Mendagri Tito Akan Selidiki Asal Kayu Gelondongan di Banjir Sumut
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan saat ini pihaknya belum dapat memastikan sumber kayu gelondongan yang banyak ditemukan pasca-banjir di Sumatera Utara (Sumut).
Ia bakal melakukan investigasi bersama aparat di Sumatera Utara terkait asal-usul kayu gelondongan yang terbawa banjir di wilayah tersebut.
"Itu saya perlu investigasi dari aparat penegak hukum yang ada di sana. Kami enggak bisa menjawabnya dulu sekarang," ungkap Tito saat ditemui di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025), dikutip Kompas.com (1/12/2025).
Tito menambahkan bahwa ia mendengar beberapa isu yang beredar mengenai asal kayu gelondongan tersebut.
Salah satunya adalah dugaan bahwa kayu-kayu tersebut berasal dari pembalakan liar (illegal logging), sementara sebagian lagi disebut sebagai kayu lapuk yang sudah lama.
"Ada yang berkembang bahwa itu katanya illegal logging, ada juga yang itu katanya kayu yang sudah lapuk," ujar Tito menanggapi spekulasi yang beredar.
Gubernur Sumatera Utara soal Kayu Gelondongan
Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, mengatakan pihaknya juga akan melakukan pengecekan untuk memastikan apakah keberadaan kayu gelondongan itu berkaitan dengan aktivitas pembalakan liar.
Bobby menambahkan bahwa pihaknya akan mengawasi perkembangan penyelidikan terkait hal ini.
"Ya, nanti kita lihat ya," ujar Bobby saat meninjau pasokan bantuan banjir di Lanud Soewondo, Kota Medan, Kamis (27/11/2025).
Kementerian Kehutanan Telusuri Asal Kayu Gelondongan
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) turut melakukan penelusuran terkait asal-usul kayu gelondongan yang terbawa banjir di Sumatera Utara.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Dirjen Gakkum) Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menduga kayu-kayu tersebut merupakan hasil tebangan yang belum sempat diangkut, yang mungkin berasal dari pemegang hak atas tanah (PHAT) di areal penggunaan lain (APL).
"Secara visual, secara pengamatan umum sebetulnya kayu-kayu yang bekas tebangan yang sudah lapuk. Itu kami duga itu dari PHAT salah satu-satunya yang belum sempat diangkut," kata Dwi saat ditemui di kantornya pada Jumat (28/11/2025).
Dwi menambahkan bahwa Gakkum Kemenhut sering kali membongkar operasi ilegal terkait pembalakan liar di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang dilakukan melalui PHAT.
Wakil Ketua MPR RI Desak Pengusutan Pembalakan Liar
Dilansir dari Kompas.com (29/11/2025), Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, turut menyoroti temuan kayu gelondongan besar yang hanyut dalam banjir bandang di Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.
Eddy mendesak agar pemerintah segera mengusut dugaan pembalakan liar yang dapat memicu bencana alam tersebut.
"Kita sudah bicara masalah penegakan hukum. Ya, bahwa perlu adanya tindak lanjut dari permasalahan yang sekarang kita sudah lihat, adanya kayu gelondongan yang sudah sangat nyata di depan mata kita, sumbernya dari mana," ujar Eddy di Kasablanka Hall, Jakarta Selatan, Sabtu (29/11/2025).
Eddy menegaskan pentingnya penelusuran untuk memastikan apakah penebangan kayu dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Jika penebangan itu sah, maka perizinannya dapat diperiksa. Namun, jika dilakukan secara ilegal, maka pihak yang terlibat harus dihukum sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kalau itu adalah sumber legal, ya kita bisa telusuri dari perizinannya, dari kegiatan-kegiatannya yang dilakukan secara sah," ujarnya.
Eddy menambahkan bahwa penegakan hukum terhadap praktik ilegal sangat penting untuk memberikan efek jera, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan dan mencegah bencana alam yang disebabkan oleh aktivitas ilegal tersebut.
"Tetapi ternyata itu dilakukan di luar jalur hukum dan ketentuan yang berlaku, saya kira perlu ada penegakan hukum yang kuat dan konsekuen agar ada efek jeranya," tandas Eddy.
Sebagian artikel telah tayang di Kompas.com dengan judul: dan Kayu Gelondongan Hanyut di Banjir Sumatera, Pemerintah Diminta Selidiki Dugaan Pembalakan Liar.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang