Pulang dari Palembang, Sariman Kaget Desanya Rata Tanah dan Anak Istri Jadi Korban Longsor Cilacap

— Raut letih itu tampak jelas di wajah Sariman (48). Duduk di bawah rindang pohon dekat lokasi longsor Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Cilacap, ia memandang kosong ke arah petugas SAR yang terus bekerja mencari korban.
Setiap kabar ditemukannya jenazah membuat dadanya bergetar. Di timbunan tanah itulah, ia menunggu kabar tentang istri dan dua anaknya yang hingga kini belum ditemukan.
“Kalau dengar kabar ada yang ditemukan, hati saya langsung bergetar. Rasanya kemroso banget. Saya berdoa semoga yang ditemukan itu istri dan dua anak saya,” ucap Sariman terbata-bata, Minggu (16/11/2025), dkutip dari jatengprov.go.id.
Longsor yang terjadi pada Kamis (13/11/2025) malam, dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Desa Cibeunying.
Bencana itu merenggut sedikitnya 16 korban jiwa. Hingga Senin (17/11/2025), tujuh orang masih dinyatakan hilang, termasuk keluarga Sariman.
Jadi Buruh Bangunan di Palembang
Dua tahun terakhir, Sariman hidup jauh dari keluarga. Ia merantau ke Palembang, bekerja sebagai buruh bangunan untuk menghidupi istri dan dua anaknya, Fani dan Fatin.
“Saya ditelepon keponakan, disuruh segera pulang ke desa. Dikabari kalau di desa sedang kena musibah longsor,” ujarnya.
Malam itu, tanpa pikir panjang, ia menempuh perjalanan panjang dari Palembang menuju Cilacap.
Begitu tiba pada Jumat (14/11/2025) pukul 02.30 WIB, tubuhnya seketika lemas. Desa Cibeunying, tempat ia membesarkan keluarga telah rata dengan tanah.
Ketua RT setempat memberi kabar terburuk yakni istrinya, Nina, dan dua anaknya termasuk dalam daftar hilang.
Rumahnya tak lagi ada. Keluarganya belum ditemukan. Sariman hanya bisa terduduk, menangis, memanggil nama orang-orang yang dicintainya itu.
BNPB: 106 Warga Mengungsi, 16 Meninggal Dunia
Proses pencarian korban bencana longsor di Desa Cibeunying Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap, Sabtu (15/11/2025).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut longsor menerjang dua dusun sekaligus, yakni Dusun Cibuyut dan Dusun Tarukahan. Sebanyak 106 warga terpaksa mengungsi, sebagian di Balai Desa Cibeunying dan sebagian lainnya di MTS SS Cibeunying.Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan operasi pencarian telah memasuki hari kelima.
“Tiga jenazah ditemukan pada Senin (17/11/2025). Total korban meninggal dunia menjadi 16 orang. Tujuh lainnya masih hilang,” kata Aam.
Pencarian dilakukan sejak pukul 07.00 WIB menggunakan bantuan dua alat berat dari Dinas PU Kabupaten Cilacap dan Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah.
Selain korban jiwa, tercatat 16 rumah rusak berat, serta 16 unit rumah lainnya terancam gerakan tanah.
Kepala Dusun Tarukahan menuturkan, hujan deras sejak sore memicu longsor besar dari arah perbukitan.
“Suara gemuruh terdengar cukup keras. Warga sempat keluar rumah untuk menyelamatkan diri,” ujarnya.
Material tanah dan kayu langsung menghantam permukiman di lereng bukit.
“Banyak rumah tertutup material tanah dan kayu, waktu itu kondisi masih gelap,” katanya.
Dari laporan awal, sedikitnya 20 warga sempat dinyatakan hilang. Satu warga, Dislam, ditemukan selamat, namun cucunya, Julia (20), ditemukan meninggal dunia.
Gubernur Jateng Peluk Sariman: Bapak Harus Kuat
Di tengah kabut duka, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi datang memberikan dukungan moral kepada para keluarga korban. Ketika bertemu Sariman, ia memeluknya erat.
“Yang sabar ya. Bapak harus kuat. Kita akan bantu mencari sampai ketemu. Semoga istri dan anak Bapak segera ditemukan,” kata Luthfi lirih.
Pelukan itu membuat Sariman tak kuasa menahan tangis. Banyak warga lain ikut menangis saat mendengar ucapan belasungkawa dari Gubernur.
“Kami mengucapkan duka mendalam atas musibah ini. Semoga para korban segera ditemukan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemkab Cilacap menyiapkan lokasi relokasi, termasuk rencana pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak.
Sejak hari pertama tiba di lokasi, Sariman tak beranjak jauh dari area evakuasi.
“Saya selalu berdoa setiap waktu. Dari pagi sampai pencarian selesai, saya menunggu di sini,” katanya.
Setiap gundukan tanah digali, setiap jenazah ditemukan, ia berharap ada kabar tentang Nina, Fani, dan Fatin.
Namun hingga Senin siang, harapan itu masih tertahan di antara puing-puing tanah dan batang pohon yang tumbang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.