Banjir Masih Meluas di OKI, Curah Hujan Tinggi Jadi Pemicu Utama, BPBD Ingatkan Ancaman Susulan

puncak musim hujan, Banjir Masih Meluas di OKI, Curah Hujan Tinggi Jadi Pemicu Utama, BPBD Ingatkan Ancaman Susulan, Mengapa potensi banjir susulan masih tinggi?, Apa imbauan pemerintah daerah kepada masyarakat?, Bagaimana kondisi infrastruktur pengendali banjir di OKI?, Apa langkah jangka menengah dan panjang yang disiapkan?

 Banjir yang melanda Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, terus meluas seiring tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat genangan air kini merendam enam kecamatan dan berpotensi bertambah karena wilayah tersebut masih berada pada puncak musim hujan.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan, Sudirman, menjelaskan bahwa hingga Senin (19/1/2026) terdapat enam kecamatan yang terdampak banjir. Keenam kecamatan tersebut meliputi Air Sugihan, Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji, Kayu Agung, dan Pedamaran.

“Khusus di Kecamatan Kayu Agung, banjir terjadi di Kelurahan Jua-jua dan Kedaton. Sedangkan di Kecamatan Pedamaran, banjir merendam enam desa yakni Menang Raya, Cinta Jaya, Pedamaran II, Pedamaran III, Pedamaran IV, dan Pedamaran V,” kata Sudirman dikutip dari Antara.

Genangan air di sejumlah wilayah tersebut mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari akses transportasi hingga kegiatan ekonomi dan pendidikan.

Sebagian warga terpaksa membatasi aktivitas di luar rumah karena ketinggian air yang masih cukup signifikan di beberapa titik.

Mengapa potensi banjir susulan masih tinggi?

BPBD Sumsel mengingatkan bahwa potensi banjir susulan masih cukup tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh curah hujan yang masih intens serta karakteristik wilayah OKI yang merupakan daerah rawan bencana hidrometeorologi.

“Saat ini masih puncak musim hujan, sehingga masyarakat di daerah rawan diminta tetap waspada terhadap potensi banjir yang dapat meluas,” ujar Sudirman.

Wilayah OKI dikenal memiliki banyak aliran sungai, rawa, dan kanal yang mudah meluap ketika debit air meningkat.

Kondisi tersebut diperparah dengan sedimentasi dan pendangkalan sungai yang menghambat aliran air menuju hilir.

Apa imbauan pemerintah daerah kepada masyarakat?

Bupati OKI Muchendi Mahzareki turut mengingatkan masyarakat agar tetap siaga menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.

Ia menilai, meskipun di beberapa lokasi air mulai surut, potensi banjir masih perlu diantisipasi.

“Meski di beberapa lokasi air mulai surut, masyarakat tetap harus waspada. Antisipasi dan mitigasi perlu dilakukan bersama-sama,” ujar Muchendi.

Pemerintah daerah mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang bermukim di bantaran sungai dan wilayah rawa. Warga juga diminta segera melapor jika terjadi kenaikan debit air secara signifikan.

Bagaimana kondisi infrastruktur pengendali banjir di OKI?

Dalam upaya penanganan banjir, Bupati Muchendi bersama jajaran terkait telah meninjau langsung sejumlah pintu air di wilayah OKI.

Dari hasil peninjauan tersebut, ditemukan empat pintu air yang tidak berfungsi optimal akibat kerusakan dan pendangkalan sungai.

“Tadi kita cek bersama, ada empat titik yang perlu diperbaiki. Untuk jalur 27 dan 29 akan ditangani PT BAP, sedangkan sisanya akan ditangani oleh pemerintah daerah,” jelasnya.

Kerusakan dan tidak optimalnya fungsi pintu air tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memperparah genangan di wilayah terdampak banjir.

Apa langkah jangka menengah dan panjang yang disiapkan?

Selain perbaikan pintu air, Pemerintah Kabupaten OKI menegaskan pentingnya normalisasi kanal dan sungai sebagai solusi jangka menengah dan panjang dalam penanganan banjir.

“Kita perlu normalisasi sungai dengan melibatkan berbagai pihak. Penanganan banjir harus dilakukan secara kolaboratif dan tidak hanya mengandalkan APBD,” kata Muchendi.

Normalisasi sungai diharapkan dapat meningkatkan kapasitas aliran air, mengurangi sedimentasi, serta menekan risiko banjir berulang di musim hujan mendatang.

Pemerintah daerah juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta dan pemerintah pusat untuk mendukung upaya tersebut.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang