Bukan Sekadar Marah, Pakar Hubungan Ungkap 5 Alasan Istri Berteriak pada Suami

Bukan Sekadar Marah, Pakar Hubungan Ungkap 5 Alasan Istri Berteriak pada Suami, 1. Merasa lelah, kewalahan, dan ada tekanan finansial, 2. Merasa tidak didengar, 3. Konflik masa lalu yang belum tuntas, 4. Perbedaan gaya komunikasi, 5. Mekanisme pertahanan diri dari trauma

 Menghadapi pasangan yang sering meninggikan suara tentu bukan situasi yang menyenangkan dalam kehidupan rumah tangga.

Kebiasaan berteriak ini sering menjadi sinyal adanya masalah mendalam yang perlu segera diatasi, demi menjaga keharmonisan hubungan jangka panjang.

"Meski jauh dari ideal, wajar saja jika ada sejumlah teriakan yang menyertai hubungan, terutama di saat-saat paling stres dan emosional," tutur konselor klinis terdaftar, Niloufar Esmaeilpour, MSc, mengutip Best Life, Sabtu (11/4/2026).

Meskipun bukan bentuk komunikasi yang sehat, fenomena ini cukup sering terjadi dalam dinamika pernikahan. Lantas, apa alasan di balik hal tersebut?

Alasan istri sering berteriak

Mengenali akar masalah adalah langkah penting agar kamu tidak sekadar bereaksi terhadap teriakan tersebut, melainkan memahami pesan yang ingin disampaikan.

Coach hubungan dan pernikahan Kim Hardy menambahkan, perilaku ini sering kali merupakan bentuk luapan emosi sekaligus jeritan minta tolong.

"Meskipun berteriak adalah respons yang tidak sehat, hal itu biasanya merupakan tanda adanya masalah yang lebih dalam. Kapan pun seorang istri memilih berteriak, dia telah mencapai ambang batas kesabarannya," jelas Hardy.

1. Merasa lelah, kewalahan, dan ada tekanan finansial

Salah satu pemicu paling umum adalah rasa kewalahan akibat beban hidup sehari-hari yang menumpuk.

Tugas rumah tangga, tekanan pekerjaan, hingga tanggung jawab mengasuh anak, bisa membuat cadangan kesabaran seseorang habis total.

Terapis pasangan Marissa Moore, LPC menuturkan, akumulasi stres ini sering kali tidak memiliki saluran keluar yang tepat.

"Istri mungkin merasa kewalahan. Ini adalah pemicu yang umum, karena mudah untuk merasa seolah tidak ada saluran lain bagi emosi yang terpendam itu," ungkap Moore.

Esmaeilpour juga menekankan bahwa faktor ekonomi keluarga sering kali memperburuk situasi ini.

Tekanan finansial bisa membuat pasangan terus berada dalam mode waspada, sehingga perdebatan mengenai pengeluaran kecil atau keputusan keuangan jangka panjang, bisa dengan mudah meledak menjadi kemarahan besar.

2. Merasa tidak didengar

Apakah kamu sudah benar-benar mendengarkan saat istri berbicara?

Jika ia merasa pikiran dan perasaannya terus diabaikan, ia mungkin merasa perlu menaikkan volume suaranya agar pesannya sampai kepadamu.

Menurut Moore, frustasi karena merasa tidak dihargai adalah bahan bakar utama bagi kemarahan yang meluap-luap. Berteriak adalah upaya untuk memastikan diri mereka didengar.

Direktur Klinis Real Recovery Carlos Escobar, LMHC menambahkan, seiring berjalannya waktu, seorang istri mungkin merasa bahwa berteriak adalah satu-satunya cara untuk berkomunikasi.

3. Konflik masa lalu yang belum tuntas

Terkadang, pemicu teriakan hari ini bukanlah masalah yang sedang terjadi saat ini, melainkan tumpukan kekecewaan dari masa lalu yang belum terselesaikan.

Isu-isu lama yang dipendam cenderung akan meledak kembali ke permukaan saat terjadi stres atau perselisihan kecil yang sebenarnya sepele.

Pekerja sosial klinis berlisensi April Crowe, LCSW menjelaskan, masalah yang menggantung sering kali membuat argumen berkembang menjadi teriakan. Ketidakpastian dalam penyelesaian masalah di masa lalu akan meningkatkan temperamen seseorang.

"Kebingungan dapat mengakibatkan temperamen yang meninggi, sehingga memicu teriakan," ucap dia.

4. Perbedaan gaya komunikasi

Setiap pasangan memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Jika istrimu adalah tipe yang ekspresif, sedangkan kamu lebih tertutup atau pendiam, perbedaan frekuensi ini sering kali memicu kesalahpahaman.

Moore menjelaskan bahwa perbedaan gaya ini bisa menyebabkan rasa frustrasi yang mendalam bagi pihak yang ingin segera menyelesaikan masalah. Situasi ini kerap membuat percakapan yang sehat menjadi sulit dicapai.

Ketidakmampuan untuk saling memahami pada tingkat emosional yang sama membuat salah satu pihak merasa terdesak, dan akhirnya memilih untuk meninggikan suara sebagai bentuk ekspresi diri yang instan.

5. Mekanisme pertahanan diri dari trauma

Dalam beberapa kondisi, kebiasaan berteriak tidak selalu disebabkan oleh perilakumu atau kondisi pernikahan saat ini.

Hal ini bisa jadi merupakan mekanisme pertahanan diri yang dipelajari dari pengalaman masa lalu, baik dari lingkungan keluarga masa kecil maupun hubungan sebelumnya.

Dampak buruk teriakan bagi keluarga

Sering terjadinya teriakan di rumah dapat merusak fondasi kepercayaan dan kedekatan emosional dalam pernikahan.

"Teriakan dapat dengan sangat cepat mengikis pernikahan. Di setiap kejadian, hal itu memperkuat dinding antara seseorang dan pasangannya, yang merusak kepercayaan serta kedekatan," terang Esmaeilpour.

Dampaknya juga sangat nyata bagi perkembangan psikologis si kecil. Anak yang sering menyaksikan orangtuanya berteriak cenderung merasa cemas, takut, dan tidak stabil secara emosional.

Moore menambahkan, pola komunikasi ini berisiko ditiru oleh anak-anak di masa depan. Mereka akan menganggap bahwa berteriak adalah cara normal dan wajar untuk menangani konflik dalam sebuah hubungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang