Jalan 6 Kilometer Lewati Hutan Demi Mengajar, Kisah Guru Honorer di Sikka Ini Bikin Haru

Ilustrasi guru honorer mengajar di pelosok
Ilustrasi guru honorer mengajar di pelosok

Di sejumlah wilayah pelosok Indonesia, akses pendidikan masih menjadi tantangan yang nyata. Jalan yang sulit dilalui, fasilitas terbatas, hingga minimnya tenaga pendidik membuat proses belajar mengajar tidak selalu berjalan mudah. 

Namun di tengah kondisi itu, masih ada guru-guru yang memilih bertahan demi memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kisah tersebut datang dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Seorang guru honorer bernama Yustina Yuniarti menjalani rutinitas yang tidak ringan demi mengajar murid-murid di SDK Wukur. Setiap hari, ia harus berjalan sekitar 6 kilometer melewati jalan setapak dan kawasan hutan untuk sampai ke sekolah.

Perjalanan itu sudah dijalani Yustina selama bertahun-tahun. Meski medan yang dilalui cukup berat dan kondisi ekonomi tidak selalu mendukung, ia tetap memilih mengabdi sebagai tenaga pendidik di sekolah tersebut.

SDK Wukur sendiri merupakan sekolah sederhana yang saat ini menjadi tempat belajar bagi 34 siswa. Proses belajar mengajar di sana didampingi delapan tenaga pendidik yang sama-sama berjuang menghadapi keterbatasan akses.

Bagi Yustina, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk tanggung jawab untuk membantu anak-anak di daerahnya memperoleh pendidikan. “Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati,” tutur Yustina, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Rabu, 20 Mei 2026.

Selama 11 tahun mengajar, Yustina menjadi bagian dari wajah pendidikan di daerah terpencil yang jarang tersorot. Di tengah berbagai keterbatasan, para guru di pelosok tetap berusaha menjaga semangat belajar anak-anak agar tidak putus sekolah dan tetap memiliki harapan untuk masa depan.

Perjuangan guru di daerah terpencil memang kerap berjalan dalam sunyi. Tidak sedikit dari mereka yang harus menempuh perjalanan jauh, melewati jalan rusak, hingga menghadapi cuaca ekstrem demi bisa tiba di sekolah tepat waktu.

Kondisi itu pula yang membuat kisah Yustina menyentuh perhatian banyak orang. Ketulusannya mengajar di tengah keterbatasan dinilai menjadi gambaran nyata tentang dedikasi tenaga pendidik di pelosok Indonesia.

Belakangan, Yustina juga mendapat dukungan sosial dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Peduli. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya sebagai guru honorer di daerah terpencil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Yustina mengaku perhatian tersebut memberinya tambahan semangat untuk terus mengajar anak-anak di SDK Wukur. “Dukungan ini sangat berarti, bukan hanya untuk saya, tetapi juga menjadi semangat baru agar saya bisa terus mengajar anak-anak di sini. Semoga perhatian seperti ini membuat kami semakin kuat untuk tetap menjalankan tugas dengan hati,” ujar Yustina.

Kisah Yustina menjadi pengingat bahwa perjuangan mencerdaskan anak bangsa tidak selalu hadir dalam gedung sekolah yang megah. Di sejumlah daerah terpencil, pendidikan tetap berjalan berkat ketulusan guru-guru yang rela menempuh perjalanan panjang demi hadir di depan kelas setiap hari.