Bitcoin Rontok ke Bawah US$100.000 untuk Pertama Kali Sejak Juni, Analis Ungkap Penyebabnya
Pasar kripto goyang di pekan pertama bulan November 2025. Harga Bitcoin anjlok menembus level psikologis US$100.000 atau sekitar Rp1,67 miliar (estimasi kurs Rp 16.710 per dolar AS) pada Selasa malam waktu Amerika Serikat (AS), 4 November 2025.
Bitcoin tercatat merosot sekitar 5 persen ke posisi US$100.893 bahkan sempat menyentuh level terendah harian di US$99.966. Koreksi harga aset digital termahal di dunia ini menjadi jadi pertama kali sejak 23 Juni 2024 seiring meningkatnya sentimen kehati-hatian di pasar modal global.
Ether, kripto terbesar kedua, juga mengalami tekanan lebih dalam dengan koreksi hampir 9 persen ke level US$3.275. Berdasarkan pantauan VIVA hingga pukul 15.14 WIB pada Rabu, 5 November 2025, harga Bitcoin sudah kembali ke level US$101.683 namun masih terkoreksi 2,16 persen sepanjang 24 jam terakhir.
Tekanan terhadap Bitcoin terjadi di tengah kecemasan investor atas valuasi pasar saham yang dinilai telah melambung tinggi, terutama saham-saham teknologi yang mendapat dorongan dari isu kecerdasan buatan (AI). Nasdaq Composite, indeks sarat saham teknologi, terkoreksi lebih dari 1 persen pada hari yang sama.
Bitcoin.
"(Reli) Bitcoin dan pasar kripto secara umum sudah selesai. Bahkan dengan pertumbuhan stablecoin, peningkatan volume (aset fisik) dan Bitcoin yang semakin berperilaku seperti penyimpan nilai institusional pasar tidak peduli jadi kabar buruk sangat buruk bagi kripto saat ini dan kabar baik hampir tidak berpengaruh," ujar Pendiri Codex (platform stablecoin berbasis Ethereum, Haonan Li, dikutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 5 November 2025.
Di sisi lain, analis Compass Point, Ed Engel, juga menyoroti lesunya minat investor ritel untuk membeli di harga bawah yang sebelumnya menjadi penopang kebangkitan kripto saat terjadi koreksi. Ia memperingatkan potensi pelemahan lanjutan jika para investor jangka pendek ikut menutup posisinya.
Meski terdapat level dukungan teknikal di kisaran US$95.000, Engel menilai tidak banyak sentimen pemicu kenaikan dalam waktu dekat. Apalagi, pola musiman yang biasanya membuat harga Bitcoin menguat di Oktober tidak terjadi tahun ini, mengingat tren pelemahan yang justru berlanjut selama beberapa pekan terakhir.
"Dengan investor jangka pendek masih menjual, hal ini menimbulkan risiko penurunan lebih lanjut jika mereka menyerah lebih lanjut,” tulis Engel.
Engel mengatakan, Bitcoin terakhir kali gagal bangkit karena faktor musiman pada Oktober 2018. Pada bulan berikutnya, Bitcoin anjlok 37 persen.