Perang Lawan Iran Bikin Stok Rudal AS Terkuras Demi Lindungi Israel

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump

Dalam sebuah laporan yang dimuat The Washington Post Kamis kemarin, Amerika Serikat disebut menanggung sebagian besar beban pertahanan rudal Israel selama perang melawan Iran. Penilaian Pentagon menunjukkan AS menembakkan jauh lebih banyak rudal pencegat canggih dibanding Israel.

Dalam laporan The Washington Post itu juga mengungkap besarnya biaya yang harus ditanggung AS dalam mendukung Israel selama 40 hari perang melawan Iran. Data itu juga memperlihatkan ketergantungan Israel terhadap militer AS dalam menghadapi serangan balasan Iran yang diniliai kuat dan terukur.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengutip data Departemen Pertahanan AS, laporan itu menyebut Washington mengerahkan lebih dari 200 rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), atau hampir setengah dari total stok global Pentagon, khusus untuk melindungi target-target Israel.

Selain itu, kapal perang AS di wilayah Mediterania timur juga menembakkan lebih dari 100 rudal pencegat jenis Standard Missile-3 dan Standard Missile-6.

Sebaliknya, Israel dilaporkan hanya menggunakan kurang dari 100 rudal pencegat Arrow dan sekitar 90 sistem pertahanan David’s Sling. Sebagian di antaranya bahkan dipakai untuk menghadapi proyektil yang dianggap kurang canggih dari Yaman dan Lebanon, bukan rudal utama Iran.

Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan kepada media tersebut bahwa secara total, Amerika Serikat menembakkan sekitar 120 rudal pencegat lebih banyak dan menghadapi dua kali lebih banyak rudal Iran dibanding Israel.

Pejabat itu juga memperingatkan bahwa jika konflik kembali pecah dalam beberapa hari ke depan, Washington kemungkinan harus menghabiskan lebih banyak lagi stok rudal pencegatnya. Terlebih, militer Israel disebut sedang menghentikan sementara beberapa baterai sistem pertahanan rudalnya untuk perawatan.

“Ketimpangan ini kemungkinan akan semakin besar jika perang kembali dimulai,” kata pejabat tersebut dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 22 Mei 2026.

Angka-angka itu memberikan gambaran langka tentang hubungan sebenarnya antara AS dan Israel. Analis militer K.A. Grieco menilai data tersebut cukup mencolok.

“Amerika Serikat menanggung sebagian besar misi pertahanan rudal, sementara Israel justru menghemat stok persenjataannya sendiri,” ujarnya.

Menurut Grieco, meski strategi itu mungkin menguntungkan Tel Aviv, AS kini hanya memiliki sekitar 200 rudal THAAD tersisa. Sementara itu, kapasitas produksi senjata tersebut disebut belum mampu mengejar tingginya kebutuhan global.

Kondisi ini kembali memperkuat pernyataan pejabat Iran yang sejak lama menyebut Israel tidak mampu mempertahankan diri atau memenangkan perang tanpa campur tangan besar-besaran dari Amerika Serikat.

Seorang pejabat AS bahkan mengatakan, Israel tidak mampu berperang dan memenangkan perang sendirian, hanya saja publik tidak pernah melihat sisi belakangnya.

Pentagon sendiri mencoba meredam kekhawatiran terkait pembagian beban perang dengan menyatakan bahwa rudal pencegat hanyalah salah satu alat dalam jaringan sistem pertahanan yang luas.

Sementara itu, Kedutaan Besar Israel di Washington mengklaim AS tidak memiliki mitra lain dengan kemampuan seperti Israel. Namun, klaim tersebut dinilai semakin sulit dipercaya karena ketergantungan Israel terhadap bantuan dana dan persenjataan Amerika semakin terlihat jelas.

Di tengah ketegangan yang masih berlangsung dan dorongan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar AS kembali melanjutkan perang, situasi ini dianggap menunjukkan keberhasilan program rudal Iran.

Respons Iran yang disebut terukur tetapi kuat tidak hanya meningkatkan biaya perang bagi Israel, tetapi juga menguras cadangan strategis Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya. Hal itu dinilai membuka batas kemampuan Washington untuk terus melindungi Israel dari dampak agresinya sendiri.

Besarnya penggunaan rudal AS selama konflik juga memperlihatkan mahalnya biaya perang AS-Israel terhadap Iran. Sebelum perang dimulai, sejumlah pejabat militer senior AS, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, disebut telah memperingatkan Presiden Donald Trump bahwa perang berkepanjangan akan menguras persediaan senjata secara besar-besaran.

Kekhawatiran serupa juga disuarakan Partai Demokrat di Kongres AS. Senator Arizona Mark Kelly mengatakan bahwa pada akhirnya persoalan ini akan menjadi masalah hitungan stok persenjataan.

“Bagaimana kita bisa mengisi ulang amunisi pertahanan udara?” katanya.

Analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut kesepakatan terbaru pemerintahan Trump dengan kontraktor senjata untuk meningkatkan produksi persenjataan canggih hingga empat kali lipat masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terealisasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst, juga mengumumkan rencana kontrak jangka panjang baru sebagai bagian dari proposal anggaran militer Trump senilai US$1,5 triliun.

Meski begitu, para analis memperingatkan bahwa bahkan dalam skenario paling optimistis sekalipun, pemulihan stok senjata AS yang terkuras akibat perang melawan Iran tetap akan memakan waktu bertahun-tahun.