Apa Itu Pertusis? Ini Penjelasan Lengkap dan Kasus Mata Merah Siswi SD Palembang

Palembang, batuk rejan, palembang, mata merah, mata lebam siswa palembang, apa itu pertusis, Apa Itu Pertusis? Ini Penjelasan Lengkap dan Kasus Mata Merah Siswi SD Palembang

Mata merah dan memar yang dialami FT (7), siswi SD Negeri 150 Palembang, ternyata bukan akibat kekerasan. Hasil visum dan pemeriksaan medis menunjukkan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh pertusis atau batuk rejan, infeksi saluran pernapasan yang bisa menimbulkan peradangan hingga ke mata.

Polisi resmi menghentikan laporan yang diajukan Sukrisnawati alias Erna (40), ibu FT, karena tidak ditemukan unsur pidana.

“Kita semula mendalami penyelidikan laporan dari orangtua korban guna menemukan peristiwa yang terjadi. Ternyata tidak ditemukan tindak pidana, sehingga kami hentikan penyidikan yang ada," ujar Kapolrestabes Palembang, Kombes Pol Harryo Sugihhartono, Senin (10/11/2025).

“Dokter sudah menjelaskan bahwa korban mengalami gejala pertusis, peradangan pernapasan yang menjalar pada mata,” tambahnya. FT sebelumnya sempat dirawat di RSUD Bari Palembang dan telah kembali ke rumah pada Sabtu (8/11/2025) setelah kondisinya membaik.

Apa Itu Pertusis?

Pertusis, atau batuk rejan, adalah infeksi saluran pernapasan atas yang sangat menular dan dapat menyerang semua usia, terutama bayi dan anak-anak. Gejala awal pertusis sering mirip flu biasa, tetapi setelah satu atau dua minggu, batuk terus-menerus bisa berkembang dalam bentuk paroksisma—batuk hebat yang menyulitkan penderitanya makan, bernapas, atau tidur.

Menurut Cleveland Clinic, penderita pertusis bisa mengeluarkan suara “whoop” tinggi saat menarik napas setelah batuk. Pada bayi, gejala bisa muncul tanpa batuk tetapi tetap menimbulkan kesulitan bernapas. Karena durasinya yang lama, pertusis juga dikenal sebagai “batuk 100 hari”, dengan gejala yang dapat berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum sembuh.

Kasus Siswi SD Palembang

Kasus FT menjadi sorotan publik setelah mata anak itu memerah dan lebam setelah pulang sekolah. Ibu FT sempat menduga adanya penganiayaan, tetapi hasil pemeriksaan medis dan visum menunjukkan bahwa kondisi itu merupakan gejala pertusis.

“Kami juga mengambil informasi dari teman-temannya di sekolah dan guru yang mengajar. Tidak ada cerita tentang kekerasan maupun pemukulan,” jelas Harryo.

Meski kasus ini sempat viral dan memengaruhi citra SD Negeri 150 Palembang, sejauh ini pihak sekolah belum mengajukan laporan atau pengaduan terkait dampak negatif dari isu tersebut.

“Pihak sekolah saat ini tidak ada yang membuat laporan. Polisi dalam perkara ini netral, tidak berpihak kepada korban maupun sekolah. Namun, pihak sekolah yang tidak diuntungkan dalam situasi ini juga tidak mengajukan pengaduan balik,” ujar Harryo.

Kapolrestabes juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam menyebarkan informasi di media sosial, karena berita yang belum diverifikasi dapat berdampak pada reputasi sekolah maupun individu yang terlibat.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.