Cerita Pemuda Asal Magetan Lahirkan Atlet Ski Air Berprestasi, Bermodal Papan Kayu Jati dan Tali Sapi
Kabut tipis menggantung di atas Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur pagi itu.
Airnya tenang, memantulkan siluet perahu-perahu kecil yang perlahan bergerak.
Di tepian, Rudy berdiri memandang danau tempat yang tidak hanya menjadi ruang hidupnya, tetapi juga saksi perjalanan panjang yang mengubah hidupnya.
Rudy bukan atlet sejak kecil. Ia juga bukan lulusan sekolah olahraga.
Bahkan, ia mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi pelatih ski air.
Semua bermula ketika ia pulang kampung sekitar tahun 2009 setelah bekerja di luar kota. “Waktu itu saya pulang, lihat Sarangan, lihat airnya, lihat aktivitasnya. Saya merasa ada yang hilang,” ujarnya ditemui di pinggir Telaga Sarangan Minggu (3/5/2026).
Rudy yang saat ini menjabat sebagai Manager Mojosemi Forest Park mengaku mendengar cerita dari para sesepuh bahwa Telaga Sarangan pernah menjadi tempat berkembangnya ski air sejak tahun 1960–1970-an.
Pada saat itu wisatawan asing dari Australia hingga Rusia datang, bermain ski air di Telaga Sarangan.
Dari melihat kegiatan ski air oleh wisatawan tersebut warga kemudian meniru dengan peralatan seadanya buatan mereka.
“Cerita dari orang tua dulu mereka meniru ski air dengan peralatan papan dari kayu, perahu juga sederhana. Tapi semangatnya luar biasa,” imbuhnya.
Namun seiring waktu, semuanya meredup. Tidak ada lagi kegiatan rutin ski air yang dilakukan warga.
Hanya sesekali saja warga main ski air sebagai hiburan.
Berawal dari cerita tersebut Rudy merasa sayang jika potensi itu hilang begitu saja. “Saya pikir, ini bisa dihidupkan lagi,” katanya mantap.
Dari situlah langkah kecil dimulai.
Ia mendatangi orang-orang lama, mengajak mereka berkumpul, membicarakan kemungkinan untuk olah raga ski air bangkit kembali.
Tidak ada rencana besar, hanya keinginan sederhana, menghidupkan kembali apa yang pernah ada.
Belajar dari Nol, Jatuh Bangun di Atas Air
Awal perjalanan itu penuh keterbatasan.
Sekelompok anak muda Telaga Sarangan tidak punya peralatan standar.
Tidak ada papan profesional, tidak ada sepatu khusus, bahkan tidak ada tali yang sesuai spesifikasi.
Namun Rudy dan komunitasnya tidak menyerah. Mereka mulai membuat papan sendiri dari kayu jati.
Rudy, pemuda dari Telaga Sarangan yang memiliki bakat alami di bidang ski air. Potensi Telaga Sarangan sebagai tempat latihan dan pengalaman dari generasi sebelumnya tentang ski air yang didapat dari orang Australia dan Rusia menjadi amunisi bagi Rudy untuk menlurkan atlit ski air berbakat dari kabupaten di kaki Gunung Lawu.
Untuk pengikat kaki, mereka menggunakan karet ban dalam mobil. Bahkan tali untuk menarik papan ski mereka menggunakan tali plastik untuk mengikat sapi.
Semua dibuat dengan cara coba-coba.
“Kita bikin, kita coba. Kalau tenggelam, berarti salah. Kita perbaiki lagi,” katanya sambil tersenyum mengenang masa itu.
Tidak ada teori, tidak ada pelatih. Rudy belajar dari video di internet, lalu mempraktikkannya langsung di air.
Yang mengejutkan, ia justru cepat menguasai teknik dasar.
“Sekali diajari, saya langsung bisa berdiri di papan. Dari situ saya merasa ini bisa dikembangkan,” ujarnya.
Kemampuan itu membuatnya mulai dipercaya melatih teman-temannya.
Dari sekadar mencoba, mereka mulai berlatih lebih serius. Meski tanpa jadwal baku, latihan dilakukan hampir setiap hari.
Semua dilakukan secara mandiri. Bahkan peralatan yang rusak mereka benerin sendiri.
“Kita ini serba bisa. Ada yang bikin papan, ada yang benerin mesin, semua gotong royong,” katanya.
Kebersamaan itu menjadi kekuatan utama. Mereka tidak punya fasilitas, tapi punya tekad. Mereka tidak punya pelatih profesional, tapi punya semangat belajar.
Modal Nekat ke Arena, Pulang Bawa Prestasi
Titik balik terjadi saat Rudy memutuskan membawa anak-anak Sarangan ke kejuaraan daerah di Surabaya.
Keputusan itu penuh risiko.
Mereka tidak punya pengalaman bertanding, tidak punya peralatan standar, bahkan berangkat dengan biaya sendiri.
“Kita nekat saja. Ini langkah awal,” katanya.
Sesampainya di lokasi, mereka langsung menyadari perbedaan besar.
Atlet lain datang dengan perlengkapan lengkap—papan karbon, sepatu standar internasional, hingga perahu berkecepatan tinggi.
Sementara mereka hanya membawa papan buatan sendiri. Namun saat lomba dimulai, mental mereka berbicara.
Anak-anak Sarangan tampil tanpa rasa takut. Mereka jatuh, bangkit, mencoba lagi.
Hingga akhirnya, medali pertama berhasil diraih. “Perak, lalu perunggu. Itu sudah luar biasa bagi kami,” ujar Rudy.
Prestasi itu menjadi pemicu semangat. Mereka kembali berlatih lebih giat.
Rudy mulai memahami sistem pertandingan—slalom, trick, hingga jumping. Ia mempelajarinya sambil mendampingi atlet di berbagai kejuaraan.
Hasilnya terus meningkat.
Pada kejuaraan nasional, atlet Magetan berhasil meraih medali emas dan ikut mengantarkan Jawa Timur menjadi juara umum.
“Magetan hampir berimbang dengan Surabaya. Itu kebanggaan tersendiri,” katanya.
Dari titik itu, nama Sarangan kembali dikenal.
Bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai lumbung atlet ski air.
Dari Tanpa Sertifikat, Jadi Pelatih Terbaik Jawa Timur
Prestasi atlet tidak lepas dari peran Rudy sebagai pelatih.
Meski tanpa latar belakang pendidikan formal, ia mampu membangun sistem latihan dari pengalaman dan pengamatan.
Ia tidak mengandalkan teori rumit. Ia mengandalkan praktik, ketekunan, dan pemahaman langsung di lapangan.
Ia tahu bagaimana menyesuaikan latihan dengan kondisi yang ada. “Mungkin karena kita terbiasa dengan keterbatasan, jadi lebih kreatif,” ujarnya.
Metode itu menarik perhatian. Pada 2014, tim penilai dari Jawa Timur datang langsung ke Sarangan untuk melihat proses latihan.
Mereka tidak hanya menilai hasil, tetapi juga proses. “Mereka lihat langsung kita latihan dengan alat seadanya,” katanya.
Dari situ, Rudy dinobatkan sebagai pelatih terbaik Jawa Timur.
Sebuah pencapaian yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Saya sempat kaget. Saya ini tidak punya sertifikat. Tapi mungkin mereka lihat dari kerja kerasnya,” ujarnya.
Tak hanya melatih atlet Magetan, Rudy juga mulai membantu daerah lain.
Ia melatih atlet dari Ngawi, Pamekasan, hingga daerah lain yang baru mengenal ski air.
Ia bahkan membantu membuat peralatan bagi daerah lain. “Kalau mereka butuh papan, kita bantu bikin. Karena kita tahu mahalnya alat ski air,” katanya.
Tak Hanya Sebagai Pelatih, Tapi Juga Penggerak
Namun perjalanan panjang itu tidak selalu mulus.
Setelah mencapai puncak, ski air Magetan sempat mengalami penurunan.
Beberapa atlet berhenti, regenerasi terhambat, dan dukungan belum maksimal. “Kendala utama itu fasilitas dan perhatian,” ujar Rudy.
Ia menyadari bahwa membangun dari nol memang sulit, tetapi mempertahankan jauh lebih menantang.
Tanpa sistem yang kuat, semua bisa kembali ke titik awal. Namun harapan kembali muncul.
Bibit-bibit baru mulai terlihat, salah satunya Hanan dan Nohan—dua pelajar yang baru mengenal ski air pada akhir 2025, tetapi langsung menorehkan prestasi.
“Baru latihan sekitar sebulan, terus ikut kejuaraan provinsi, nggak nyangka bisa juara tiga,” kata Hanan atau pemilik nama Kanohanan Abimanyu pelajar kelas 8 SMP N 1 Magetan tersebut.
Ia mengaku awalnya hanya ikut ajakan Rudy tanpa bayangan menjadi atlet. “Awalnya cuma diajak, ‘mau coba ski air enggak?’ Ya saya coba. Ternyata ada harapan di situ,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nohan Rembulan Rofiansyah pelajar kelas XI SMA N 1 Magetan yang tak lain kakak dari Hanan.
Ia mengaku sempat khawatir saat pertama kali bertanding. “Takut jatuh, takut enggak maksimal. Tapi kita fokus jaga keseimbangan sampai finis,” katanya.
Meski berprestasi, keduanya masih menghadapi kendala klasik, peralatan. “Masih pinjam. Kita cuma punya life jacket. Latihan juga terbatas, seminggu sekali,” ujar Hanan.
Harapan Prestasi yang Kembali Bersemi
Kini, Rudy bersama komunitasnya tengah berupaya membangun kembali fondasi ski air Magetan.
Ia mendorong pembentukan kepengurusan resmi agar pembinaan lebih terarah. “Kita butuh organisasi yang kuat. Harus ada dukungan pemerintah, KONI, dan semua stakeholder,” ujarnya.
Ia optimistis, momentum kebangkitan ini bisa dimanfaatkan, terutama menjelang Porprov 2027.“Ini saat yang tepat. Bibit sudah ada, potensi ada. Tinggal konsistensi dan dukungan,” katanya.
Bagi Rudy, ski air bukan sekadar olahraga. Ia adalah warisan, potensi wisata, sekaligus jalan prestasi bagi generasi muda.
“Ini dua sisi mata uang. Olahraga jalan, pariwisata juga hidup,” ujarnya.
Di Telaga Sarangan, riak air kini kembali membawa harapan. Dari papan kayu sederhana, mimpi besar kembali dibangun bahwa Magetan bisa kembali menjadi pusat ski air, seperti dulu.
Rudy percaya Sarangan memiliki potensi besar. Tidak hanya sebagai tempat latihan, tetapi juga sebagai pusat wisata olahraga.
“Ini wadah emas. Tinggal bagaimana kita kelola,” ujarnya.
Di tepi Telaga Sarangan, Rudy kembali berdiri.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia masih memandang air yang sama. Bedanya, kini ia membawa pengalaman, harapan, dan keyakinan yang lebih besar.
Perjalanan dari papan kayu, ban bekas dan tali sapi itu belum selesai. Di tangan Rudy, mimpi itu terus bergerak, mengalir bersama riak air Sarangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang