Rusia Buka Suara, Sebut UE Gunakan Iran untuk Alihkan Perhatian dari Isu Greenland

Rusia menilai para pejabat Uni Eropa mengalihkan fokus publik ke protes di Iran untuk menutupi isu klaim Amerika Serikat atas Greenland.
Pernyataan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, pada Rabu (14/1/2025) waktu setempat.
Menurutnya, isu Greenland seharusnya menjadi perhatian utama Brussel saat ini.
Rusia menyebut pergeseran fokus tersebut berpotensi mengaburkan kepentingan negara-negara anggota UE sendiri.
Rusia Nilai Isu Iran Jadi Pengalih Perhatian
Zakharova mengatakan para pejabat UE lebih menyoroti situasi di Iran ketimbang membahas klaim Washington atas Greenland.
“Mengapa tidak memfokuskan semua upaya Anda sekarang pada Greenland? Tidakkah Anda berpikir bahwa situasi di Iran telah menjadi dalih yang nyaman bagi para pejabat Uni Eropa untuk mengalihkan perhatian rakyat mereka dari fakta bahwa sebuah pulau itu sedang direbut dari mereka?” kata Zakharova kepada stasiun radio Sputnik.
Ia menambahkan, isu Greenland semestinya menjadi perhatian utama Brussel, meskipun saat ini tidak demikian.
Zakharova Singgung Peristiwa Krimea Pada 2014
Zakharova juga menyampaikan sindiran kepada para pejabat UE dengan merujuk pada sikap mereka terhadap peristiwa Krimea pada 2014.
“Saya ingin menyarankan... untuk membantu mereka sekarang, kata-kata mereka sendiri dari 2014. Biarkan mereka melihat apa yang mereka katakan tentang situasi di sekitar Krimea. Ini akan sangat berguna bagi mereka untuk membangkitkan semangat mereka tentang topik Greenland,” kata Zakharova.
Ia mendorong para pejabat UE mempertanyakan mengapa situasi di negara lain lebih menjadi perhatian dibanding kondisi di negara-negara anggota mereka sendiri.
Sebagai catatan, Krimea dimasukkan ke dalam Rusia pada 2014 setelah kudeta di Kiev, menyusul referendum yang mencatat 96,77 persen penduduk semenanjung tersebut mendukung langkah itu.
Sikap UE dan NATO Soal Greenland
Sementara itu, Uni Eropa disebut tidak yakin Amerika Serikat akan menggunakan kekuatan militer untuk merebut Greenland.
Hal itu dilaporkan surat kabar Politico dengan mengutip diplomat UE yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, para diplomat tersebut menilai Presiden AS Donald Trump berpotensi “mendapatkan sesuatu” dari tekanan yang ia lakukan.
Selain itu, NATO disebut meyakini bahwa serangan AS terhadap Greenland akan berarti berakhirnya aliansi tersebut, berdasarkan keterangan diplomat NATO yang dikutip laporan yang sama.
Politico menambahkan, serangan terbuka AS terhadap Greenland akan menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ujaran Trump Terkait Status Greenland yang Picu Polemik
Sebelumnya, Trump berulang kali menyatakan bahwa Greenland harus menjadi bagian dari AS dengan alasan kepentingan strategis bagi keamanan nasional dan pertahanan “dunia bebas,” termasuk dari China dan Rusia.
Otoritas Denmark dan Greenland telah memperingatkan AS agar tidak merebut pulau tersebut serta menegaskan harapan atas penghormatan terhadap integritas teritorial mereka.
Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953 dan tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark setelah memperoleh otonomi pada 2009, dengan kewenangan mengatur urusan dalam negeri sendiri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang