Akses Masih Putus, Warga Hutanabolon Terpaksa Konsumsi Air Parit untuk Bertahan

Banjir Sumut, Banjir Tapanuli Tengah, banjir sumatera, banjir bandang sumatera, Akses Masih Putus, Warga Hutanabolon Terpaksa Konsumsi Air Parit untuk Bertahan

Sudah lebih dari satu pekan sejak banjir bandang dan longsor melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Hingga Kamis (4/12/2025), Desa Hutanabolon di Kecamatan Tukka masih berada dalam kondisi memprihatinkan dan terisolasi dari bantuan.

Wilayah ini belum sepenuhnya tersentuh logistik. Warga yang kini kehilangan rumah dan harta benda terpaksa bertahan hidup dengan apa adanya, sementara akses jalan yang rusak membuat bantuan sulit masuk.

Dina Boru Tambunan, warga Lorong Empat, menggambarkan situasi yang harus ia hadapi bersama keluarganya.

"Habis semua, Pak. Habis. Kondisi rumah habis semua, bantuan juga belum ada lagi," ujarnya saat ditemui Kompas.com di lokasi.

Dina mengisahkan bahwa setiap kebutuhan pokok harus dicari dengan berjalan kaki berjam-jam karena pasar dan bantuan tidak menjangkau tempat tinggalnya.

Saat wawancara berlangsung, ia tengah berjalan menerjang banjir bersama suami dan dua anaknya. Di tangan kanannya, sebotol bahan bakar minyak, sementara tangan kirinya memegang kantong berisi ikan yang baru dibeli.

"Ah, ndak tau lagi, Pak, entah berapa lama (jalan kaki). Dari siang lah tadi ke Tolang. Naik becak lagi ke Pandan, mengisi minyak. Mulai dari pagi, baru ini sore bisa pulang," katanya.

Keluarganya yang berjumlah tujuh orang selamat dari bencana, namun ketidakpastian masa depan membuatnya tak kuasa menyembunyikan kecemasan.

"Kan gimana lah. Kalau bagus pun nanti hari kan, ke mana kami pulang? Rumah pun ndak ada. Punya keluarga pun udah habis semua (harta benda)," ungkapnya.

Ia berharap bantuan dapat menjangkau wilayah mereka yang selama ini belum menjadi prioritas.

"Harapannya, biar apa, kalau ada bantuan Pak, diusahakan lah dulu ke Lorong Empat Hutanabolon," ujarnya.

Akses Masih Terendam Hingga 1 Meter

Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Kamis (4/12/2025), jalan penghubung antara Desa Hutanabolon dan Desa Tukka masih terendam air setinggi 70 sentimeter hingga 1 meter. Genangan mulai muncul sejak melewati jembatan di atas Sungai Sigultom menuju Desa Siburuan dan Tukka.

Kondisi ini membuat perjalanan menuju Hutanabolon sangat sulit karena semakin dalamnya banjir serta medan yang terjal.

Ribuan Warga Terdampak

Samirin Sitompul, warga lainnya, menuturkan bahwa jumlah warga terdampak mencapai lebih dari 1.000 Kepala Keluarga (KK). Namun, ia menyebut bantuan belum merata karena posko utama berada jauh dari desa terisolir.

"Makanya saya minta ke bapak itu kan, supaya satu kantong itu kasih ke saya. Nanti saya sendiri bawa ke dalam, ke Hutanabolon. Karena di sana itu belum ada, susah sekali bantuan," katanya.

Krisis Air Bersih

Selain kekurangan logistik, ancaman lain yang kini dirasakan warga adalah minimnya akses terhadap air bersih.

"Ah dari parit lah airnya, mana ada yang bersih di sana? Di sini (Desa Tukka) yang ditaruh air bersih. Di sana (Hutanabolon) enggak ada. Makanya bingung kami, masyarakat Hutanabolon," tutur Samirin.

Ia juga mengaku mengalami kerugian besar. Rumahnya hilang, bahkan tiga unit mobil hanyut tersapu banjir.

"Kerugian jangan lah dinilai lagi, banyak. Mobil tiga, rumahku sekarang tidak ada. Mobilnya tiga, hanyut," ucapnya.

Tak hanya permukiman, lahan pertanian yang menjadi sumber penghasilan warga juga habis tersapu banjir.

"Hancur. Hancur semuanya. Gagal panen, sudah tidak terhitung lah lagi itu luasnya, hilang semua pokoknya," tambahnya.

Samirin berharap pemerintah memperbaiki akses jalan serta menormalisasi sungai agar warga bisa kembali memulai hidup mereka.

"Ya harapannya, kalau bisa dibaguskan oleh pemerintah lah. Biar bisa bangun rumah lagi di situ. Itu saja," ujarnya.

Permintaan serupa juga ia sampaikan terkait kebutuhan dasar warga.

"Iya, lalu intinya ya masyarakat Hutanabolon butuh air bersih lah sekarang," katanya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang