksi awal, yaitu cek di BI Checking. Saat sudah lolos pengecekan, saya langsung bantu mendaftarkan pengajuan kredit di BTN," ujarnya.
Kemas mengaku ada kepuasan tersendiri saat pengajuan kredit calon konsumennya di-acc.
"Senang bisa membantu konsumen-konsumen saya yang sebagian besar terdiri dari ekonomi lemah, seperti sopir bus, pegawai pabrik, pedagang pasar, dan pekerja serabutan," paparnya antusias.
Peran BTN dalam penyaluran rumah subsidi
Ilustrasi pengajuan KPR melalui BTN.
Menurut Darusman, Kredit Head BTN Magelang, ada beberapa kriteria masyarakat yang bisa membeli rumah subsidi."Yaitu belum memiliki rumah yang dibuktikan dari surat keterangan pemerintah setempat dan hasil slik OJK, berpenghasilan maksimal Rp 8 juta kalau belum menikah dan Rp 10 juta kalau sudah menikah, dan berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah," paparnya kepada Kompas.com, Rabu (18/2/2026).
Untuk mengajukan kredit, ada beberapa dokumen syarat yang harus dipenuhi, seperti KTP, KK, Surat Nikah, NPWP, pas foto, dan beberapa dokumen data pekerjaan seperti surat keterangan kerja, slip gaji, rekening koran, atau surat keterangan usaha.
Syarat dokumen ini tak menyulitkan konsumen, terbukti dengan banyaknya masyarakat yang sudah berhasil mengajukan kredit via KPR BTN.
Menurut Darusman, secara ketentuan, pemberian fasilitas kredit subsidi di BTN dan di bank lain tidak ada pembeda, karena fasilitas tersebut merupakan program pemerintah yang disalurkan oleh bank himbara dan bank daerah.
"Hanya saja secara persentase penyaluran terbesar memang di BTN," ujarnya.
Adapun pembeda BTN dengan bank lain bukan dari sisi fasilitas kreditnya, akan tetapi dari sisi layanan, seperti kecepatan proses dan biaya administrasi yang relatif lebih murah.
Sementara itu, demi memastikan KPR subsidi benar-benar tepat sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR, ada beberapa hal yang dilakukan oleh tim BTN.
Seperti melakukan screening awal lewat wawancara secara langsung, konfirmasi ke perusahaan tempat calon debitur bekerja, survei ke lokasi usaha, dan meminta beberapa surat pernyataan terkait MBR dari pemerintah setempat.
Dampak rumah subsidi
Di awal tahun ini, Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) melaporkan, sebanyak 7.312 unit rumah subsidi sudah diborong pembeli per 30 Januari 2026.
Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak Rp 912,4 miliar anggaran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sudah tersalurkan melalui program ini.
Pada tahun 2026 sendiri, Pemerintah dan BP Tapera mematok penyaluran FLPP sebanyak 350.000 unit rumah subsidi.
"Penyaluran ini meningkat hingga 177,7 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ada peningkatan signifikan penyaluran FLPP bulan Januari tahun ini jika dibandingkan tahun lalu," ujar Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, dilansir dari .
Diketahui, capaian penyaluran FLPP pada Januari 2025 hanya sebesar 2.633 unit rumah subsidi.
Selain itu, Heru juga mengungkap, BTN masih menjadi bank penyalur terbanyak dengan capaian 4.160 unit rumah subsidi.
Kisah Eko dan Wahyu, hanyalah sebagian kecil dari dampak program rumah subsidi secara nasional.
Jika Wahyu bisa memangkas lelah, kini Eko dapat melajukan busnya dengan lebih tenang, karena ada rumah sederhana yang selalu menunggunya pulang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang