Pakar Ungkap 4 Tahap Serangan Cepat AS Bikin Pertahanan Venezuela Lumpuh
Dunia internasional dikejutkan oleh operasi militer cepat Amerika Serikat (AS) yang disebut mampu melumpuhkan kekuatan militer Venezuela hanya dalam waktu 2 jam 20 menit pada Sabtu dini hari 3 Januari 2026.
Menurut pakar pertahanan F. Harry Sampurno, serangan tersebut menunjukkan tingkat integrasi dan kecepatan operasi modern yang membuat sistem pertahanan konvensional nyaris tidak memiliki waktu untuk bereaksi.
F. Harry Sampurno, Ketua Bidang Kajian Forum Komunikasi Industri Pertahanan (Forkominhan), menilai operasi yang dinamai “Operation Absolute Resolve” dengan target menculik Presiden Maduro dan istrinya, Cellia Flores, merupakan contoh nyata bagaimana perang modern tidak lagi diawali oleh pertempuran udara terbuka, melainkan oleh penguasaan spektrum informasi, siber, dan elektromagnetik.
"Walaupun bisa menduga, dunia tetap saja terkejut, ketika Amerika Serikat (AS) benar-benar melakukan agresi militer terhadap kedaulatan negara lain dan melanggar hukum internasional dengan gaya ‘tembak dulu, urusan belakangan’, pada pagi buta, 3 Januari 2026 di Caracas, Venezuela," kata Harry dalam analisisnya dilansir Antara, Selasa, 6 Januari 2026.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap
Harry menegaskan bahwa Venezuela bukan negara tanpa pertahanan udara yang mumpuni. Negara Amerika Latin itu mengoperasikan jet tempur Sukhoi Su-30MK2 buatan Rusia, dilengkapi rudal Kh-31, serta F-16 Fighting Falcon Block 15 yang masih aktif melalui modifikasi dan jalur suku cadang di pasar gelap.
Selain itu, Venezuela memiliki pesawat pendukung seperti Hongdu K-8 Karakorum, pesawat latih tempur ringan buatan China yang sering digunakan untuk patroli wilayah dan serangan darat ringan.
Kemudian, Venezuela mengoperasikan sistem radar berlapis, mulai dari P-18-2M (NATO: Spoon Rest) buatan Rusia, dengan sinyal VHF yang dikenal memiliki kemampuan untuk mendeteksi pesawat siluman (stealth). Kemudian JYL-1 & JY-27 buatan Tiongkok yang digunakan untuk pengawasan wilayah udara jarak jauh dan peringatan dini.
Di sektor pertahanan udara, Venezuela mengoperasikan radar khusus 9S15M2 Bill Board dan 9S32ME Grill Pan (S-300VM) yang cukup canggih serta 9S18M1E Snow Drift (Buk-M2E) yang lebih mobile. Sementara untuk pertahanan titik digunakan Pantsir-S1 Radar dual-band (EHF/UHF) yang bisa bergerak dengan cepat, digunakan untuk mendeteksi ancaman kecil, seperti drone atau bom pintar yang mendekati pangkalan udara.
"Jadi, mengapa semua alutsita tersebut seperti lumpuh, tanpa daya menghadapi "Operation Absolute Resolve" yang menurut AS berhasil dilaksanakan hanya dalam waktu 2 jam 20 menit?" ujarnya
Empat Tahap Operasi yang Melumpuhkan
Menurut Harry, keberhasilan AS terletak pada empat tahap operasi beruntun yang saling mengunci. Meskipun alasan awalnya membantu dan mengawal agen DEA (Drug Enforcement Administration) dan FBI untuk melaksanakan perintah pengadilan untuk menangkap Presiden Maduro yang dituduh dan dipersangkakan menyelundupkan narkoba ke wilayah AS.
Namun, secara garis besar operasi militer ini dilaksanakan dalam 4 bagian atau tahapan sebagai berikut:
Tahap pertama, adalah pengalihan perhatian di Laut Karibia (Operation Southern Spear). Sebelum operasi di darat dimulai, militer AS telah melakukan "pemanasan" dengan menyerang puluhan kapal di Karibia sejak September 2025. Hal ini memaksa Venezuela memusatkan pertahanan udaranya di wilayah pesisir, sehingga menciptakan celah di wilayah udara ibu kota.
Tahap kedua , adalah pemadaman total sistem radar dan komunikasi. Menjelang pukul 02.00 waktu Caracas, terjadi pemadaman listrik luas (Balckout) di Venexx. Harry menilai hal ini kuat mengarah pada serangan siber terhadap infrastruktur energi atau penggunaan EMP skala terbatas, yang membuat radar dan pusat komando tidak berfungsi secara instan.
Tahap ketiga, adalah serangan udara saturasi. Dalam situasi tanpa listrik dan radar, sistem pertahanan udara canggih S-300VM dan Buk-M2E menjadi tidak berfungsi karena tidak bisa mengunci target.
Pesawat F-35 dan F/A-18, dengan dukungan EA-18 Growler, melancarkan serangan presisi ke pusat komunikasi radar Bukit El Volcán, Pangkalan Udara La Carlota, dan kompleks militer Fuerte Tiuna (tempat tinggal Maduro). Sejumlah pesawat Su-30 dan F-16 dilaporkan hancur sebelum sempat tinggal landas.
Sementara helikopter AH-64, MH-6, dan AH-1Z melaksanakan penembakan untuk menjaga perimeter dan menghancurkan baterei Buk-M2E dan kendaraan lapis baja yang membawa Pantsir-S1.
Tahap keempat adalah operasi kecepatan tinggi oleh pasukan khusus. Unit Delta Force (JSOC) diterjunkan menggunakan CH-47 dan MH-60 dengan profil terbang rendah, menghindari sisa radar aktif dan ancaman MANPADS. Operasi darat singkat namun intens terjadi di sekitar kediaman Presiden Venezuela.
"Ekstraksi Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang sangat presisi dari sisi tempat dan lokasi mengakibatkan gugurnya sekitar 30 orang pasukan pengawal pengamanan Presiden Maduro dan disebutkan juga ada beberapa orang pasukan atau agen AS yang terluka dalam pertempuran jarak dekat di kediaman Presiden Maduro," ungkapnya
Presiden Maduro dan istrinya, lanjut Harry, langsung diterbangkan ke luar dari Venezuela dan berakhir di kantor DEA, Kota New York, AS.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine mengatakan seluruh operasi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat yang terintegrasi, menciptakan "kejutan total" yang membuat militer Venezuela tidak memiliki waktu untuk bereaksi sama sekali.
Presiden AS Donald Trump memuji serangan presisi pasukan AS ke Venezuela. Ia mengatakan bahwa pasukan AS telah berlatih evakuasi Maduro di sebuah bangunan replika.
"Mereka benar-benar membangun sebuah rumah, yang identik dengan rumah yang mereka masuki, dengan semua detail yang sama – semua baja di mana-mana," kata Trump yang mengatakan bahwa pada pukul 23:46 waktu setempat pada hari Jumat (03:46 GMT pada hari Sabtu), ia memberikan lampu hijau serangan ke Caracas.
Pada Jumat malam, Caine mengatakan bahwa "cuaca membaik, membuka jalan yang hanya dapat dilalui oleh penerbang paling terampil di dunia". Sekitar 150 pesawat terlibat dalam operasi tersebut, lepas landas dari 20 pangkalan udara berbeda di seluruh Belahan Bumi Barat.
Pasukan Delta Angkatan Darat AS, unit pasukan khusus elit, dikerahkan sebagai garda depan untuk melakukan operasi penangkapan Maduro, kata para pejabat kepada CBS News.
Operasi tersebut dilakukan setelah berbulan-bulan pengerahan militer AS di wilayah tersebut, dengan kapal induk USS Gerald R. Ford dan sejumlah kapal perang lainnya ditempatkan di Karibia, serta serangkaian serangan mematikan terhadap lebih dari 30 kapal yang menurut pemerintah membawa narkoba.