Desa di Sumatera Berubah Jadi Sungai, Kaki Warga Kerap Tertabrak Gelondongan Kayu

Bencana banjir yang menerjang Sumatera akhir November lalu mengubah lanskap Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengungkapkan, dari ratusan desa yang terdampak bencana, beberapa dilaporkan hilang dan berubah menjadi jalur sungai akibat derasnya arus air.
“Sebagian besar wilayah yang terkena dampak adalah desa. Ada beberapa desa yang hilang karena wilayah yang tadinya permukiman kini menjadi arus utama sungai,” kata Yandri, Kamis (4/12/2025).
Dilansir dari , Jumat (5/12/2025), hingga kini pemerintah belum melakukan pemetaan topografi desa-desa yang hilang karena keterbatasan komunikasi dan kesulitan medan evakuasi.
“Jumlahnya memang ratusan yang tinggal klastering saja yang belum kita bisa lakukan berapa yang hilang, berapa yang betul-betul rusak berat, atau sedang,” kata Yandri.
Pemerintah terus lakukan pemantauan
Sejumlah bangunan rusak pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (4/12/2025). Berdasarkan data Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh pada Selasa (2/12) sebanyak 1.452.185 jiwa terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda 3.310 desa di 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh.
Yandri mengatakan, Kemendes PDTT saat ini terus melakukan pemantauan dan validasi data untuk memastikan jumlah desa yang terdampak.Namun, proses tersebut belum selesai karena masih banyak wilayah yang terputus jaringan dan terhambat komunikasi.
Yandri memastikan pemerintah pusat segera merumuskan langkah bersama kementerian dan lembaga terkait, termasuk pemerintah provinsi dan kabupaten, guna mempercepat pemulihan desa-desa yang terdampak berat.
Presiden Prabowo Subianto sendiri sudah mengarahkan untuk mengerahkan semua kekuatan kementerian dan lembaga untuk penanganan darurat dan pemulihan.
“Kementerian Desa sampai sekarang terus menggalang donasi. Dalam waktu dekat kami akan turun langsung, terutama ke desa-desa yang paling terdampak atau yang hilang,” kata dia.
Selain permukiman, sejumlah fasilitas publik tingkat desa juga dilaporkan rusak, seperti kantor desa, posyandu, dan infrastruktur dasar lainnya.
“Nah, ini terus kita validasi dan mungkin ya fasilitas itu pasti banyak yang rusak, mungkin kantor desanya atau mungkin pelayanan posyandunya dan sebagainya, dan itu menyasar pelayanan mendasar tingkat desa,” ujar dia.
Jalanan desa di Tapanuli berubah jadi sungai
Perubahan lanskap cukup parah terjadi di Desa Tukka, Kecamatan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Di wilayah itu, jalanan desa dilaporkan menjadi aliran sungai akibat banjir bandang yang menerjang.
Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi pada Kamis (4/12/2025) sore, tampak jalanan Desa Tukka masih terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 1 meter.
Dilansir dari , Kamis, banjir mulai terlihat saat memasuki jembatan yang menghubungkan Desa Siburuan dengan Desa Tukka, yang melintasi aliran Sungai Sigultom.
Tepat di area jembatan, air di aliran sungai tidak lagi terlihat, dan digantikan dengan pemandangan gelondongan kayu yang terbawa banjir.
Warga tampak bahu-membahu menggergaji kayu-kayu tersebut untuk dijadikan kayu bakar, sebagai pengganti gas yang semakin langka di kawasan tersebut.
Sungai Sigultom tampak dipenuhi gelondongan kayu di sepanjang alirannya. Hal inilah yang menyebabkan air yang seharusnya mengalir ke sungai beralih ke jalanan perkampungan, menyebabkan banjir dengan arus deras di sepanjang Jalan Kampung Rambutan, Desa Tukka.
Tepat di dalam desa, terlihat air masih menggenangi area permukiman.
Di kanan kiri jalan, tampak gunungan tanah bercampur lumpur setinggi 1 hingga 1,5 meter.
Menurut warga, banjir ini tidak hanya membawa air dan lumpur, tetapi juga batang-batang kayu yang sesekali menabrak kaki warga saat mereka berjalan di tengah air.
Arus air yang menggenangi jalanan Desa Tukka juga disertai dengan arus deras dari arah atas, yaitu dari kawasan Desa Hutanabolon, yang menciptakan pemandangan memprihatinkan, seolah sebuah desa lenyap, berubah jadi aliran sungai besar.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang