Bukan Dianiaya, Siswi SD di Palembang yang Mata Merah Ternyata Positif Pertusis

pertusis, mata merah, mata lebam, siswi SD, Pertusis, mata lebam siswa palembang, Bukan Dianiaya, Siswi SD di Palembang yang Mata Merah Ternyata Positif Pertusis

Satreskrim Polrestabes Palembang mengungkap hasil visum terhadap FT (7), siswi SD Negeri 150, yang sempat mengalami mata merah.

Dari pemeriksaan medis, diketahui bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh batuk rejan atau pertusis, bukan kekerasan fisik.

“Kami sudah mendapatkan hasil dari visum et repertum yang menunjukkan bahwasanya pada sekitar mata tidak ditemukan adanya tanda-tanda (kekerasan) benda tumpul, benda tajam, goresan, yang menyebabkan mata merah pada korban tersebut,” ujar Kapolrestabes Palembang, Kombes Pol Harryo Sugihhartono, kepada wartawan, Senin (10/11/2025).

Dari hasil pemeriksaan, saksi-saksi dari pihak sekolah, termasuk guru, juga tidak menemukan indikasi kekerasan terhadap FT. Sebelumnya, sejak 27 Oktober 2025, FT sempat mengalami batuk rejan di puskesmas setempat, yang awalnya menimbulkan bintik merah di sekitar mata. Lama-kelamaan, mata korban makin memerah dan lebam.

“Dokter sudah menjelaskan korban mengalami gejala (batuk) pertusis, peradangan pada mata, semakin menjalar ke mata korban dalam kondisi batuk. Korban sudah dilakukan observasi di rumah sakit. Kami juga mengambil informasi keterangan baik dari teman di sekolah, kemudian guru yang pertama kali mengajar dan terakhir mengajar, yang notabenenya pada saat belajar tidak ada cerita adanya kekerasan maupun pemukulan,” kata Harryo.

FT sebelumnya dirawat di RSUD Bari Palembang dan telah pulang ke rumah pada Sabtu (8/11/2025) setelah kondisinya membaik. Menyusul hasil pemeriksaan yang tidak menemukan tindak pidana, polisi resmi menghentikan laporan dari Sukrisnawati alias Erna (40), ibu kandung FT.

“Karena ternyata tidak ditemukan tindak pidana, otomatis kami hentikan penyidikan yang ada,” jelas Kapolrestabes.

Sebelumnya, Erna melaporkan dugaan kekerasan terhadap anaknya ke Polrestabes Palembang. Ia mengaku mendapat informasi dari salah satu guru bahwa FT dianiaya oleh seorang guru perempuan yang mengenakan cincin. Kondisi mata lebam FT menjadi perhatian meski korban enggan bercerita.

“Saya tanya memang ke teman-temannya, mereka mengaku tidak ada yang memukul. Lalu, saya tanya kembali kepada salah satu guru, ternyata benar anak saya sudah dipukuli seorang guru perempuan yang menggunakan cincin,” kata Erna saat membuat laporan pada 27 November 2025.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.