Kisah Desa di Aceh Tamiang yang Nyaris Hilang dan Rata dengan Tanah, Hanya Sisakan Bangunan Masjid

Aceh Tamiang, banjir aceh, aceh tamiang banjir, banjir dan longsor sumatera, Kisah Desa di Aceh Tamiang yang Nyaris Hilang dan Rata dengan Tanah, Hanya Sisakan Bangunan Masjid

Desa Sekumur, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, menjadi salah satu daerah paling parah terdampak banjir bandang pada akhir November 2025.

Ratusan rumah warga hilang tersapu arus setinggi sekitar 7 meter, meninggalkan reruntuhan kayu dan balok besar.

Warga yang selamat kini menghadapi kesulitan besar karena akses terbatas dan bantuan logistik yang minim.

Salah satu warga memberikan kesaksiannya atas kondisi Desa Sekumur yang nyaris hilang disapu bencana.

Muhammad Hendra Vramenia, warga Kampung Bundar, menceritakan kehancuran yang menimpa Desa Sekumur.

“Desanya itu sudah tidak ada lagi, sudah rata dengan tanah akibat disapu banjir. Hanya tinggal bangunan masjid,” kata Hendra pada Kompas.com, Sabtu (6/12/2025).

Sekitar 280 rumah di Desa Sekumur yang menjadi tempat bernaung 1.234 jiwa penduduknya kini hilang terbawa arus.

Hanya tersisa reruntuhan kayu dan balok besar menutupi sebagian besar lahan, membuat desa tampak kosong dan hancur.

Masyarakat Desa Sekumur Terisolir dan Minim Bantuan

Hendra menyebut kondisi Desa Sekumur dan desa-desa lain di Aceh Tamiang sangat memprihatinkan.

“Ini masih terisolir, kalau ada bantuan-bantuan tolonglah terobos ke daerah belum tersentuh. Karena 12 kecamatan di Aceh Tamiang itu semuanya terdampak. Makanya saya bilang ini seperti tsunami,” ujarnya.

Belum meratanya bantuan di wilayah ini membuat warga mulai resah karena kekurangan logistik dan takut kelaparan.

Hendra berharap pemerintah pusat menetapkan musibah ini sebagai bencana nasional.

“Ini harus di-recovery seperti pemerintah me-recovery tsunami di Banda Aceh. Kalau tidak bahaya, hari ini Aceh Tamiang itu sudah seperti kota kotoran. Kotoran sudah dimana-mana,” ucap dia.

Selain kebutuhan sandang dan pangan, warga Desa Sekumur memerlukan tenda atau hunian sementara.

“Kondisi kota Aceh Tamiang saat ini sangat luar biasa mencekam. Kalau malam hari seperti kota zombie karena mati lampu, bau tidak sedap, dan masih ada mayat belum terevakuasi. Baik di kota maupun kampung-kampung,” kata Hendra.

Hanya sebuah bangunan masjid yang tersisa menjadi satu-satunya simbol keteguhan di tengah reruntuhan desa yang rata dengan tanah.

Warga menunggu bantuan segera untuk bisa bertahan dan memulai pemulihan dari bencana yang menghancurkan rumah dan lingkungan mereka.

Aceh Tamiang, banjir aceh, aceh tamiang banjir, banjir dan longsor sumatera, Kisah Desa di Aceh Tamiang yang Nyaris Hilang dan Rata dengan Tanah, Hanya Sisakan Bangunan Masjid

Kondisi Kampung Sekumur Kecamatan Sekerak pascabanjir sumatera.

Dampak Bencana Banjir di Aceh Tamiang

Dilansir dari laman Pemprov Aceh, data terbaru yang diterima Posko Komando Pemerintah Aceh per Sabtu (6/12/2025) pukul 08.00 WIB mencatat update jumlah korban dan kerusakan fasilitas umum akibat bencana banjir di Aceh Tamiang. 

Akibat banjir yang menerjang 12 kecamatan, atau seluruh kecamatan di Aceh Tamiang, sebanyak 57 orang dilaporkan meninggal dunia dan 23 lainnya masih hilang. Selain itu, 18 warga mengalami luka-luka.

Tercatat 262.087 jiwa mengungsi, sementara 36.838 jiwa lainnya terdampak namun tidak mengungsi.

Dari laporan Posko Komando, ada 2.262 rumah rusak, termasuk 780 unit rusak berat dan 35 unit rusak sedang.

Fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 54 unit, ditambah 3 unit rusak berat.

Sarana kesehatan ikut terdampak dengan 1 unit rusak, sementara data kerusakan berat masih belum masuk.

Kerusakan juga terjadi pada sarana ibadah, sebanyak 33 unit rusak dan 2 unit rusak berat.

Sarana perkantoran yang terdampak mencapai 32 unit, dan 1 unit mengalami rusak berat.

Infrastruktur transportasi pun lumpuh dengan 2 jembatan rusak dan 1 jembatan putus total.

Juru Bicara (Jubir) Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, mengatakan situasi di lapangan masih sangat dinamis.

“Korban meninggal dunia bertambah dibanding laporan sebelumnya. Tim gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap warga yang dinyatakan hilang. Kerusakan fasilitas juga terus kami data karena akses ke beberapa lokasi masih terputus, terutama akibat jembatan yang hanyut,” ujarnya.

Hingga saat ini, petugas gabungan, relawan, TNI/Polri, dan BPBD masih bekerja di berbagai titik, terutama di kecamatan yang aksesnya sulit.

Pemerintah Aceh mengimbau warga tetap siaga dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “”. (Zuhri Noviandi, Icha Rastika )

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang