Kisah Warga Imam Bonjol Denpasar Hadapi Banjir, Tak Bisa Tidur hingga Evakuasi Hewan

Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Kota Denpasar, Bali, sejak Selasa (24/2/2026) dini hari, memicu banjir di sejumlah titik. Peristiwa ini kembali membangkitkan trauma mendalam bagi warga, terutama mereka yang pernah terdampak banjir besar pada September 2025 silam.
Berdasarkan data di lapangan, kawasan terdampak paling parah dilaporkan terjadi di wilayah Denpasar Barat dan Denpasar Selatan, dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.
Trauma Banjir Bandang 2025
Kekhawatiran mendalam dirasakan oleh Natalia Meka, warga yang bermukim di kawasan Jalan Imam Bonjol, Denpasar Barat. Bagi Natalia, suara hujan ekstrem bukan lagi fenomena alam biasa, melainkan alarm peringatan akan bencana.
Pada banjir bandang September 2025 lalu, rumah Natalia sempat terendam air hingga ketinggian 150 cm. Dini hari tadi, meskipun air di halaman rumahnya tertahan di level 70 cm, kecemasan tetap membuatnya terjaga sepanjang malam.
"Perasaan saya khawatir, was-was, dan tidak tenang. Benar-benar tidak bisa tidur semalam," ungkap Natalia saat ditemui di kediamannya, Selasa (24/2/2026).
Pantauan di lokasi, air mulai memasuki halaman rumah warga sekitar pukul 03.30 WITA.
Natalia mengaku harus berulang kali mengecek situasi untuk memutuskan waktu evakuasi. Fokus utamanya adalah menyelamatkan belasan ekor hewan peliharaannya ke tempat yang lebih tinggi.
"Kalau ditinggal kerja pasti kepikiran rumah. Saya sampai harus menghubungi tetangga secara berkala untuk memantau situasi di sana," tambahnya.
Evakuasi 33 Warga di Jalan Gurita
Tim SAR Polda Bali saat mengevakuasi salah satu wisatawan dari vila yang terdampak banjir di Jalan Bumi Ayu, Kelurahan Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, pada Selasa (24/2/2026). KOMPAS.com/ Yohanes Valdi Seriang Ginta
Kondisi lebih ekstrem terjadi di kawasan Jalan Gurita, Denpasar. Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar bersama TNI AL harus turun tangan mengevakuasi puluhan warga yang terjebak di dalam rumah.Tercatat sebanyak 33 orang berhasil dievakuasi dari lokasi tersebut. Rincian warga yang dievakuasi meliputi:
- 15 anak-anak
- 4 bayi dan balita
- 14 orang dewasa (termasuk lansia)
Made Nana (38), salah satu warga Jalan Gurita, menceritakan detik-detik mencekam saat air mulai masuk ke kamarnya sekitar pukul 03.00 WITA.
"Tetangga saya teriak 'banjir, banjir', dan saat itu air sudah masuk kamar tapi masih datar-datar saja," tutur Made Nana.
Namun, hanya dalam waktu satu jam, air naik dengan cepat hingga setinggi lutut, dan puncaknya mencapai pinggang orang dewasa saat hari mulai terang.
Akibatnya, perabotan rumah tangga seperti kasur dan kulkas terendam air.
Banjir Terparah dalam 17 Tahun
Kesaksian serupa disampaikan oleh Yanto (32), warga Gang III Jalan Gurita. Menurutnya, air sudah mulai merangkak naik sejak pukul 01.00 WITA. Ia menyebut banjir kali ini adalah yang terparah selama hampir dua dekade ia tinggal di sana.
"Ini yang paling besar selama 17 tahun saya tinggal di sini. Air setinggi pinggang," ujar Yanto.
Meski telah berupaya mengamankan kendaraan dengan mengganjal motor menggunakan dua tumpuk batako, air tetap merendam kendaraannya.
"Motor saya juga tenggelam. Sudah saya isi batako dua tumpuk tetap kena. Dari jam tiga saya mengungsi," imbuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, genangan air di beberapa titik dilaporkan mulai surut sekitar pukul 07.00 WITA. Namun, warga tetap diimbau waspada mengingat cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di wilayah Bali.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Trauma Banjir 2025 Menghantui, Warga di Jalan Imam Bonjol Bali Ini Rela Tak Tidur Pantau Debit Air
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang