Analisis Ahli IPB: Gelondongan Kayu di Banjir Sumatera Diduga Kuat Akibat Pembalakan Liar
Material kayu yang terbawa arus saat banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatera pada akhir November 2025 diduga kuat merupakan hasil aktivitas manusia.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Bambang Hero Saharjo mengatakan, kondisi kayu yang terbawa sampai ke pemukiman tidak bisa dikatakan sebagai kayu lapuk atau runtuhan alami.
Ia mengaku, kasus serupa pernah ditangani beberapa tahun yang lalu di kawasan lindung Sumatera Utara.
Menurutnya, kondisi hutan yang masih sehat mempunyai struktur tajuk yang rapat dan bertingkat sehingga mampu memecah dan menahan laju air hujan.
“Walaupun ada air, dia tidak langsung ke permukaan. Dia jatuh di tajuk, pecah, kemudian sebagian mengalir melalui batang atau stem flow,” ujar Bambang dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (4/12/2025).
Pohon Tumbang Secara Alami Bukan Ancaman
Bambang menambahkan, keberadaan tumbuhan bawah dan serasah memiliki fungsi yang penting untuk menyerap air dan menjaga ekosistem hutan supaya tetap stabil.
Lapisan vegetasi yang berjenjang, mulai dari tajuk atas hingga vegetasi bawah menjadi sistem penyangga alami yang dapat menjaga keseimbangan lingkungan.
“Tuhan menciptakan ini tentu saja untuk kebaikan manusia dan lingkungannya,” ujar Bambang.
Apabila ada 1-2 pohon yang tumbang secara alami, Bambang menilai, peristiwa ini bukanlah ancaman bagi ekosistem.
“Pohon ini, ya, kalau pun tumbang, itu tidak banyak. Paling hanya satu, dua. Dan itu alami,” tutur dia.
Bambang menjelaskan, sistem perakaran pohon tua yang kuat membuat hutan tetap stabil.
Ketika satu pohon tumbang, ruang kosong yang muncul segera diisi oleh regenerasi spesies baru.
Bahaya Pembalakan Liar
Meski begitu, aktivitas pembalakan liar memasuki kawasan hutan dapat menyebabkan gangguan pada vegetasi.
Hal itu dapat menghilangkan kerapatan tajuk dan membuka celah yang menyebabkan perubahan drastis saat air mengalir dan memengaruhi kestabilan tanah.
“Pada kondisi seperti ini, ketika pembalakan liar masuk, maka celah antara tajuk semakin terbuka,” ungkapnya.
Bambang menambahkan, hilangnya fungsi tajuk menyebabkan air hujan jatuh langsung ke permukaan tanah tanpa proses pemecahan alami sehingga erosi berlangsung lebih cepat dan risiko longsor meningkat.
“Kayu-kayu besar yang ditemukan pascabencana merupakan konsekuensi dari rusaknya lapisan-lapisan vegetasi akibat aktivitas manusia tersebut,” pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang