Tapteng Krisis Air Bersih: Warga Bertahan dengan Air Hujan dan Air Parit 10 Hari Pascabanjir
Kondisi warga korban banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, belum membaik bahkan setelah lebih dari sepuluh hari berlalu.
Selain akses jalan yang masih terputus di sejumlah wilayah seperti Hutanabolon, krisis air bersih kini menjadi masalah utama, membuat ratusan warga terpaksa mengonsumsi air hujan hingga air parit untuk bertahan hidup.
Di Kelurahan Lopian, Kecamatan Badirik, rumah-rumah warga masih tertimbun lumpur setinggi dada orang dewasa. Kayu gelondongan yang terbawa arus banjir berserakan menghimpit rumah-rumah yang roboh. Sepanjang satu kilometer, bangunan permukiman tampak rusak parah.
Jalan lintas antar-kecamatan masih dalam proses pembersihan. Lumpur tebal yang sebelumnya memenuhi badan jalan kini berada di kanan kiri jalur utama setelah disingkirkan agar kendaraan bisa perlahan melintas.
Disapu Gelombang Kayu Gelondongan
Misriani Lubis, salah satu penyintas banjir, kehilangan rumah sekaligus tempat usaha keluarganya. Bangunan yang terbuat dari papan kayu kini hanya menyisakan atap yang masih terlihat di antara lumpur dan batang kayu besar.
Bencana terjadi pada Selasa, 25 November 2025, sekitar pukul 08.30 WIB saat hujan deras masih mengguyur kawasan tersebut. Saat itu, Misriani berada di rumah bersama anak lelakinya dan suami yang lumpuh.
Ketika air sungai meluap membawa kayu besar, Misriani dan anaknya hanya punya waktu beberapa detik untuk menyelamatkan diri.
"Kami menyelamatkan diri ke bagian bak mandi di belakang ya bersama anak, suami saya yang lumpuh," kata Misriani saat ditemui di Kelurahan Lopian, Jumat (5/12/2025) sore.
Dengan tenaga seadanya, ia dan anaknya mengangkat sang suami ke atas bak penampung air setinggi tiga meter. Selama enam jam sejak pukul 09.00 WIB, mereka bertahan di atas beton sambil melihat arus banjir terus menghantam rumah-rumah warga.
"Air datang beserta batang kayu yang kecil maupun besar-besar, ditambah lumpur. Yang evakuasi kami warga juga dari kampung sebelah," ujarnya.
Evakuasi baru dapat dilakukan sekitar pukul 15.00 WIB, dibantu delapan orang warga.
Ribuan Warga Masih Terisolasi
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, yang hingga Kamis (4/12/2025) masih terisolasi dengan banjir setinggi 70 sentimeter hingga 1 meter di akses jalan utama.
Berdasarkan keterangan warga, lebih dari 1.000 Kepala Keluarga (KK) terdampak di wilayah tersebut. Bantuan logistik belum menjangkau desa karena medan yang sulit ditembus.
"Makanya saya minta ke bapak itu kan, supaya satu kantong itu kasih ke saya. Nanti saya sendiri bawa ke dalam, ke Hutanabolon. Karena di sana itu belum ada, susah sekali bantuan," kata Samirin Sitompul, warga Hutanabolon.
Selain kekurangan pangan, warga juga dilaporkan mengonsumsi air yang tidak layak.
"Ah dari parit lah airnya, mana ada yang bersih di sana? Di sini (Desa Tukka) yang ditaruh air bersih. Di sana (Hutanabolon) enggak ada. Makanya bingung kami, masyarakat Hutanabolon," ujarnya.
Air Hujan Jadi Sumber Hidup
Di Kelurahan Lopian, kondisi tidak jauh berbeda. Sudah sepuluh hari warga tidak memiliki akses air bersih.
"Air minum kami menggunakan air hujan. Air hujan itu kami tampung kemudian kami masak," kata Misriani.
Ia juga menyebut pasokan makanan terbatas. Bahkan, warga kerap makan dua kali sehari dengan lauk seadanya.
"Alhamdulillah, di tempat kami ini ada dapur umum sudah ada 5 hari pagi dan malam bisa makan. Tetapi, itupun kadang cuma nasi putih," ucapnya.
"Terkadang kalau ada yang membantu Indomie ya maksa Indomie. Namanya kami ratusan orang ya seadanya," lanjutnya.
Warga Minta Pemerintah Bergerak Cepat
Baik di Hutanabolon maupun di Lopian, warga kini menggantungkan harapan penuh kepada pemerintah. Selain bantuan pangan, kebutuhan terbesar saat ini adalah air bersih dan alat berat untuk pembersihan material banjir.
"Ya harapannya, kalau bisa dibaguskan oleh pemerintah lah. Biar bisa bangun rumah lagi di situ. Itu saja," kata Samirin.
Misriani pun menyampaikan hal sama.
"Kami membutuhkan air bersih kemudian bahan pokok makanan. Makan mie terus rasanya sudah Indomie sudah bosan," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, ribuan warga korban banjir bandang di Tapanuli Tengah masih menunggu bantuan yang merata, perbaikan akses jalan, dan penyediaan fasilitas dasar untuk bisa kembali menjalani kehidupan yang layak.
Artikel ini tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Rumah Hancur Kena Banjir di Tapteng, Misriani Lubis Minum Air Hujan selama 10 Hari
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang