Perempuan Sering Lupa Merawat Diri Sendiri, Pakar Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan

ilustrasi stres
ilustrasi stres

 Perempuan kerap menjalankan banyak peran sekaligus dalam kehidupan sehari-hari. Di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, mereka tidak hanya berkarier di tempat kerja, tetapi juga menjadi pengambil keputusan di rumah dan sumber dukungan emosional bagi keluarga. Namun di balik peran besar tersebut, kesehatan pribadi sering kali justru terabaikan.

Peringatan International Women's Day 2026 dengan tema #GiveToGain mengingatkan pentingnya memaknai kedermawanan bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri. Dalam konteks kesehatan, pesan ini menekankan bahwa merawat tubuh merupakan investasi penting untuk menjaga kesejahteraan jangka panjang. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Banyak perempuan menghadapi rutinitas padat yang berujung pada pola makan terburu-buru, kurang tidur, hingga tingkat stres yang meningkat. Kondisi ini membuat kebutuhan nutrisi, kebugaran, dan keseimbangan emosional sering kali tidak menjadi prioritas.

Vipada Sae-Lao, Nutrition Education and Training Lead Asia Pacific dari Herbalife, menilai bahwa menjaga kesehatan diri memiliki dampak luas, tidak hanya bagi individu tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar.

“Sebagai anggota Herbalife Dietetic Advisory Board yang bekerja di berbagai budaya di kawasan Asia Pasifik, saya berulang kali melihat satu kenyataan: ketika perempuan berinvestasi pada kesehatan mereka sendiri, keluarga, tempat kerja, dan generasi mendatang turut merasakan manfaatnya. Bekerja erat dengan perempuan yang menyeimbangkan berbagai tanggung jawab, tema #GiveToGain menegaskan realitas sederhana — merawat kesehatan adalah salah satu cara paling efektif untuk menjaga energi dan ketangguhan yang dibutuhkan dalam mendukung peran di tempat kerja maupun di keluarga," ujar Vipada Sae-Lao dalam keterangannya, dikutip Jumat 6 Maret 2026.

Tantangan Gizi Perempuan di Asia

Perempuan di kawasan Asia Pasifik juga menghadapi tantangan gizi yang kompleks. Di satu sisi, angka obesitas pada orang dewasa meningkat, sementara di sisi lain masalah seperti stunting pada anak dan anemia pada perempuan usia reproduktif masih banyak ditemukan.

Kondisi ini menunjukkan adanya beban ganda dalam persoalan nutrisi. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada kesehatan ibu dan anak, tetapi juga memengaruhi energi harian, daya tahan tubuh, hingga kualitas hidup.

Asupan nutrisi yang seimbang menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan preventif. Nutrisi yang cukup dapat membantu mempertahankan metabolisme, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mendukung proses penuaan yang lebih sehat.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan usia reproduktif di Asia cukup sering mengalami kekurangan mikronutrien seperti zat besi, folat, dan vitamin B12, meskipun kebutuhan kalori secara umum terpenuhi.

Selain nutrisi, hidrasi juga memiliki peran penting yang sering diabaikan. Membiasakan diri minum air secara cukup, sekitar dua liter per hari, dapat membantu tubuh memanfaatkan nutrisi dengan optimal sekaligus menjaga fungsi organ tubuh.

Perubahan Hormon dan Kebutuhan Nutrisi

Kebutuhan nutrisi perempuan juga berubah sepanjang fase kehidupan karena pengaruh hormon.

Saat menstruasi, kehilangan zat besi secara rutin membuat perempuan membutuhkan lebih banyak makanan kaya zat besi, seperti daging tanpa lemak, kacang-kacangan, lentil, sayuran hijau, serta sereal yang difortifikasi. Mengonsumsi makanan tersebut bersama sumber vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi lebih optimal.

Memasuki masa menopause, perubahan hormon dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, pola makan yang mendukung kesehatan jantung menjadi semakin penting. Konsumsi buah, sayuran, biji-bijian utuh, serta sumber omega-3 seperti ikan berlemak, biji rami, kenari, dan kedelai dapat membantu menjaga kadar kolesterol tetap sehat.

Serat larut yang terdapat pada makanan seperti oat, apel, jelai, dan kacang-kacangan juga berperan dalam membantu mengontrol kolesterol serta memberikan rasa kenyang lebih lama.

Ketika memasuki usia 40-an, penurunan kadar estrogen juga dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai Sarcopenia, yaitu penurunan massa dan kekuatan otot akibat penuaan. Untuk mencegahnya, aktivitas fisik rutin serta asupan protein yang cukup menjadi sangat penting.

Hubungan Stres, Tidur, dan Berat Badan

Selain pola makan, kualitas tidur dan pengelolaan stres juga berperan penting dalam menjaga kesehatan perempuan. Ketiga faktor ini saling berkaitan dalam memengaruhi metabolisme tubuh dan keseimbangan hormon.

Sekitar 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu, ditambah latihan kekuatan, dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung, menjaga massa otot, serta memperbaiki kualitas tidur.

Kebiasaan tidur yang teratur dan pembatasan penggunaan gawai sebelum tidur juga mendukung kesehatan metabolik serta proses pemulihan tubuh secara alami.

Nutrisi yang baik juga berperan dalam menjaga kesehatan mental. Pola makan yang kaya omega-3, jadwal makan teratur, hidrasi yang cukup, serta pembatasan konsumsi stimulan dapat membantu menstabilkan suasana hati dan meningkatkan kemampuan tubuh menghadapi stres.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, dukungan sosial dari keluarga, teman, atau komunitas juga terbukti membantu perempuan mengelola tekanan emosional dengan lebih baik.

“Singkatnya, kesejahteraan jangka panjang dibentuk oleh pilihan sehari-hari yang kita ambil jauh sebelum gejala yang mengkhawatirkan muncul. Memberi kepada diri sendiri — melalui nutrisi yang konsisten dan perawatan preventif — bukan tentang melakukan lebih banyak, melainkan melakukan sesuatu dengan lebih sadar dan konsisten,” tutup Vipada Sae-Lao.