Takut Barang Dicuri, Warga Kaligawe Semarang Bertahan di Tengah Banjir

banjir semarang, banjir, banjir di Semarang, banjir kaligawe hari ini, Banjir Kaligawe, Takut Barang Dicuri, Warga Kaligawe Semarang Bertahan di Tengah Banjir, Bertahan Demi Rumah dan Barang Berharga, Khawatir Rumah Dimasuki Pencuri, Banjir Datang Setiap Tahun, Warga Sudah Menyesuaikan Diri, Ribuan Warga Masih Terdampak, Warga Mulai Terserang Gatal-Gatal

Meski genangan air di kawasan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, belum surut selama sepekan, sebagian besar warga tetap memilih bertahan di rumah dan menolak mengungsi.

Mereka khawatir barang-barang berharga hilang jika ditinggalkan, sedangkan sebagian lainnya mengaku sudah terbiasa menghadapi banjir yang datang hampir setiap tahun.

Bertahan Demi Rumah dan Barang Berharga

Bagi warga Kaligawe, bertahan di rumah di tengah banjir bukan hal baru.

Alasan mereka sederhana, menjaga rumah dan harta benda, serta karena sudah terbiasa hidup berdampingan dengan air pasang yang kerap merendam wilayah mereka.

“Ya di sini saja, sambil jaga barang,” ujar Siti Nurjanah (45), warga Kaligawe, saat ditemui di lokasi banjir, Kamis (30/10/2025).

Siti mengatakan air mulai naik sejak Rabu (22/10/2025) dan tak kunjung surut hingga kini. Meski begitu, ia mengaku sudah terbiasa dengan situasi tersebut.

“Biasanya sebentar. Tapi sudah biasa,” katanya dengan nada pasrah.

banjir semarang, banjir, banjir di Semarang, banjir kaligawe hari ini, Banjir Kaligawe, Takut Barang Dicuri, Warga Kaligawe Semarang Bertahan di Tengah Banjir, Bertahan Demi Rumah dan Barang Berharga, Khawatir Rumah Dimasuki Pencuri, Banjir Datang Setiap Tahun, Warga Sudah Menyesuaikan Diri, Ribuan Warga Masih Terdampak, Warga Mulai Terserang Gatal-Gatal

Banjir masih belum surut di pemukiman wilayah Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Rabu (29/10/2025). (Fatah Akrom/KOMPAS.com)

Khawatir Rumah Dimasuki Pencuri

Warga lain, Slamet (52), juga memilih tetap tinggal di rumah meski sebagian lantai rumahnya sudah tergenang air.

Ia khawatir bila rumah ditinggalkan, akan menjadi sasaran pencurian.

“Yang susah kalau mau buang hajat harus ke rumah warga yang aman,” ujarnya.

Banjir Datang Setiap Tahun, Warga Sudah Menyesuaikan Diri

Kondisi serupa dialami Dwi Santoso (50), warga Tambakrejo. Ia menyebut banjir sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Rumahnya hampir setiap tahun terendam, namun ia tak pernah mengungsi karena memiliki lantai dua.

“Rumah saya setiap tahun begini terus,” ujarnya.

“Setiap lima tahun sekali pasti ditinggikan rumahnya,” tambah Dwi, menggambarkan bagaimana warga beradaptasi dengan kondisi yang tak kunjung berubah.

Ribuan Warga Masih Terdampak

Menurut Lurah Tambakrejo, Sukiswo, sekitar 30 persen rumah di wilayahnya masih tergenang air.

Total, sekitar 3.700 kepala keluarga (KK) terdampak banjir yang belum juga surut.

“Kalau yang terdampak ya sekitar 3.700 KK,” katanya.

Sukiswo menjelaskan bahwa sebagian besar warga memang tidak ingin mengungsi karena rumah mereka masih bisa ditempati, meski sebagian terendam.

“Kalau evakuasi atau mengungsi sebenarnya selama ini warga enggak pernah melakukan itu dan enggak mau ya. Karena memang di dalam rumahnya itu masih bisa,” ucapnya.

Warga Mulai Terserang Gatal-Gatal

Meski memilih bertahan, dampak kesehatan mulai dirasakan warga.

Genangan air yang tidak surut memicu keluhan gatal-gatal dan penyakit kulit.

“Sehari bisa puluhan warga yang berobat,” kata Sukiswo.

Petugas kesehatan dari puskesmas setempat kini disiagakan untuk memberikan pengobatan langsung di lokasi banjir.

Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul .

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.