Beredar Video Awan Berputar di Malang Saat Musim Hujan, BMKG Ungkap Penyebabnya
Sebuah video yang memperlihatkan awan gelap berputar di tengah permukiman warga, viral di media sosial.
Dilansir dari unggahan akun Instagram @infi**** , Minggu (2/11/2025), fenomena tersebut terjadi saat angin puting beliung melanda wilayah Kabupaten Malang dan sekitarnya.
Dalam video terlihat sebuah pohon di bawah awan berputar tampak bergoyang hebat akibat kuatnya pusaran angin.
“Angin kencang menyebabkan sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Sumbersekar, Karangmloko, Dadaprejo, dan Semanding, yang saat ini mengalami pemadaman listrik,” tulis pengunggah dalam keterangan videonya.
Penyebab Awan Berputar Muncul di Malang
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Malang Swasti Ayudia mengonfirmasi bahwa kemunculan awan berputar terjadi saat puting beliung menerjang Malang.
Berdasarkan data yang diterima BMKG dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), peristiwa tersebut terjadi di Kecamatan Dau sekitar pukul 15.00 WIB.
“Mengakibatkan kerusakan puluhan rumah warga,” ujar Swasti kepada Kompas.com, Senin (3/11/2025).
Ia menjelaskan, berdasarkan analisis dinamika atmosfer, fenomena puting beliung terjadi karena adanya konvergensi atau pertemuan massa udara.
Faktor lain yang memicu puting beliung adalah suhu muka laut yang hangat, kondisi atmosfer yang tidak stabil atau labil dan atmosfer yang lembab dari lapisan rendah ke tinggi.
Kondisi tersebut dapat memicu pembentukan awan Cumulonimbus Supercell.
“Saat ini Malang sudah memasuki musim penghujan,cuaca saat awal-awal musim hujan sangat dinamis dan berpotensi mengakibatkan bencana hidrometeorologi,” pungkas Swasti.
Potensi Cuaca Ekstrem Indonesia
Sebelumnya, Dwikorita Karnawati yang masih menjabat sebagai Kepala BMKG pada Sabtu (1/11/2025), sudah memperingatkan bahwa wilayah Indonesia berpotensi dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Hal tersebut terjadi karena sebagian besar wilayah Indonesia memasuki puncak musim hujan.
Dwikorita menyampaikan, hujan sedang hingga lebat juga didukung dengan dinamika atmosfer yang aktif.
Kombinasi keduanya dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
“Kondisi atmosfer sangat labil dan kaya uap air akibat aktifnya monsun Asia serta suhu muka laut yang hangat. Hujan lebat hingga sangat lebat dengan curah hujan 80-150 mm per hari sudah terjadi di beberapa wilayah. Ini adalah sinyal kuat bahwa kita harus meningkatkan kesiapsiagaan,” ujarnya dikutip dari laman resmi BMKG, Sabtu (1/11/2025).
Ia menambahkan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sudah mengguyur beberapa wilayah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir.
Di antaranya, sebagian besar wilayah Jawa bagian barat dan tengah, meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta sebagian wilayah Yogyakarta.
43,8 persen wilayah Indonesia sudah masuk musim hujan
Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan, sebanyak 43,8 persen atau 306 zona musim (ZOM) wilayah Indonesia sudah masuk musim hujan.
BMKG memprediksi puncak musim hujan terjadi secara bertahap dari November 2025 hingga Februari 2026.
Dwikorita menyampaikan, puncak musim hujan dimulai dengan pola umum, yaitu pergerakan dari barat ke timur.
“Namun demikian, pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 menjadi fase puncak musim hujan utama bagi sebagian besar wilayah Indonesia yang berpotensi meningkatnya curah hujan tinggi dan bencana hidrometeorologi,” imbuhnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.