Banjir Meluas di Aceh Timur dan Utara: Warga Bertahan di Atap Rumah, Ribuan Lainnya Mengungsi
Pemerintah Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, resmi menetapkan status Siaga Darurat Bencana Banjir dan Longsor setelah curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut selama sepekan terakhir.
Keputusan ini diambil karena banjir mulai menggenangi permukiman warga dengan ketinggian antara 30 hingga 70 sentimeter.
“Penetapan status ini tidak terlepas dari perkembangan terkini banjir yang ikut mengenangi pemukiman warga dengan ketinggian 30 hingga 70 centimeter,” kata Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar di Lhokseumawe, Rabu (26/11/2025).
Status siaga darurat akan berlangsung selama 53 hari, mulai 24 November 2025 hingga 15 Januari 2026. Pemerintah menyatakan status ini dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai kondisi lapangan.
Seberapa Luas Wilayah yang Terendam?
Sayuti menjelaskan bahwa terdapat 68 gampong/desa yang tersebar di empat kecamatan terendam banjir. Selain curah hujan tinggi, ombak laut setinggi dua meter ikut masuk ke permukiman sehingga memperburuk kondisi.
Meski banjir meluas, masyarakat masih memilih bertahan di rumah masing-masing dan belum ada titik pengungsian resmi.
Pemerintah kota menginstruksikan setiap gampong untuk menyiapkan dapur umum guna memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak.
Selain itu, Dinas Sosial telah menyalurkan bantuan masa panik melalui kantor keuchik. Pemerintah daerah juga terus memantau kondisi dan mengoordinasikan lintas instansi untuk penanganan cepat.
Bagaimana Kondisi Korban dan Upaya Evakuasi?
Banjir merendam Desa Paya Naden, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, Minggu (23/11/2025)
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap waspada. Wali kota meminta warga menghindari area banjir agar tidak terjadi korban jiwa.
“Jika ada kendala atau membutuhkan pertolongan kesehatan dan evakuasi dapat segera menghubungi petugas agar dapat dilakukan penanganan secara cepat,” ujarnya.
Di wilayah berbeda, yaitu Kabupaten Aceh Timur, kondisi lebih parah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur melaporkan sebanyak 2.456 warga dari 920 rumah mengungsi akibat banjir.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Timur, Ashadi, menjelaskan bahwa banjir terjadi setelah hujan sejak Kamis (20/11/2025) menyebabkan sungai meluap.
“Berdasarkan data, ada sebanyak 2.456 warga mengungsi akibat banjir. Mereka mengungsi ke rumah tetangga, meunasah maupun ke tempat yang lebih aman dan tinggi,” katanya.
Ketinggian air mencapai dua meter di beberapa titik hingga membuat rumah warga hanya menyisakan bagian atap. Banyak warga terpaksa bertahan di atap rumah sambil menunggu evakuasi.
Mul, warga Desa Krueng Langka, menceritakan cepatnya peningkatan debit air.
“Banyak keluarga yang awalnya masih berada di dalam rumah terpaksa memecahkan plafon atau menggunakan tangga darurat untuk bisa naik ke atap guna menghindari banjir,” ujarnya.
Apa Dampaknya Terhadap Infrastruktur?
Banjir bandang juga melanda kawasan ruas Aruen-Bireuen hingga menyebabkan robohnya tower transmisi 150 kV. Kejadian ini berdampak pada pasokan listrik di sebagian wilayah Aceh.
“Kami bergerak cepat dan menerjunkan seluruh personel lapangan dalam upaya pemulihan pasokan listrik secara bertahap akibat banjir bandang,” jelas Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Aceh Lukman Hakim.
PLN menyebut gangguan listrik terjadi di sejumlah wilayah namun pemulihan sedang dilakukan. Pelanggan dapat mengakses layanan 24 jam melalui aplikasi PLN Mobile atau contact center 123.
Pihak PLN juga meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.
“Mohon doa dari seluruh masyarakat, tim terus berupaya melakukan penormalan dan kami pastikan listrik akan normal kembali,” tambah Lukman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang