Kisah Hari “Lima Puluh Ribu Bendera”, Saat Surabaya Lautan Merah Putih Pada 22 Agustus 1945

Surabaya, 22 Agustus 1945, hari pahlawan 10 november, pertempuran surabaya, hari pahlawan, 50000 bendera Surabaya, Hari Lima Puluh Ribu Bendera, Surabaya 1945, Kisah Hari “Lima Puluh Ribu Bendera”, Saat Surabaya Lautan Merah Putih Pada 22 Agustus 1945, 22 Agustus 1945, Hari Ketika Surabaya “Banjir Bendera”,  Pekik “Merdeka!” di Warung dan Jalanan, Peran media lokal dan tanda kepemilikan republik, Tindakan Mempertahankan Kemerdekaan

 Sebelum bergemanya suara meriam 10 November, ada satu hari yang luput dari catatan besar namun sarat makna yakni hari ketika puluhan ribu bendera Merah Putih menghiasi jalan, gang, dan perahu-perahu di sungai Surabaya.

Dari catatan buku Surabaya 1945: Sakral Tanahku muncul sebuah kisah penting, 22 Agustus 1945, hari yang oleh sebagian warga kemudian disebut Hari Bendera Nasional.

Hari itu rakyat Surabaya secara terbuka memasang puluhan ribu Sang Saka Merah Putih sebagai penanda dukungan atas Proklamasi dan kesiapan mempertahankan kemerdekaan.

22 Agustus 1945, Hari Ketika Surabaya “Banjir Bendera”

Tujuh hari setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, suasana Surabaya masih tegang. Pasukan Jepang berkewajiban memastikan kota “tenang” dan menyiapkan penyerahan tahanan perang warga Barat kepada Sekutu.

Namun rakyat Surabaya memilih menolak kembalinya kekuasaan asing, baik Jepang yang hendak menjalankan tugasnya, maupun Belanda yang berpotensi kembali dengan bantuan Inggris.

Siang tanggal 22 Agustus 1945, para pemilik toko dan kedai mulai memasang bendera Merah Putih di depan tempat dagang mereka.

papan merah putih dipancangkan ke tembok, tulisan Merdeka! muncul di gedung-gedung utama, dan bendera kecil serta stiker merah putih mendadak memenuhi sudut-sudut kota.

Kondisi ekonomi memaksa banyak bendera dibuat dari kertas bekas atau kain perca, tetapi semangatnya tak tergoyahkan.

“Puluhan ribu Sang Saka Merah Putih, dalam berbagai ukuran, bertebaran di mana-mana, berkat kerja keras para penjahit rumahan,” tulis penulis yang mengutip kesaksian Suhario.

 Pekik “Merdeka!” di Warung dan Jalanan

Pemandangan itu membuat tentara patroli Jepang dan Korea cemas. Mereka hendak “menertibkan,” namun kalah jumlah dan dukungan rakyat.

Becak dihias pita merah putih, penarik becak dan penumpang ikut mengibarkan bendera, warung-warung meneriakkan “Merdeka!” kepada setiap orang yang lewat.

Pelajar mengenakan ikatan kain merah putih di tangan, dan bendera diikat sepanjang tiang lampu jalan utama. Bahkan perahu-perahu di sungai mengibarkan Sang Saka.

Gerakan spontan ini berlangsung di seluruh lapisan masyarakat bukan hanya simbol politik, melainkan perayaan kolektif yang menandai kesediaan rakyat Surabaya mempertahankan kemerdekaan yang baru lahir.

Seorang penulis biografi menulis, “Gang-gang, jalanan dan kampung-kampung tiba-tiba bertaburan hias dengan bendera-bendera dari kain maupun kertas.”

Peran media lokal dan tanda kepemilikan republik

Staf Radio Surabaya menjadi pelopor langkah-langkah simbolis.

Setelah memastikan kebenaran berita Proklamasi, wartawan dan teknisi radio memasang papan bertuliskan “Kami pegawai Republik Indonesia” dan menyatakan bahwa Radio Surabaya adalah radio milik RI.

Langkah serupa menempel di dinding gedung-gedung yang sebelumnya dikuasai Jepang, tindakan yang kemudian ditiru luas oleh masyarakat: menaruh pengumuman “Milik R.I.” di berbagai bangunan.

Jika 22 Agustus menjadi api kecil harapan, rapat akbar besar (rapat raksaksa) di Lapangan Tambaksari pada 11 September memberi bahan bakar bagi perjuangan.

Ribuan warga membludak, mendengarkan pidato para tokoh setempat. sebuah momen yang membuat banyak orang yakin bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi.

Seorang saksi menulis, “Sebuah momen yang bersejarah. Saya rasakan itu!”

Rangkaian ini berujung pada peristiwa-peristiwa yang makin mengeras. Perampasan gudang senjata Jepang di Gunungsari oleh kelompok pemuda yang dipimpin Isa Edris, serta insiden-insiden yang kemudian meletup menjadi pertempuran-pertempuran yang terkenal dalam sejarah Surabaya.

Tindakan Mempertahankan Kemerdekaan

Gerakan pemasangan bendera pada Agustus 1945 menunjukkan transformasi rakyat Surabaya dari pendukung pasif menjadi pelaku aktif politik kemerdekaan.

Istilah mempertahankan kemerdekaan mulai dipakai luas sebuah frasa yang menyiratkan sikap lebih militan daripada sekadar membela proklamasi. Penyiar radio bahkan sering meneriakkan kata penyemangat “tahankan!” menjelang pertempuran.

Dari sini pula lahir slogan yang melekat di benak rakyat Jawa: “Sekali merdeka, tetap merdeka!”, slogan yang kemudian tercoret pada mesin-mesin perang Inggris yang berhasil dihancurkan Arek Suroboyo dan menyebar ke seluruh Jawa antara 1945–1949.

Menghidupkan kembali memori lokal Surabaya sebagai “Kota Pahlawan” yang tidak hanya mengenang pertempuran bersenjata, tetapi juga gerakan simbolik massal yang memupuk rasa kebangsaan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.