Bank Dunia: 20 Persen Rumah Tangga Terkaya RI Nikmati Setengah dari Total Subsidi BBM

Ilustrasi Bank Dunia.
Ilustrasi Bank Dunia.

World Bank alias Bank Dunia melalui laporan "Indonesia Economic Prospects" edisi Juni 2026 mencatat, setengah dari total subsidi BBM yang digelontorkan oleh pemerintah Indonesia justru dinikmati oleh 20 persen golongan rumah tangga terkaya.

Ketidaktepat sasaran itu disoroti oleh Bank Dunia, utamanya di tengah situasi lonjakan harga minyak dunia saat ini. Sehingga, terjadi penggerusan terhadap ruang fiskal pemerintah Indonesia, dan makin membebani APBN melalui anggaran subsidi BBM yang dikucurkan terhadapnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dimana 20 persen rumah tangga terkaya justru menerima setengah dari total subsidi BBM," sebagaimana dikutip dari laporan 'Indonesia Economic Prospects' edisi Juni 2026, Jumat, 12 Juni 2026.

PT Pertamina Patra Niaga masih terus menyalurkan BBM jenis Pertalite (RON 90)

Kondisi itulah yang disoroti Bank Dunia, karena kelemahan dari penargetan subsidi BBM itu telah menambah beban fiskal pemerintah di tengah lonjakan harga minyak global saat ini.

Sebab, menurut mereka subsidi energi telah menjadi komponen belanja publik yang signifikan dan bergejolak, yang mencapai 1,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Hal itulah yang menjadi penyedot utama sumber daya fiskal dalam APBN nasional, karena sistem subsidi yang dinilai tidak tepat sasaran. Karenanya, Bank Dunia pun merekomendasikan pemerintah Indonesia untuk menjalankan tiga paket reformasi subsidi BBM.

Pertama, mencakup penyesuaian harga secara bertahap guna mempersempit jarak antara harga subsidi dan harga pasar. Kedua, pemberian bantuan langsung tunai, yang ditargetkan untuk 40 persen rumah tangga paling miskin guna mengimbangi dampak yang ditimbulkan.

Bank Dunia memperkirakan, jumlah nominal bantuan yang diberikan setiap bulan tidak akan menimbulkan beban fiskal terlalu besar, karena hanya sekitar 10 persen dari total penghematan BBM.

Ketiga, realokasi penghematan subsidi BBM untuk kegiatan perlindungan sosial, investasi publik, dan memberikan dukungan mata pencaharian bagi kelompok yang terdampak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pendekatan semacam itu menurut Bank Dunia akan menghasilkan penghematan fiskal setara 1,3 persen dari PDB, apabila dilakukan secara bertahap dalam rentang waktu dia tahun ke depan.

Dimana, nantinya diharapkan akan ada pertumbuhan ruang fiskal hingga mencapai 2,1 persen dari PDB, setelah kebijakan penyesuaian harga diterapkan secara menyeluruh.